Ruang Cerita Tumik

Rumah Cerita, Ruang Berbagi Rasa

Archive for Juli 2008

Tempora Mutantur, et Nos Mutamur in Illis

with 4 comments

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa diceritakan dalam hidup ini. Tentang diri kita, teman, tetangga atau juga orang yang baru kita kenal. Tidak harus ngeblog, kita bisa juga pura-pura posting pake Komputer sendiri. Semua tergantung kita mau apa tidak. Dan aku, sudah agak lelah dengan ketidak mauanku. Aku ingin meluapkan kemauan ini. Sudah lama rasanya aku ingin menulis, menulis dan terus menulis. Sehingga, percakapan dengan orang lain pun terbatas. Tidak bicara kecuali ada kepentingan, menggosip pun harusnya hanya lewat tulisan. Tapi, gak kebayang juga gimana bau mulut orang-orang seandainya semua benar terjadi seperti itu. :)

Well, ini tentang tulisan yang aku baca di Kompas edisi 14 July kemarin. Walau sudah lumayan kering, tetapi aku tetap tidak bisa melupakan tulisan dengan judul Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan Ngelmu itu. Banyak petuah hidup yang aku dapat dalam tulisan itu, bahwa The Survival of The Fastes atau dalam bahasa yang lebih aku pahami yang bertahan yang paling cepat, daripada The Survival of The Fittest yang bertahan yang lebih kuat.

Cukup memukul telak diriku memang, semua yang aku jalani sekarang rasanya serba terlambat.  Kadang ngiri juga dengan beberapa teman yang usianya jauh di bawahku namun punya kematangan pikiran dan keberhasilan akademik yang patut diacungi jempol. Prestasi mereka TOP MarKoTOp!! Sedang aku tetap jadi pengamat yang amit-amit. Tetep jadi orang yang Parno, gak Pedean, paling kurus kering luar dalam. Ouh, lengkaplah sudah..

Meski berkeinginan dan bercita-cita sama dengan mereka, menggapai dunia akhirat dengan sempurna, namun aku tidak bisa memaksakan jalanku. Aku bukan mereka, meski nanti akan mencapai pintu yang sama, tidak lantas menjadikan kita bersesakan memasuki pintu itu kan? Kita bisa mencari celah jalan yang lain. Selalu begitu pikirku. Gak tau kenapa aku selalu berpikir tidak normal, mungkin aku memang abnormal. Ya, abnormal luar dalam juga tentunya.

Walau menderita krisis PD yang akut, aku tidak lantas berguru tentang konsep PD pada biangnya. Aku lebih suka berpikir sendiri, bagaimana aku yang tidak PeDean ini bisa sejajar dengan orang-orang yang mempunyai Kepercayaan Diri yang tinggi. Selalu begitu yang aku tekankan, bukan berusaha setengah mati mengubah Ketidak Pedeanku menjadi PD bertegangan tinggi. Bagaimana juga ketika aku si Miskin ini, mengejar pendidikan seperti yang kaum Borjuis dapatkan. Tidak harus mengubah aku jadi kaya juga kan? Dan aku cukup nyaman dengan caraku. Slow but Sure..

Untunglah aku baca tulisan itu, bahwa mau tidak mau kita memang harus berubah. Tempora Mutantur, et Nos Mutamur In Illis. Jika tidak cekatan, kesempatan akan hilang di tengah dunia yang berlari tunggang langgang. Maka, dengan keterkungkungan pola pikir seperti itu tidak akan menutup kemungkinan jika aku bakal terinjak, terlewat begitu saja dengan sang waktu dan perubahan yang tiada pernah berhenti walau sedetik.

Mau tidak mau, perubahan adalah keniscayaan yang dapat dialami oleh apapun, siapapun dan bagaimanapun. Tidak hanya dialami semata, perubahan memang sebuah tuntutan besar jika ingin tetap menjalani hidup ini. Jadi percuma saja berkeinginan besar dan macam-macam jika mengubah diri sendiri aja susahnya minta ampun. Yah, mengutip salah satu petuah bijak Dai Kondang yang sudah agak tenggelam namanya, perubahan itu dimulai dari diri sendiri dan dari hal yang paling kecil. So, berubah memang harus. Meski gak mudah..

