Ini Bukan Sebuah Akhir
Hidup ini terlalu ngasih banyak surprise kadang, yang tidak semuanya menyenangkan. tepat pada 23 Juli, 2009 aku ujian skripsi, kabar yang cukup mengejutkan aku terima siang, setelah ujian masih belum kurampungkan. Mbak Yuku, Husnul Khotimah pingsan dalam proses kelahiran bayi ketiganya. Aku ga konsen sudah. Rasanya, feelingku benar-benar bermain, akan terjadi sesuatu dalam keluarga kami.
Malem itu juga, mesKipun masih sempet ngopi bareng temen, tapi pikiran ini sudah mengawang kemana-mana. Tidak mungkin tidak akan terjadi sesuatu. Tuhan sungguh melancarkan benar perjalanan hidup keluarga kami. Da benarlah..
Sabtu sore, tepat setengah empat ketika aku nyampe rumah sakit sialan itu, kusaksikan mbakyuku, sudah dalam kondisi yang kian menguatkan kekhawatiranku. God, bener-bener menyedihkan. Tubuh kakakku bengkak, dia menyalamiku, aku langsung menangis. Bayangan terburuk sudah melayang dalam pikirku. Inilah jawaban semuanya. Semua yang aku takutkan, meski belum pernah aku bayangkan.
Kakakku pergi, meski tidak di rumah sakit keparat itu. Ada kehampaan luar biasa. Dia adalah segalanya bagiku, meskipun secara fisik, aku memang tidak terlalu sering bertemu. Hanya sesekali, ketika libur kuliahku. Tapi, kedekatan ini terasa sangat. Segala yang terjadi padaku tidak pernah luput dari pengetahuannya. Apapun yang sedang aku alami, tidak pernah menjadi bagianku sendiri. Aku selalu berbagi, dengan kakakku.
Dia lebih dari seorang kakak. Dia adalah guru, konsultan, spiritualis. Aku sangat mengagumi dia, manusia paling sempurna yang pernah aku tahu.
Hampa sekali ditinggalkannya. Kebahagiaanku kuranglah sempurna. dan kesedihan ini kian hari kian terasa. Konsultanku telah pergi, Koki keluarga kami telah dipanggilNYa kembali.
tepat dua minggu setelah kakakku dikuburkan. Aku menangis sepanjang hari, entah. Kepergian itu, belum siap kami jalani..
Sedikit tentang Jurusanku
Beneran gile nih, keasyikan Facebooking jadi males bener mau posting. Tapi gapapalah, demi sebuah janji pada sesorang yang mau aja aku komporin.
Hallo Ika, walau belum bersua, semoga kamu ga kecewa ya pas baca ini?
Oke, dengan segala ketulusan, aku emang pengen bener menuliskan semua hal tentang kuliahku, lebih khusus lagi tentang jurusanku, Ilmu Kesejahteraan Sosial. Sebenarnya dari dulu, ketika Mbak Iparku, Lode, ngasih saran yang lumayan penting buatku untuk posting all about jurusanku sebagai media promosi yang paling yahud, juga untuk mengikis ketidak percayaan diriku atas jurusan yang aku pilih ini, aku sudah pengen banget posting tentang semuanya. Kata-kata Lode yang paling aku inget waktu itu “Posting aja tentang jurusanmu Tum, biar orang tuh kalo mau nyari tentang Ilmu Kesejahteraan Sosial udah langsung akses ke blogmu,” thats good idea, meski baru terlaksanan jauh-jauh hari setelah dia usulkan.
Tengkiu juga buat Ika, yang secara langsung telah menjadi pengingatku untuk posting tentang ini. Well, Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS), yang menjadi salah satu pilihan program dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM merupakan jurusan paling tua di UMM, jurusan ini pada mulanya adalah salah satu Fakultas di UMM, meskipun pada perkembangannya kemudian menjadi salah satu program jurusan.
Banyak sekali hal yang aku dapat dari jurusan ini, yang kian lama kian mengasikkan bagiku, paling tidak ini dari perspektifku sebagai mahasiswa yang sudah hampir lulus -idealnya tinggal satu semester lagi nih-
Semula, aku memang sangat tidak PD pas Penerimaan Mahasiswa Baru (Pesmaba) pada angkatan 2005 lalu, aku hanya mendapati sekitar 17 mahasiswa yang satu jurusan denganku, sangat jauh beda dengan keempat jurusan lain yang mahasiswanya lebih dari seratus jumlahnya. Ada jurusan Ilmu Komunikasi (Ikom), Hubungan Internasional (HI), Ilmu Pemerintahan (IP) dan Sosiologi Industri (Sosind). Sedangkan jurusanku, IKS hanya mampu menyerap 17 mahasiswa, yang pada waktu itu juga tidak semuanya ikut Pesmaba.
