Ruang Cerita Tumik

Rumah Cerita, Ruang Berbagi Rasa

Lagi, Luka Selaput Dara

with 5 comments

Ini adalah catatan tentang praktikum di Panti Sosial kemarin. Hampir sebulan di Panti itu, hanya satu kasus yang pengen aku bagi di sini. Semua bermula dari sore itu, ketika pandanganku tertuju pada sosok gadis dekil, dengan banyak lalat yang menghinggapi jilbab yang ia kenakan. Darah kering di hidungnya. Aih.. Jijik betul rasanya.

Tapi itulah dia, perempuan berusia di bawah tujuh belas, yang menjadi penghuni paling merepotkan di panti itu. Dia sering meludah sembarangan, berteriak-teriak kencang! Marah-marah tidak keruan. Hingga menjerit bak kesurupan. Untunglah, hampir sebulan dia menghuni, dia tidak lagi separah dulu, awal menginjakkan kaki di Panti. Panggil saja dia Aya.

Karena sangat tertarik pada sosoknya yang menjijikkan, pandanganku nyaris tidak terlepas dari Aya, pun pada waktu belajar bersama. Aku melihatnya dengan seksama ketika ia menggambar naga merah besar yang menghembuskan api menyala. Lumayan menyeramkan. Ketika aku mendekatinya, ternyata dia sangat gusar. Dilemparnya tanganku yang mencoba menggapai bukunya. Dia meneriakiku dengan kasar. Aku makin tertarik jadinya. Apa yang menyebabkan Aya seperti ini?

Esok harinya, dengan niat penuh mengorek asal muasalnya, ternyata kenyataan getir harus aku terima. Aya sudah dipulangkan ke rumah asal. Di Probolinggo, tepatnya dimana aku tidak begitu tahu. Yang jelas, dari Social Worker yang menanganinya, aku mendapat cerita miris bak sinetron Indonesia yang kian bikin miris.

Si Aya adalah anak broken home yang ditinggal Ibunya menikah hingga 10 kali. Dimana ayahnya? Ayahnya pun telah menikah lagi. Hidup yang tidak nyaman dengan ayah dan ibu tirinya, Aya menerima perlakuan kasar dari orang tua kandungnya. Bila tinggal bersama Ibu tirinya, justru ayahnya yang selalu membuat dia tidak betah. Pun begitu, bila bersama ayah tirinya, justru ibu kandungnya yang meyiksa dia habis-habisan. Karena ingin tetap berbakti pada keduanya, si Aya memutuskan untuk menimba ilmu di Pesantren. Sendiri dia berangkat ke tempat itu. Sial tak dapat ditolak, malang tetap tak beruntung. Di tengah perjalanan, Aya diperkosa supir truk yang mengantarkannya. Setelah itu, dia dipukul di bagian kepala, hingga pingsan dan jadi setengah sadar mengingat dirinya. Aya jadi setengah gila..

Nasib baik masih berpihak pada Aya, dia bisa sampai ke rumah ibunya entah dengan pertolongan siapa. Tetapi karena kondisinya yang parah, setengah gila dan mungkin karena kondisi fisiknya kian memalukan. Si Ibu justru menolak Aya. Dibawanya Aya ke rumah sakit gila di Lawang-Malang. Karena bagi para dokter jiwa di sana Aya hanya setengah gila, maka dibawalah Aya ke Panti Pondok Pesantren. Di sana, ia mendapat bimbingan yang tetap tidak bisa mengubah kondisinya yang menyeramkan. Jorok dan tidak terkontrol. Hingga beberapa bulan tanpa perubahan, si pengasuh pondok meminta bantuan dari pihak panti sosial yang menjadi tempat praktikumku. Dan di sinilah Aya mendapat penanganan langsung Pekerja Sosial konsentrasi Bimsos Perorangan. Berbagai cara ditempuh pihak panti untuk bisa menyadarkan Aya. Satu bulan pertama, tetap tidak ada perubahan signifikan. Kecuali meludahnya yang tidak lagi sembarangan, tetapi bila ditanya tentang siapa dia, darimana asalnya, Aya selalu mengeluarkan darah dari hidungnya. Dia selalu berteriak tidak mau lagi bertemu dengan Ibunya. Untunglah, setelah sebulan di sana, Aya bisa agak dikendalikan. Dia mulai bisa bercerita meski masih sering tidak mampu mengontrol dirinya. Hingga dua bulan di sana, dirasa sudah cukup menyembuhkan Aya. Aya sudah bisa dibawa pulang, dengan alamat rumah yang dituliskannya, diantarlah dia ke rumah Ibunya. Dan gila aja!! Si ibu justru mencak-mencak, tidak mengakui kalau Aya adalah anaknya. Dia tidak pernah punya anak gila seperti itu katanya. Anjing bener..

Meski tetap happy ending, karena akhirnya si Ibu tetap memeluk Aya dengan deraian air mata. Tapi justru aku yang menangis membabi buta. Terbayang olehku si Aya yang broken home, diperkosa bedebah jahannam. Dan justru dibawa ibunya ke rumah sakit jiwa? Gila! Yang mesti dibawa ke rumah sakit jiwa tuh bukannya ibunya? Hiper apa gimana kawin sampai 10 kali tuh?? Bikin anak aja enak dia. Giliran anaknya justru sangat membutuhkan dia, dia lempar begitu saja! Anjing gila aja gak da yang segila itu kali..

Jelas bukan hanya Aya yang mengalami ini. Aya hanya satu korban pemerkosaan yang aku saksikan nyata-nyata. Dan di luar sana, masih banyak yang terluka selaput daranya dengan paksa, masih banyak juga korban broken home yang justru lebih survive ketimbang yang mempunyai orang tua sempurna.

Well, inilah catatan Praktikum dua yang harus aku tempuh di semester keenam ini. Semoga di praktikum ke tiga, akan ada hal baru yang lebih menarik lagi.

Written by attumic

Juli 4, 2008 pada 12:48 am

Ditulis dalam Tak Berkategori

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ternyata kondisi selaput dara tidak bisa diinterpretasikan dengan moral tiap-tiap individu…! It’s nice topic to discuss later.

    Aul

    Juli 4, 2008 at 9:39 am

  2. tum, ceritane kuat banget utk dibuat lbh serius. kalo kamu prdalam lagi, misalnya sampai ke rumahnya di probolinggo, aku yakin cerita ini akan bisa dimuat media2 spt kartini, nyata, dst. tidak ada salahnya dicoba.

    anton

    Juli 7, 2008 at 1:34 am

  3. bagiku, semua pemuja virginitas itu bedebah, padahal aku yakin merka juga aktor pembobol virginitas dengan berbagai cara yang berbeda, mulai dari yang hala or gak, atau yang sok suci. intinya semua An…. Ji….ng…
    Sok suci…. bahkan kadang aku ngerasa mereka adalah orang-orang yang sok bau surga.

    desy

    Juli 11, 2008 at 3:36 pm

  4. Nyoba Komen balik aja ini
    Buat Aul ‘n Antun, Tengkiu sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini..

    Tumik

    Juli 12, 2008 at 7:57 pm

  5. kalau dah di blog semua muntah serapah itu mengalir. hehe asik ya… Ya, dibuatkan aja cerita yang lebih panjang bu. Ga laku di media kan pasti laku untuk blog. Sapa tahu bisa jadi satu buku. hehe

    luhde

    September 24, 2008 at 9:50 pm


Tinggalkan Balasan