Jadi inget bedah buku Gray Area beberapa waktu lalu, buku dua muka yang menceritakan kehidupan dua mahasiswa dari sudut pandang bertentangan itu cukup membekas juga dalam pikirku. Bagaimana pengaruh globalisasi bagi sosok Desy dan Alifa. Buku yang ditulis berdasar reportase itu menguak kehidupan Desy, Clubbers sejati yang tidak pernah melewati malamnya tanpa clubbing, ngeseks dan semua yang bagi dia mengenakkan. Bagi dia, globalisasi adalah kesempatan hidup yang memberi banyak peluang untuk berubah, dia yang dulunya anak kampung, setelah menjadi mahasiswa di Yogya harus mengubah total gaya hidupnya. Dan dia menemukan cara perubahan itu dengan dunia malam yang digelutinya sekarang. Selain dikenal sebagai Penyiar di salah satu Radio terkenal di Yogya, orang-orang bisa menemukannya di tengah jibunan para Clubbers yang tidak pernah melewatkan malam begitu saja.

Sementara di sisi lain, ada sosok Alifa, mahasiswa yang justru menganggap globalisasi adalah ancaman yang lebih baik dihindari. Sehingga, dia memilih menjauh dari semua kegiatan dunia yang melenakan. Bagi Alifa, hidup adalah ibadah. Maka, semua yang dijalaninya adalah atas dasar perintah dan larangan agama. Ia berjilbab lebar, bercadar dan nyaris tidak mengenal istilah gaul di Kampusnya. Ia tidak peduli dikatakan apa saja. Sebab baginya, hidup akan lebih mulia jika hanya mencintai Tuhan, tanpa berpaling sedikitpun pada segala sesuatu yang sengaja menggoda.

Dua mahasiswa itu bisa jadi merupakan gambaran umum kondisi seluruh manusia saat ini. Ada yang larut dalam keduniawian layaknya Desy, banyak juga yang bersikap mulia seperti Alifa. Yang pasti dua-duanya tidak ada padaku. Meski dalam hati yang paling tulus, pengen juga sekali-kali mencoba larut seperti Desy, habis itu baru bertobat menjalani hidup semisal Alifa. Ha..  Ha..

Bisa jadi juga kita tidak termasuk dalam keduanya, berkali Clubbing dan sekali menghadap Tuhan penuh penyesalan. Atau bisa juga sebaliknya, berkali menyesali dosa, sekali Clubbing ketagihan jadinya. Hehe.. Life is Choice katanya. So, dipilih.. dipilih.. Sayang anak, Sayang Istri, Sayang suami! Beli satu dapat dua, monggo saputangannya..

Apapun warna dan kemasannya, hidup memang harus berubah. Tidak harus total, meski setengah-setengah juga kadang lebih memalukan. Yang pasti, siapa cepat dia dapat. Sekali saja kita berhenti, relakan dirimu terinjak, tertinggal jauh dengan waktu yang berlari kencang tak pernah peduli pada siapapun dirimu. Entah Desy, Alifa atau siapa saja..

Written by attumic

Juli 24, 2008 at 11:59 am

Ditulis dalam Tak Berkategori

Awas Jadi Korban Iklan..

with 2 comments


Hari ini orang-orang sekitar kosku berbondong ke Tempat Pemungutan Sengsara Suara yang terletak tidak begitu jauh dari kosku juga. Mereka memilih pilihan mereka. Sementara aku, mendekam di Kos, mengamati anak-anak yang bermain layangan di bawah sana. Hm, semestinya aku juga pulang kampung, menggunakan hak pilihku untuk memilih mereka. Tapi, untunglah aku tidak pulang. Aku tidak akan memilih siapa-siapa, karena mereka juga tidak akan memberiku apa-apa.

Apa yang akan diberikan orang-orang itu seandainya aku pilih mereka? Mau menyekolahkan aku kah? Melindungi segenap hak hidup yang mestinya aku nikmati kah? Ah, aku ragu. Membayar hutang biaya kampanye mereka saja aku yakin mereka tidak bisa kok, apalagi menghidupi sedemikian banyak orang yang sudah dijanjikannya. Bukan tanpa alasan, Golput juga adalah pilihan. Terserah apa yang dibilang orang, tetapi Golput bagiku termasuk hak pilih seseorang untuk tidak memilih apapun.