Otomatis, sejak saat itu, aku meragukan jurusan yang sudah menjadi pilihanku ini. Aku gamang bukan kepalang, ada apa dengan jurusan ini? Tidakkah ini merupakan bentuk kegagalan luar biasa sebuah jurusan yang seharusnya mampu menampung mahasiswa lebih dari seratus banyaknya? Angkatan 2005, yang notabene adalah angkatanku, merupakan cambuk paling menyakitkan bagi jurusan, angkatan dua tahun di atasku masih cukup mengibarkan bendera kejayaan Kesos sebagai jurusan yang layak diperhitungkan.
Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) yang kemudian disingkat dengan Kesos, bagiku adalah ilmu yang sangat asik, meskipun prospek lulusan ilmu ini juga tidak jelas. Semasa awal kuliah, aku sempet menyesal benar dengan pilihanku ini. Lebih-lebih ketika aku bertanya pada salah satu dosen tentang prospek kerja sarjana lulusan ilmu ini, banyak dari mereka yang bilang prospek kerja sarjana Kesos adalah Dinas Sosial, Panti Asuhan dan tempat Pusat Rehabilitasi Narkoba, sungguh tak terbayang.
Untunglah hal itu tidak semata benar, ternyata prospek kerja sarjana IKS memang tidak terbatas pada yang dicontohkan dosenku, justru itu adalah paradigma lama. Ilmu Kesos yang sebenarnya sangat aplikatif, di dalamnya mengajarkan banyak sisi altruis manusia yangsangat menggugah. Haha..
Sorri nih Ika kalo curhatku kepanjangan, tetapi emang bener, ketika kamu menyatakan berminat dengan jurusanku, aku kian bergairah memaparkan segala kekurangannya, biar Ika bisa lebih mikir, apa dan bagaimana langkah yang harus dipersiapkan untuk memilih IKS sebagai jurusan kuliah yang patut dipertimbangkan.
Ada banyak hal yang pengen aku bagi seh sebenere Ika, tapi ntar kamu keburu bosan. Yang jelas, inti dari semuanya, aku bangga dengan jurusanku. Aku belajar banyak hal, bagaimana kita harus selalu bisa menghargai kehidupan makhluk sosial yang lain, sekalipun dia jauh banget berbeda dengan orang-orang yang dianggap normal sekalipun.
Lebih membanggakan lagi, setauku nih, ada banyak lowongan beasiswa kuliah ke luar negeri lo buat para Social Worker. Mungkin ini aja Ika, kalo mau tau lebih tentang IKS, kamu bisa buka di google, cari aja all about jurusan ini. Buanyak banget infonya. Yang jelas, gak ada versi kaya punyaku. Haha..
Lagi- Komputerku -Lagi
Leganya bisa pake komputerku lagi. Sebagai hadiah dari brother ketika itu, sampai saat ini komputerku sudah cukup menguras kantong tipisku. Mulai dari ganti power supply, beli memory, nambah hardisk, ganti casing, sampai hari ini ganti keyboard. Gila bo’! selalu ada saja. Mungkin bener kata temen-temen kos, komputer ini akan selalu error kalo aku gak juga nraktir mereka sebagai bentuk syukurku karena dapat hadiah komputer ini dari brother sekitar berapa tahun lalu ya?Lupa aku..
Tapi kalo menurut analisaku seh, komputer ini emang sengaja marah ma aku, pasalnya aku hanya janji melulu tanpa bukti yang memuaskan komputer ini sebagai partner hidupku. Ya, berulang kali aku berjanji padanya bahwa aku akan bisa terus menulis, entah untuk media massa maupun karya ilmiah gitu. Tapi sampe saat ini, glodagk! Gak da satupun karya yang memuaskan komputer ini, terutama juga aku. Sebenarnya gimana ya, aku sudah berusaha juga seh semampuku, mulai nulis artikel yang aku kerjain asal, sampe yang bener-bener gak bisa tidur siang malam. Nyatanya sampe sekarang cuman satu tulisan aja yang bisa aku nikmati di media massa, itupun di citizen journalismenya Surya. Yah, semua tulisan bisa dimuat kali di sana.
Aku jadi inget resolusiku setahun lalu, ketika semua temen kos merayakan hiruk pikuk tahun baru keluar dengan pasangan masing-masing, aku cuman di kosan dengan segala niat menumpah ruahkan segenap perasaan pada komputerku semata. Jelas-jelas aku tulis, kalo dalam setahun ini aku bakal bikin novel remaja. Yah kisah cinta nyinyir gitulah. Pada dasarnya aku gak begitu peduli seh itu termasuk cerita kacangan, roman picisan or whatever, yang penting aku bisa nulis, itu aja. Tapi pret! Sudah setahun berlalu, hanya ada dua halaman yang sudah aku kasih folder tersendiri sebagai cerpen or novelku. Garing, semua pikiran tentang kisah cinta slompret dan perjuangan hidup sampe SMA ku hanya ngendon dalam pikiran, tak juga mengalir seperti yang aku inginkan.
Bilapun sesekali dapat mengenang segala kemanisan moment itu, ujung-ujungnya aku kembali nganga, terkenang pada kisah cinta taik yang lumayan menguras air mata pada akhirnya.
Ketika itu betapa manisnya, satu-satunya cowok paling keren di sekolahku, dengan dandanan ala Chesternya LP, piercing di lidah, hidung dan dagu terbelahnya, rambut jabrik yang selalu menyembul ketika dia berbasket ria di lapangan sempit SMUku. Dengan kata-kata nan membius hati dia bilang padaku suatu hari, aku adalah anjing tampanmu yang tidak akan pernah berhenti mengagumimu,aku mencintai semua keunikanmu. Tidak pernah ada yang bilang kamu cantik, tapi bagiku pesonamu mengalahkan ratu paling cantik di dunia sekalipun. Hanya dengan tawamu aku merasa segala kesedihanku akan melebur menjadi kebahagiaan yang tidak akan terbeli oleh apapun!
Mual rasanya kalo inget kata-kata itu lagi. Shit! Perempuan sekumuh aku kenapa harus ada juga yang sudi ngegombalin? Apa untungnya coba? Kalo ngegombal sama Luna Maya gitu kan lumayan keren, lebih keren lagi kalo dia bisa jinakin Jessica Alba. Haha..
Apalagi ya tentang komputer ini, mungkin lebih ke niat dan prioritasku saat ini kali ya? Aku pengen segera ngrampungin skripsi, ngerjain dengan serius, sakral dan penuh perjuangan. Tapi sebelum itu, proyek tulisanku juga mesti cepet-cepet kelar, kali aja ntar tulisan duet maut MCW dengan AJI Malang bisa menjadi panduan yang layak diperhitungkan bagi semua kalangan. Amin..
So, gak ada alasan lain selain ngerjain semuanya cepet-cepet. Skripsi harus kelar dalam hitungan tiga bulan, ato kalo bisa kayak Buntel, harusnya kelar satu bulan. Sementara tulisan dengan AJI, aku gak boleh tunda-tunda lagi.
Begadang Lagi
Untuk kali keberapa ini ya, aku kembali nyoba begadang di warnet. Pengennya seh segera kelarin tugas UAS yang masih tersisa. Setalah itu, aku bisa bernafas agak lega untuk fokus mikir skripsi, yang mau tidak mau harus aku tuntaskan dalam sisa waktu batas akhir beasiswaku. Mikir skripsi, aku pengen ngerjain dengan serius dan total tal! kali ini yang sudah agak mantep di kepala sih, analisis ketidak adilan gender terhadap pekerja perempuan kepala keluarga di dusunku. Meski kemarin ada dosen yang bilang, ga papa aku kerjain yang gampang, semisal tentang penanggulangan korupsi dari perspektif Relawan Anti Korupsi di MCW, biar sambil menyelam minum susu gitulah pertimbangannya. tertarik juga seh, tapi lebih tertarik lagi buat meneliti all about gender, selain ada misi tersendiri untuk mengenalkan kampung terpencilku pada khalayak ramai.
Gak terasa kuliah kok tinggal selangkah lagi, perasaan baru kemarin mikir bisa sampe lulus ga ya kuliahku. Ternyata tinggal selangkah lagi sekarang. Well, sebelum benar-benar dihadapkan pada dosen pembimbing, saat ini aku juga sudah mulai mikir langkah hidup selanjutnya setelah kuliah ini. Aku selalu berdo’a dengan segenap jiwa, semoga keputusan untuk bergabung di MCW adalah salah satu penentu langkah hidupku jauh ke depan. Tidak hanya untuk saat ini saja.
Melakukan riset, menulis dan memperbanyak jejaring LSM adalah salah satu impian setelah aku tahu prospek kuliahku yang tidak lazim itu:) dan kini setelah semua itu menjadi rutinitasku di MCW aku sangat menikmati benar. Satu ganjalan nyata adalah kegelisahanku tentang materi or finansial. Yah, untuk LSM seideal MCW, aku tidak bisa mengharap lebih selain ganti transport semata, itu pun jika aku ngantor. Kalo nggak, sama aja aku makan gaji buta. Ada rasa bersalah, rasa malu yang tidak bisa disembunyikan kalau mau nyoba berbohong tentang penggunaan duit atau fasilitas lain yang agak sedikit menyimpang.
Untuk saat ini aku harus yakin, toh memang hanya itu modal hidupku sampe saat ini, bahwa aku pasti bisa “jadi orang” kalo mau serius di MCW, memang tidak bisa mengharap banyak kucuran dana kelayakan dari sana, tapi aku harus pelajari banyak hal lain yang tidak hanya bisa dihitung dengan kalkulasi materi semata. Aku harus percaya.