Aku makin seneng ngeliat para Golputers setelah dapat info kemarin, bahwa iklan besar-besaran yang dilakukan calon penguasa untuk membangun citra adalah arahan gaya, mereka pake jasa Konsultan yang dibayar mahal, milyaran juta. Ini memperlengkap peran mereka yang tak lebih dari Aktor picisan keranjingan main sinetron. Membangun persepsi masyarakat adalah keharusan bagi mereka yang menginginkan kuasa, dan itu cukup menjawab tuntutan kita selama ini. Adakah harapan akan terealisasi jika untuk mencapai kekuasaan itu saja mereka juga bergantung pada para pemodal? Meragukan..

Pantes aja beberapa waktu lalu, ketika salah satu Alumni jurusanku, Kang Uday menyempatkan diri sharing bersama aku dan teman-teman, dengan bangga mengatakan jumlahan juta yang ia dapat dengan pekerjaannya sekarang. Dia menyebut dirinya sebagai Konsultan politik yang tergabung di Foxindonesia. Dia sebutkan beberapa nama orang penting yang baru aku ketahui jelas setelah iklannya muncul di Tivi baru-baru ini. Waktu itu aku belum begitu paham penjelasannya, yang aku tahu dia keliling Indonesia, termasuk mampir ke Malang karena tugasnya memang survey ke belahan bumi Indonesia, dia mengaku tergabung juga dalam Lingkaran Survey Indonesia. Ketika itu dia menggarap proyek Soetrisno Bachir. Ternyata, dunia politik memang bener-bener menggiurkan. Apalagi menjadikannya bisnis. Wuih, dijamin kenyang tujuhratus turunan..

Tidak tanggung-tanggung, biaya yang diperlukan untuk iklan politik ini memang cukup membelalakkan mata, dalam sebulan saja seorang politikus menghabiskan antara 5 sampai 10 miliar untuk biaya iklan, termasuk pencitraan yang memakai jasa Konsultan. Aku jadi agak nyesel, kenapa waktu itu aku tidak bertanya detail pada Kang Uday, tentang LSI atau Foxindonesia lebih jauh lagi. Aku cuman manggut-manggut sok ngerti. Jadi ketika aku baru temukan berita tentang semua itu aku cuman bisa terheran-heran. Ternyata, Kang Uday emang terus terang menyebut bilangan nominal yang diraupnya karena pekerjaannnya sekarang. Mantep bener pokoke.

Sudah meraup milyaran, iklan politik juga tidak memberi pengaruh signifikan pada perubahan yang diinginkan masyarakat. Seperti yang dikatakan Direktur Eksekutif Reform Institute, Yudi Latif di Kompas edisi beberapa hari lalu, bahwa pesan-pesan iklan politik kebanyakan dangkal, serba artifisial dan tidak otentik. Komunikasi politik yang dijalankan juga kosong dan tidak nyambung dengan kebatinan rakyat. Bener banget kan? Yang kita butuhkan itu uang, pekerjaan, pendidikan. Masa yang mereka kasih cuman senyum maksa yang diarahkan Konsultan. Joko Sembung naik Andong, gak nyambung dong..

Bukan hanya itu, selain menggarap pencitraan politikus, Konsultan Politik juga membimbing para calon ini dengan simulasi debat, diskusi atau kiat lain ketika menghadapi publik. Jadi gak jauh beda sama karantina putri kecantikan aja kan? Memang seperti itulah kenyataannya. Jadi buat apa kita harus memilih orang-orang yang sedang berakting itu? Buang waktu saja gak seh?

Waduh, kok tulisannya jadi provokatif gini ya? Gak lah, pilihan tetap ada di tangan semua orang kok. Dan aku lebih memilih jadi Golput aja. Aku gak mau jadi korban iklan. Udah banyak membuang tenaga, waktu dan pikiran memilih mereka ternyata mereka hanya bersandiwara melayani kita sepenuh hati. Padahal kita sudah ikhlas memilihnya dengan kemantapan kalbu, nyatanya mereka juga tega menganggap kita babu. Hu..