Mungkin serupa dengan keyakinan bu Muslimah ketika mengajar para murid Laskar Pelanginya, atau sama halnya dengan Muhammad Yunus yang mengawali grameen banknya. Yayaya, tidak semua kesuksesan hidup manusia harus dicapai dengan ambisi dan kekuasaan saja kan? Justru semua akan lebih bermakna kalau kita melakukannya dengan penuh perjuangan, spirit dan keyakinan yang tidak boleh terlepas sedikitpun dari kalbu manusia.
Resolusi Tahun Ini
Tahun ini aku harus wisuda, tetep nyari jaringan LSM, nerbitin buku:) Amin..
Makin Ngiler Jadi Wartawan
Nyaris tidak ada hal baru dari Diklat Jurnalistik yang digelar Kompas bersama UMM kemarin (15-18/12). Materi tentang feature, straight news dan yang lain sudah pernah aku dapat ketika ikut diklat bestari beberapa tahun lalu. Sampai detik ini toh aku masih belum begitu faham bedanya straight news, hard news atau soft news. Aku masih sering kelimpungan, sebenarnya tulisanku termasuk jenis berita yang mana :-Q
Dari segi pembicara, yang terdiri dari senior Kompas, mulai dari Marx Margono, F.A. Santoso, Nur Tjahyo, dan Suprihadi yang lebih populer dipanggil Sanchuk, jelas tidak meragukan kapabilitas mereka sebagai senior yang patut digali luar dalam pengalaman jurnalistiknya. Memang gak rugi seh ngumpul bareng mereka selama empat hari. Rasanya justru kurang lama.
Di antara keempat pemateri, pak Nur Tjahyo termasuk Senior Kompas yang paling tua, usianya kalo ga salah sekitar tujuh puluhan. Setelah Pak Nur, Pak Marx Margono menduduki peringkat kedua. Baru Pak F.A Santoso, dan Pak Sanchuk menyususl berikutnya. Hal paling menarik bagiku dari pengakuan masing-masing mereka adalah kecelakaan yang harus mereka terima. What? Hampir dari semuanya mengaku jika menjadi wartawan Kompas bermula dari kecelakaan yang tidak pernah disengaja.
Pak Nur Tjahyo misalnya, ia mengawali karier sebagai karyawan di salah satu perusahaan di Surabaya, kurang begitu jelas aku denger penjelasannya seputar perusahaan yang dia bilang. Hanya saja, cukup menarik karena menurutnya gaji di perusahaan itu lebih dari cukup ketimbang gajinya di Kompas. Its really? Bukan hanya Nur Tjahyo, ketiga senior yang lain turut menimpali. Sama-sama merakan celaka yang berbuah surga J
Salah satu peserta dengan jujur menanyakan apa kiat mereka bisa bertahan dalam kecelakaan yang jelas butuh perjuangan panjang untuk menerimanya. Sayang, jawaban mereka kurang detail. Cukup banyak sih hal yang bagiku memang patut disayangkan dari diklat kemarin. Salah satunya alokasi waktu yang kurang terkontrol, penyampaian materi yang cukup monoton, dan pelibatan panitia yang sekaligus menjadi peserta, jadi pemenang lomba pula. Hm..
Hal yang paling membekas dalam benak diriku dari diklat kemarin itu, orang-orang Kompas sangat low profile, tampak juga kesolidan tim kompas yang luar biasa. Buktinya, Pak Marx Margono sempat bercerita jumlah wartawan kompas dari Lamongan, yang dia sebut dengan bangga adalah Mas Faiq, gak begitu kenal juga seh sebenarnya aku, cuman beberapa kali pernah ketemu di rumah. Hampir tiap Idul Fitri dia bersilaturrahim ke Chorek. Emang hebat seh dia, sebelum jadi wartawan Kompas, sering aku liat tulisannya di beberapa media.
Menurut Pak Marx, selain Mas Faiq, masih ada dua wartawan kompas lain yang juga berasal dari Lamongan, hanya saja mereka lupa. Keliatan kan, Mas Faiq ngalahin dua temennya yang lain di hati senior Kompas yang ngasih materi diklat (Hehe, ngarep banget nih dapat tempat di hati Mas Faiq yang sudah beristri ituJ)
Masih ada juga lecutan semangat yang aku garis bawahi benar dari Diklat kemarin, Rektorku dalam sambutan pembukanya dengan berapi-api mengatakan, paling bagus mengawali karier adalah dengan menjadi wartawan or jurnalis. Jika sudah menjadi jurnalis, siapapun bisa menjadi apa saja, begitu dia bilang. Alasan yang dia katakan, karena wartawan adalah professional yang sudah biasa menantang banyak hal, menantang waktu, mengasah otak mengantisipasi deadline, berpikir mendapat narasumber. Istilah yang dia pake kemarin, wartawan itu terdidik benar untuk menjadi disiplin, otaknya pun sistematis. Kalo gak gitu, berarti dia bukan wartawan yang benar. Akan lebih baik kalo setiap professional mempunyai sense of jurnalisme, karena itu menandakan dia seorang yang tidak mudah percaya, selalu berusaha mencari kebenaran. Benarkah? Satu yang pasti, aku makin ngiler jadi wartawan, Kompas tentunya! (Ngarep..)
Apalagi ya? Mungkin salut aja deh buat Kompas, yang sampai saat ini memang paling tinggi oplahnya (bener gak sih?), tetapi masih punya kepedulian terhadap mahasiswa dengan diklat jurnalistiknya, meskipun setelah tulisan SMA ku dulu belum pernah lagi aku bisa meloloskan tulisanku ke sana, tapi Kompas memang bukan sekadar bacaan sekali buang bagiku. Dia bisa jadi bahan referensi yang sangat menguntungkan. Banyak tulisan yang aku kutip dari opini setiap penulis yang menarik, aku paling suka tulisan Gede Parma.
Di tengah ingar bingar dunia yang makin crowded ini menurutku paling damai setelah baca tulisan dia, sejuk, tenang, mencerdaskan dan penuh tebar kedamaian. Kapan yah tulisanku juga bisa menjadi referensi bagi orang? Pengen banget lolos di Kompas lagi, pengen, pengen banget!
Mujahid di Mata Emakku
Ini oleh-oleh mudikku kemarin, aku kaget bukan main ketika salah satu Kakak perempuanku dengan amat sangat antusias memperlihatkan cd tayangan proses penguburan Amrozi bersaudara. Bukan apa-apa, aku memang sengaja menghindari berita seputar ketiga orang itu. Malas aku mengikuti perkembangan beritanya sejak menjelang eksekusinya. Gak tau kenapa. Maka demi menghormati semangat Kakakku, aku pun bersedia menonton tayangan dengan durasi hampir satu jam itu. Tidak hanya proses penguburan, tayangan video itu juga berisi rekaman Mukhlas ketika menyampaikan wasiatnya, juga ada Imam Samudera ketika diwawancarai beberapa jurnalis, termasuk Jurnalis asing yang banyak mengorek informasi darinya.
Dalam proses penguburannya di Tenggulun sana, tampak dari tayangan video itu banyak sekali orang yang mengelukan Amrozi bersaudara, banyak dari mereka mengepalkan tangan, berteriak “Allahu akbar” aku makin negri, aku memang sering ngeri jika mendengar kalimah itu diucapkan dengan serentak mengepalkan tangan penuh semangat, mereka seolah siap melumatkan semuanya dengan kepalan itu. Benarkah mereka akan menghancurkan semuanya?
Aku tidak bisa membohongi perasaanku ketika menonton video Amrozi, rasanya merinding melihat begitu banyak orang, bertangisan saling berpelukan. Apalagi ketika muncul tiga burung yang terus beterbangan di atas lokasi pemakaman, kurang masuk akalku juga darimana asal burung itu, bahkan yang tidak kalah mencengangkan, terdapat awan putih yang membentuk lafaz Allah dengan bahasa arab di atas rumah Amrozi, its really? Apakah benar tidak ada rekayasa video ini? belum lagi jenazahnya keduanya yang benar-benar tersenyum. Aku melongo bingung, ekspresiku campur aduk. Antara berusaha merasionalkan berbagai peristiwa yang mengiringi proses pemakaman dua bersaudara itu dengan menyimak kata-kata Kakakku dan suaminya, kenapa mereka yang -maaph, sedikit membuka kartu gimana sebenarnya ibadah Kakakku dan suaminya, benar-benar Ahmoodiyah buangetz- menjadi sangat religius ketika menuturkan tayangan yang sudah jelas aku tonton itu?
Dengan nada bicara yang gak tahu marah sama siapa, Kakak iparku bilang, kalo Amrozi itu dibilang Teroris, lantas George W. Bush itu disebut apa?! Kenapa dia masih dibiarkan hidup? Sementara tiga orang yang begitu mulia dibinasakan dengan begitu saja. Aku tersenyum kecut, gak tau mau ngomong apa. Aku memang lebih suka diam untuk hal-hal yang tidak aku pahami benar, bukan apa-apa, untuk hal yang sudah menyangkut keyakinan, aku pilih mundur aja. Pilihan setiap manusia untuk meyakini apapun yang diyakininya, dan aku juga yakin jika keyakinanku benar.
Keyakinanku sama persis dengan keyakinan Makku, perempuan yang hanya mengenyam pendidikan sampai kelas empat SD itu kemarin menuturkan, sekaligus mempertanyakan kebenaran jihad yang dilakukan Amrozi padaku, ia bilang kenapa orang-orang di rumah saling mengelukan pembunuh begitu banyak orang yang tidak bersalah? Hampir semua tetangga, bahkan Pak Lik dan Mak Likku juga menceritakan proses pemakaman Amrozi dengan penuh gairah kebanggaan seolah mereka pahlawan? Katanya membunuh satu orang saja kita ini sudah berdosa, apalagi membunuh ratusan orang, meninggalkan kepedihan mendalam bagi mereka yang sekarang menderita cacat tubuh, kehilangan pekerjaan, anak-anak yang jadi telantar, apa itu tidak menyebabkan dosa yang lebih besar? Kenapa para Kiai yang lebih tahu agama juga seolah membenarkan cara jihad Amrozi? Mengelukannya sedemikian rupa? Begitu rentetan pertanyaan Emak waktu itu.