Intinya, aku lagi terbayang indah seandainya bisa tergabung di Foxindonesia atau LSI. Bisa keliling nusantara gratis, bisa jadi pengarah gaya politikus, bisa berakting memilih mereka meskipun aku Golputers tulen..

Written by attumic

Juli 23, 2008 at 12:27 pm

Ditulis dalam Tak Berkategori

Tertohok Itu Indah…

with one comment

Jika Arai, tokoh fenomenal tetralogi Laskar Pelangi bisa membuktikan kebenaran prinsipnya: Bermimpilah, karena Tuhan akan Memeluk Mimpimu. Maka aku hanya bisa memegang kebenaran: Tertohoklah, karena tertohok itu Indah :)

Bermula dari keluh kesah pada sepupu kemarin, ketika aku mengeluhkan kegiatanku sekarang. Nganggur dan tidak jelas, meski masih terus nyoba nulis, tetapi hasilnya masih belum jelas juga. So, aku mengeluh jika hidup seperti ini sangatlah tidak enak. Tidak kuliah, gak laku-laku. Kegiatanku hanya berkutat pada kamar kos yang debunya sedengkul ini. Resiko jadi pengangguran, makan minum pun tak pernah tenang. Otomatis, teringat lagi aku pada Koran Kampusku. Seandainya masih di sana, aku mungkin bisa ngenet gratis, bisa becanda tawa sama teman di sana, atau sekadar cuci mata ngeliat Cleaning Service kampus.

Jadilah aku berkesah pada sepupuku ini, bahwa ternyata kita tidak sekadar butuh materi ketika mempertahankan sesuatu yang selama ini kita anggap bagian hidup kita. Ada hal-hal yang tidak bisa dirasionalkan. Dan itu bukan sekadar kalkulasi materi. Maka, tertohoklah aku dengan jawaban mantap sepupuku. “Nah, akhirnya ngerasain juga? Tidak semua kebahagiaan hidup hanya pada kalkulasi angka, terlalu banyak bahagia yang justru tidak logis, tanpa kalkulasi,” Sungguh, dia masih inget percakapanku bebrapa waktu lalu.

Percakapan bebrapa waktu lalu itu adalah tentang keluh kesah sepupuku yang sudah meraih gelar kesarjanaan beberapa bulan lalu ini. Ia mengeluh, mengapa masih kuat bertahan di tengah ketidak pastiannya sekarang. Sarjana yang bisa dibilang masih belum menghasilkan pendapatan. Pendapatan yang dia maksud adalah sumbangan materinya pada orang tua yang selama ini sudah menghidupinya. Jika hanya untuk perut sendiri, ia masih mampu mengenyangkannya, juga biaya hidup di tanah rantau ini. Ia sudah tidak lagi membebani orang tua.

Hanya saja, sepupuku masih ngerasa punya tanggung jawab yang belum tertunaikan seandainya belum bisa ngasih materi ke ortunya sampai dia menikah nanti. Dengan sok bijak aku pun bilang, harusnya dia nyari kerja yang pasti. Buat apa tetap bertahan mengajar ngaji anak-anak yang menurut pengakuannya, gajinya masih jauh dari standar.

Meski begitu, akhirnya sepupuku menyadari, bahwa itulah perjuangan yang bisa dia lakukan. Bahwa dia bertahan adalah karena niat tulusnya untuk berjuang. Dan dengan sangat tidak sopan aku bilang di depannya: Gila aja kalau kamu bilang itu berjuang. Menurutku perjuangan tidak hanya itu! Kita mempertahankan hidup kita sendiri ini juga perjuangan, kita kerja untuk menghidupi orang tua juga berjuang, dan lain-lain yang intinya, berjuang itu tidak hanya mengajar ngaji. Aku tidak peduli dengan hati sepupuku, dengan santai aku meneruskan kata-kataku. Sementara dia hanya diam.