` Kali ini aku tersenyum getir, kenapa Emakku yang tidak punya sediktpun pengaruh bagi orang lain justru mempunyai pikiran seperti itu? Tidakkah lebih menyenangkan jika orang yang berpikir seperti itu adalah orang yang paling tidak dia bisa mempengaruhi orang untuk tidak pula menjadi pembunuh, Teroris atau pengebom yang melukai perasaan dan fisik banyak orang? Menurut keyakinan emak, jihad tidak hanya bisa dilakukan dengan cara seperti itu, ia setiap hari juga berjuang melawan kemiskinan yang dapat menyeret seluruh anak yang dilahirkannya menjadi generasi bodoh, emakku berjuang, berjihad demi masa depan anak-anaknya seperti sekarang.
Menghidupi delapan anak di tengah segala keterbatasan yang ada bagi emakku bukan sekadar jalan, ia mempersiapkan berbagai stategi untuk terus menghidupi kami agar tidak jatuh pada lubang naif kehidupan yang dapat menghancurkan siapapun. Siapa bilang emak bukan Mujahidah? Justru emak bagiku adalah pahlawan tak kenal lelah yang nanti juga akan tersenyum damai saat menutup usianya. Ia tentu juga Syahidah.
Mirisnya, ketika Emak menanyakan kebenaran jihad yang dilakukan Amrozi apakah tidak melanggar agama, orang-orang yang dianggap Emak mengetahui hal itu justru menganggap Emak berdosa menanyakan hal demikian. Sudah terlihat jelas tanda-tanda kebesaran Allah untuk menggolongkan Amrozi sebagai Mujahid syahid saat proses pemakamannya kemarin, apalagi yang membuat muslimin meragukannya? Begitu emak dicecar pertanyaan balik sebagai jawaban pertanyaan yang dilontarkannya.
Entahlah, aku juga tidak mengerti bagaimana kebenaran jihad yang diinginkan Tuhan, apakah begitu kejam cara yang harus ditempuh jika kita menginginkan surga sebagai muara segala kebajikan yang kita perbuat di dunia ini? Lantas berapa banyak lagi permusuhan dan dendam yang harus kita tanam jika kita terus menginginkan surga dengan cara demikian?
Melihat begitu banyak orang yang mengelukannya, menyaksikan keajaiban yang mengiringi proses pemakaman Amrozi bersaudara aku justru berpikir lain, tidakkah masuk akal jika Amrozi justru menikmati masa penahanannya dengan segenap penyesalan atas perbuatannya, mungkin dia justru bertobat penuh janji pada Allah untuk tidak mengulang perbuatannya, sehingga penyesalan itulah yang sebenarnya mengantarkan ia ke surga, meninggalkan dunia dengan senyun terdamai yang menjadi pesan terakhirnya. Karena Tuhan berjanji akan mengampuni sebesar apapun dosa manusia manakala ia menangis menyesalinya, bahkan salah satu bulu mata manusia akan mampu bersaksi mengantar manusia menuju surga karena taubat dan penyesalan yang dilakukannya. Itulah taubatun nasuha, penyesalan sepenuh jiwa. Mungkin Amrozi melakukannya sedetik sebelum kematiannya. Yah, hanya Tuhan yang tahu kan?
Keistimewaan 10 Desember
Catatan ini harusnya aku posting tepat 10 Desember, tetapi karena aku baru dateng mudik hari ini, maka jadilah aku posting sekarang. Maklum, selain gak da komputer di rumah, internet juga amat sangat mahal di sana, tiga jam di Malang sama halnya dengan satu jam di tempetku. Well, setelah memperingati hari Anti Korupsi se-Dunia yang jatuh pada 9 Desember kemarin, maka 10 desember selalu diperingati sebagai hari HAM Internasional.
Sesuai dengan materi yang aku dapat dari mata kuliah Hak Asasi Manusia (HAM) dan Isu Global, HAM secara harfiah dimaknai sebagai hak yang dimiliki oleh seseorang karena keberadaannya sebagai manusia. HAM merupakan hak yang melekat pada diri segenap manusia sehingga mereka diakui keberadaannya tanpa membedakan kelamin, ras, warna kulit, bahasa, agama, politik, kewarganegaraan, dan segala macam hal yang sering dijadikan pemicu perbedaan antar manusia.