Dari perbincangan keluh kesahku kemarin, seakan terbalaskan sakit hati sepupuku. Ya, tidak semua kebahagiaan memang bisa dikalkulasi dengan materi. Ada kebahagiaan lain yang lebih abadi. Bukan sok idealis atau gimana, tapi aku termakan juga dengan pemikiran ini. Aku sedikit tersadar jika hidup ini memang tidak akan pernah kenyang dengan milyaran materi. Ada hal lain, hal yang paling mendasar di hati.

Akhirnya, berperanglah batinku. Kebahagiaan memang tidak selalu pada materi, tetapi kita juga tidak bisa menutup mata dengan kebutuhan hidup kita sendiri. Makna perjuangan bagiku tidak semata berjalan atas nama agama. Masih banyak hal yang juga kita lakukan dengan perjuangan besar. Semua punya jalan, tidak harus bersamaan meski dengan tujuan sama.

Meski begitu, aku tetap berterimakasih pada sepupuku, yang memang nyaris tanpa dosa itu! Serius, kadang aku ngiri ngeliat dia dengan segala kepatuhannya pada Tuhan, semua urusan hidup ia anggap ujian. Sehingga ketika terjadi sesuatu atas itu, tanpa segan ia mengadu pada Pelindung yang diyakininya. Aku ingin bisa seperti itu, tapi bagaimana? Aku masih sering dibayangi kebimbangan dengan kepercayaanku. Maka, aku menjadikan semua perjalanan hidup ini sebagai proses pemantapan keyakinanku. Aku percaya penuh semua urusan hidup sudah diatur olehNya, tapi keyakinan itu sering timbul tenggelam dengan masalah yang aku hadapi.

Aku harus tetap percaya, jika Tuhan menyayangiku dengan segala caraNya. Ia ciptakan manusia sebersih sepupuku, tapi ia lengkapi juga dengan makhluk sebanal aku. Karena dia tahu, masing-masing hambaNya akan saling melengkapi dengan keragaman itu, dengan cara yang damai, tanpa saling menyakiti.

Akhirnya, aku berterimaksih tulus pada sepupuku, meski dalam hati. Sepupu, tohoklah aku sebisamu! Karena dengan itu, aku bisa berpikir lagi. Menyusun strategi menjawab pergulatan batinku. Bahwa, meski tidak semua bisa dikalkulasikan dengan materi, tetapi kita harus tetap realistis menjalani hidup ini..

Semangat perjuangan!!!

Written by attumic

Juli 22, 2008 at 8:34 am

Ditulis dalam Tak Berkategori

Aku Masih Tidak Cukup Tegar..

with 5 comments

Aku paling benci orang munafik. Dan karena aku tidak ingin menjadi bagian kemunafikan itu, aku harus jujur pada diriku. Kejujuran itu bisa aku tuangkan di sini, rumah ceritaku. Aku terus terang masih sedih menerima kenyataan skorsingku. Bukan apa-apa, aku hanya merasa semua yang sudah aku pertaruhkan untuk Koran Kampusku akhirnya sad ending seperti ini. Meski bukan akhir dari segalanya, tetapi diskorsing dari media kecil yang selama ini cukup menjadi kebanggaan bagiku adalah pukulan yang masih menyebabkan aku sedikit sakit. Dan jawaban imel seperti inilah yang ingin aku perlihatkan untuk kedua temenku yang bernasib sama. Bilapun nanti kita bener-bener tidak kembali ke sana, maka itu adalah really keinginan kita. Bukan tekanan siapa-siapa…

Tum, orang usah nangis bercucuran air mata. Menurutku kamu justru layak membusungkan dada. Keluar dari sistem yang tidak jelas itu karena sebuah prinsip. It’s cool..

Pada waktunya, kepompong toh harus meninggalkan sarangnya. Dia jadi kupu-kupu. Dari yang semula menjijikkan bagi banyak orang, kepompong itu berubah jadi kupu-kupu yang tak seorang pun membantah kecantikannya.

Pada satu waktu, kita memang harus meninggalkan masa lalu. Begitu juga dengan Bestari. Dua tahun menurutku sudah cukup untuk belajar di sana. Keluar dari sana itu sudah keniscayaan. Hanya soal kapan dan bagaimana.

Kalau caranya kemudian dengan diskorsing, dipecat, dan seterusnya, maka terima kasih sajalah. Bila perlu ambil saja keputusan yang lebih berani. Keluar saja. Untuk apa nunggu tiga bulan untuk masuk lagi..

Banyak orang pintar. Banyak pula orang berani. Tapi sedikit orang pintar yang juga berani. Maka, ambillah posisi itu. Tidak usah ragu-ragu. Keluar dari Bestari. Kini waktumu jadi kupu-kupu. Hinggap ke sana kemari, tidak hanya berhenti di satu tempat.

Tentu tidak mudah. Tapi bukan berarti mustahil.

Mulailah dengan teman, jaringan, lingkaran, ataua apapun yag kamu punya. Blogger, wartawan, organisasi, atau apa saja. Saranku sih, kalau memang kamu bingung hendak ke mana, mainlah ke AJI Malang. Ntar aku kontak Bibin atau Wahyu, dua temanku utk membantumu.

Hidup kita sekarang ditentukan juga oleh seberapa banyak teman yang kita punya. Dan wartawan salah satu pekerjaan yang membuat kita, -aku sudah membuktikannya jadi aku yakin dengan itu-, mendapat buanyak teman. Cobalah untuk mencari peluang dengan apa yang sudah kamu dapat dari Bestari selama dua tahun ini.

Baca lagi buku Nietszche, katya St Sulardi, seperti yang aku sarankan dulu. Seperti dikatakn Nietzsche, mungkin kini waktunya kamu membakar pelabuhan. Meninggalkan daratan. Kini waktunya kita menghadapi gelombang tak berkesudahan. Menundukkannya dengan keyakinan dan keberanian.

Lalu, pada satu waktu orang-orang yang dulu menskorsingmu, mengeluarkanmu, akan menunduk malu. Mereka akan melihat bahwa mereka ternyata hanya pecundang.

Segera. Bergegaslah..

Anton Muhajir
http://www.rumahtulisan.com

Written by attumic

Juli 10, 2008 at 12:33 pm

Ditulis dalam Tak Berkategori

Tulisan Orang Bingung

with one comment

Ngantuk, capek, laper ‘n pusing..

Cukup menggambarkan kondisiku saat ini. Kelayapan  malem-malem buat ngenet lebih murah. Wes, nggak jadi nerusin ah! Ngantuk banget aku sumpah..

Written by attumic

Juli 6, 2008 at 6:09 pm

Ditulis dalam Tak Berkategori

Lagi, Luka Selaput Dara

with 5 comments

Ini adalah catatan tentang praktikum di Panti Sosial kemarin. Hampir sebulan di Panti itu, hanya satu kasus yang pengen aku bagi di sini. Semua bermula dari sore itu, ketika pandanganku tertuju pada sosok gadis dekil, dengan banyak lalat yang menghinggapi jilbab yang ia kenakan. Darah kering di hidungnya. Aih.. Jijik betul rasanya.

Tapi itulah dia, perempuan berusia di bawah tujuh belas, yang menjadi penghuni paling merepotkan di panti itu. Dia sering meludah sembarangan, berteriak-teriak kencang! Marah-marah tidak keruan. Hingga menjerit bak kesurupan. Untunglah, hampir sebulan dia menghuni, dia tidak lagi separah dulu, awal menginjakkan kaki di Panti. Panggil saja dia Aya.

Karena sangat tertarik pada sosoknya yang menjijikkan, pandanganku nyaris tidak terlepas dari Aya, pun pada waktu belajar bersama. Aku melihatnya dengan seksama ketika ia menggambar naga merah besar yang menghembuskan api menyala. Lumayan menyeramkan. Ketika aku mendekatinya, ternyata dia sangat gusar. Dilemparnya tanganku yang mencoba menggapai bukunya. Dia meneriakiku dengan kasar. Aku makin tertarik jadinya. Apa yang menyebabkan Aya seperti ini?

Esok harinya, dengan niat penuh mengorek asal muasalnya, ternyata kenyataan getir harus aku terima. Aya sudah dipulangkan ke rumah asal. Di Probolinggo, tepatnya dimana aku tidak begitu tahu. Yang jelas, dari Social Worker yang menanganinya, aku mendapat cerita miris bak sinetron Indonesia yang kian bikin miris.