Isu HAM sebenarnya sudah muncul sejak 1215 di Inggris, yang lebih populer dengan Magna Charta, selain itu juga ada Bill of Rights, Inggris 1689, Virginia Bill of Rights tahun 1776 di Amerika Serikat, juga tetap pada tahun dan tempat yang sama, terdapat pula Declaration of Independence. Baru pada 1948 kemudian PBB menggelar Declaration of Human Rights, yang mendeklarasikan bahwa manusia adalah individu yang menyandang status sebagai subjek hukum internasional di samping negara.
Terdapat tiga generasi HAM dalam PBB, pertama, HAM dalam Declaration of Human Rights, 1948 yang menerangkan jika HAM PBB merupakan pernyataan HAM yang dipengaruhi oleh pandangan tradisional Barat, yang lahir dari kemenangan kelas menengah terhadap monarkhi absolut. Deklarasi ini menekankan kepada hak sipil seperti kebebasan berbicara, hak berpartisipasi dalam pemerintahan dan hak beragama.
Generasi kedua adalah Convenant on Civil and Political Rights, Convenant on Economics dan Social and Culture Rights pada tahun 1966, yang menekankan jika HAM PBB adalah hasil kompromi antara ideologi Barat (liberalisme) yang menitik beratkan pada hak politik, dan Ideologi Timur (Komunisme) yang menitik beratkan pada hak ekonomi. Terlihat adanya penyelarasan antara hak individu (hak sipil dan politik) dengan hak kolektif (hak ekonomi dan sosial). Misalnya kehidupan yang layak dan pendidikan.
Adapun generasi terakhir adalah Deklarasi Vienna, pada tahun 1993. dari deklarasi ini diperoleh kesimpulan jika HAM PBB merupakan kompromi antara negara-negara Barat yang sudah maju dengan negara berkembang. Dalam deklarasi ini pula mulai diperkenalkan hak atas pembangunan, hak memelihara suatu kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu. Juga terjadi kesepakatan perlunya pendekatan berimbang dalam upaya pemajuan dan perlindungan HAM.
Meski begitu, penegakan HAM hampir di seluruh belahan dunia masihlah jauh dari humanisme yang sebenar. Tidak jarang penegakan HAM justru berarti tidak memanusiakan kaum minoritas yang lain. Banyak sekali kebenaran statement ini, contohnya tidak usah jauh-jauh, sekeliling kita juga tidak terhitung anarkisme dan banyak hal yang sengaja dilakukan untuk menindas dan menyingkirkan kelompok minoritas yang ada.
Track record Indonesia mengenai penegakan HAM sendiri memang masih bermasalah, perusakan tempat ibadah dan diskriminasi terhadap kaum minoritas agama dan etnis masih sering terjadi sampai detik ini. Menurut laporan Departemen Luar Negeri AS, sesuai Country Report on Human Rights Practice pada 2006 dan International Religious Freedom Report tahun 2007 kebijakan pemerintah Indonesia banyak melanggar HAM dan cenderung mendukung perilaku kelompok radikal keagamaan yang main hakim sendiri. Pemerintah dan Aparat keamanan sangat tidak tegas menjunjung makna kemanusiaan itu sendiri.
Karena HAM merupakan konsep yang disinyalir mengadopsi salah satu konsep Barat, maka muncul pula Konsep HAM Asia yang terkenal, yakni Cultural Relativisme, paham yang menekankan bahwa setiap budaya memiliki ciri khusus dalam menganalisis dan mengevaluasi pelaksanaan HAM, tolak ukur Barat tidak bisa digunakan begitu saja untuk menilai masyarakat negara berkembang di asia karena konteks budaya yang sangat berbeda.
Selain itu juga ada Communitarianisme yang berarti pemenuhan hak individu di Asia tidak bisa dipisahkan dari kepentingan komunitas secara keseluruhan. Dalam budaya suku-suku di Asia, kepentingan Individu sering dikorbankan untuk kepentingan umum. Di samping hal tersebut, konsep HAM di Asia juga menekankan Developmentalisme yang menurut Pemimpin Asia seperti Lee Kwan Yew, Mahathir Muhammad dan Soeharto beberapa masa lalu menyatakan bahwa hak politik tidak lebih penting dari hak ekonomi dan melalui pembangunan yang dilakukan, negara berupaya memnuhi hak ekonomi rakyat agar bebas dari belenggu kemiskinan dan kemelaratan.
Bagaimanapun, Asia tidak bisa disamakan dengan Barat, maka ketika PBB menyatakan bahwa penegakan HAM individu tidak hanya menyangkut negara namun juga hak internasionalnya, sering mengundang pertanyaan tersendiri, darimana hukum internasional diadopsi? Masing-masing negara sewajarnya mempunyai ketetapan hukum yang berbeda kan? Lantas bagaimana HAM internasional itu dapat benar-benar teralisasikan jika hukum internasional juga bertentangan dengan hukum suatu negara, bukankah itu melanggar HAM individu sebagai warga negara? Ini hanya secuil perdebatan yang terjadi di kelasku saat Dosen memberikan materi seputar HAM dan Isu Global kemarin. Sementara seperti biasa aku hanya diam, menjadi pendengar yang masih terus berusaha menyelami makna setiap keterangan dosenku yang kadang membingungkan.
Lebih dari peringatan hari HAM Internasional, 10 Desember juga menjadi saksi dilahirkannya seorang anak manusia atas nama Desy Ayu Pirmasari, yang tahun ini memasuki usia ke-22 nya. Dia tidak sekadar teman, tetapi juga guru, penerang jalan paling nyata, setidaknya bagiku. Dengan segala prestasi yang diraihnya, ia membangkitkan seluruh ketidak berdayaan yang aku miliki menjadi gelembung semangat yang kadang juga berlarian semaunya. Sampai saat ini aku masih sering mengejar gelembung semangat itu, dengan segala keterbatasan yang ada. Tengkiu for everything Bu, Happi Besdei! Cepetan cari Bule di Kemang sana, bagi juga buat Mbah mu yang tidak juga laku ini. Wish u always be happy yeah:>>
Urgensi Pengesahan RUU Tindak Pidana Korupsi
Ditinjau dari perspektif manapun, korupsi memang sebuah extra ordinary crime yang sangat membahayakan. Berbagai pendekatan pun telah dilakukan banyak pihak sebagai langkah antisipatif menjangkitnya korupsi pada semua lini. Jika Zawawi maupun Syafiq A. Mughni memandang dari perspektif kebudayaan, maka inilah tinjauan hukum pentingnya pengesahan RUU Tindak Pidana Korupsi yang menjadi agenda jejaring Anti Korupsi Jawa Timur.
Menyalin selebaran yang dibagikan KRHN, saat ini keberadaan Pengadilan Tipikor terancam bubar karena DPR dan Presiden terlihat enggan untuk membentuk UU yang baru sebagaimana yang diamanatkan oleh Putusan Mahkamah Konstitusi 2009 masih belum ada UU Pengadilan Korupsi. Maka otomatis Pengadilan Korupsi akan bubar. Akibatnya tentu saja para Koruptor akan semakin bebas bergentayangan, pemberantasan korupsi akan tidak efektif dan mundur.
Disadari bahwa keberadaan Pengadilan Korupsi saat ini adalah untuk mendukung dan mengefektifkan pemberantasan korupsi. Dan ini adalah salah satu tuntutan rakyat pada reformasi 10 tahun lalu. Olehnya, mendukung keberadaaan dan peranan Pengadilan Korupsi bukan semata-mata karena hendak “dibubarkan” tetapi karena korupsi memang harus diberantas dari bumi Indonesia.
Untuk itu diperlukan cara-cara luar biasa di luar mekanisme konvensional yang telah ada. KPK bersama Pengadilan Khusus Korupsi adalah bagian dari mekanisme luar biasa yang dibuat untuk mengatasi dan membasmi penyakit korupsi. Keduanya telah memberikan peranan yang bararti dan berpengaruh secara signifikan dalam pemberantasan korupsi. Namun demikian pihak-pihak yang tidak menghendaki (resisten) juga tidak tinggal diam, dan berupaya melakukan berbagai cara untuk melemahkan, bahkan membubarkannya. Dan jika itu terjadi, tentu saja korupsi kian merajalela.
Berkaca pada praktek yang telah berjalan, keberadaan dan peranan Pengadilan Khusus Korupsi perlu diperkuat dan disempurnakan. Pengadilan Tipikor sudah menjadi keniscayaan, karena pengadilan Tipikor memuat unsur positif, di antaranya:
-
Menjamin Proses Lebih Terbuka
Prinsip Keterbukaan sangat penting untuk menjamin proses hukum atau persidangan dapat dilakukan secara fair tanpa rekayasa, sehingga menjamin proses yang berkepastian dan berkeadilan.
Hal ini penting, terutama dalam penanganan kasus-kasus korupsi karena adanya kepentingan publik dalam perkara itu yang juga harus dipertimbangkan, sehingga dalam hal ini publik atau masyarakat dapat secara jelas menyaksikan jalannya persidangan di Pengadilan Tipikor tanpa khawatir ada yang ditutup-tutupi.
-
Memberikan Rasa Keadilan dalam Pemberantasan Korupsi
Sejauh ini, pengadilan Tipikor mampu memaksa pihak Penuntut Umum untuk memaksimalkan kerjanya sehingga tidak ada satupun pelaku korupsi yang diputus bebas. Bahkan ketika para Koruptor mengajikan banding atau kasasi, putusannya cenderung diperberat. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan putusan pengadilan umum sering membebaskan para Koruptor. Putusan-putusan Pengadilan Tipikor seperti itu sesuai dengan rasa keadilan yang selama ini sulit didapatkan dari pengadilan umum, termasuk dalam hal pengembalian kerugian negara. Dan tentunya, diharapkan dapat menjadi “shock therapy” yang membuat orang berpikir dua kali sebelum melakukan korupsi.