Si Aya adalah anak broken home yang ditinggal Ibunya menikah hingga 10 kali. Dimana ayahnya? Ayahnya pun telah menikah lagi. Hidup yang tidak nyaman dengan ayah dan ibu tirinya, Aya menerima perlakuan kasar dari orang tua kandungnya. Bila tinggal bersama Ibu tirinya, justru ayahnya yang selalu membuat dia tidak betah. Pun begitu, bila bersama ayah tirinya, justru ibu kandungnya yang meyiksa dia habis-habisan. Karena ingin tetap berbakti pada keduanya, si Aya memutuskan untuk menimba ilmu di Pesantren. Sendiri dia berangkat ke tempat itu. Sial tak dapat ditolak, malang tetap tak beruntung. Di tengah perjalanan, Aya diperkosa supir truk yang mengantarkannya. Setelah itu, dia dipukul di bagian kepala, hingga pingsan dan jadi setengah sadar mengingat dirinya. Aya jadi setengah gila..

Nasib baik masih berpihak pada Aya, dia bisa sampai ke rumah ibunya entah dengan pertolongan siapa. Tetapi karena kondisinya yang parah, setengah gila dan mungkin karena kondisi fisiknya kian memalukan. Si Ibu justru menolak Aya. Dibawanya Aya ke rumah sakit gila di Lawang-Malang. Karena bagi para dokter jiwa di sana Aya hanya setengah gila, maka dibawalah Aya ke Panti Pondok Pesantren. Di sana, ia mendapat bimbingan yang tetap tidak bisa mengubah kondisinya yang menyeramkan. Jorok dan tidak terkontrol. Hingga beberapa bulan tanpa perubahan, si pengasuh pondok meminta bantuan dari pihak panti sosial yang menjadi tempat praktikumku. Dan di sinilah Aya mendapat penanganan langsung Pekerja Sosial konsentrasi Bimsos Perorangan. Berbagai cara ditempuh pihak panti untuk bisa menyadarkan Aya. Satu bulan pertama, tetap tidak ada perubahan signifikan. Kecuali meludahnya yang tidak lagi sembarangan, tetapi bila ditanya tentang siapa dia, darimana asalnya, Aya selalu mengeluarkan darah dari hidungnya. Dia selalu berteriak tidak mau lagi bertemu dengan Ibunya. Untunglah, setelah sebulan di sana, Aya bisa agak dikendalikan. Dia mulai bisa bercerita meski masih sering tidak mampu mengontrol dirinya. Hingga dua bulan di sana, dirasa sudah cukup menyembuhkan Aya. Aya sudah bisa dibawa pulang, dengan alamat rumah yang dituliskannya, diantarlah dia ke rumah Ibunya. Dan gila aja!! Si ibu justru mencak-mencak, tidak mengakui kalau Aya adalah anaknya. Dia tidak pernah punya anak gila seperti itu katanya. Anjing bener..

Meski tetap happy ending, karena akhirnya si Ibu tetap memeluk Aya dengan deraian air mata. Tapi justru aku yang menangis membabi buta. Terbayang olehku si Aya yang broken home, diperkosa bedebah jahannam. Dan justru dibawa ibunya ke rumah sakit jiwa? Gila! Yang mesti dibawa ke rumah sakit jiwa tuh bukannya ibunya? Hiper apa gimana kawin sampai 10 kali tuh?? Bikin anak aja enak dia. Giliran anaknya justru sangat membutuhkan dia, dia lempar begitu saja! Anjing gila aja gak da yang segila itu kali..

Jelas bukan hanya Aya yang mengalami ini. Aya hanya satu korban pemerkosaan yang aku saksikan nyata-nyata. Dan di luar sana, masih banyak yang terluka selaput daranya dengan paksa, masih banyak juga korban broken home yang justru lebih survive ketimbang yang mempunyai orang tua sempurna.

Well, inilah catatan Praktikum dua yang harus aku tempuh di semester keenam ini. Semoga di praktikum ke tiga, akan ada hal baru yang lebih menarik lagi.

Written by attumic

Juli 4, 2008 at 12:48 am

Ditulis dalam Tak Berkategori