Tempora Mutantur, et Nos Mutamur in Illis
Sebenarnya ada banyak hal yang bisa diceritakan dalam hidup ini. Tentang diri kita, teman, tetangga atau juga orang yang baru kita kenal. Tidak harus ngeblog, kita bisa juga pura-pura posting pake Komputer sendiri. Semua tergantung kita mau apa tidak. Dan aku, sudah agak lelah dengan ketidak mauanku. Aku ingin meluapkan kemauan ini. Sudah lama rasanya aku ingin menulis, menulis dan terus menulis. Sehingga, percakapan dengan orang lain pun terbatas. Tidak bicara kecuali ada kepentingan, menggosip pun harusnya hanya lewat tulisan. Tapi, gak kebayang juga gimana bau mulut orang-orang seandainya semua benar terjadi seperti itu.
Well, ini tentang tulisan yang aku baca di Kompas edisi 14 July kemarin. Walau sudah lumayan kering, tetapi aku tetap tidak bisa melupakan tulisan dengan judul Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan Ngelmu itu. Banyak petuah hidup yang aku dapat dalam tulisan itu, bahwa The Survival of The Fastes atau dalam bahasa yang lebih aku pahami yang bertahan yang paling cepat, daripada The Survival of The Fittest yang bertahan yang lebih kuat.
Cukup memukul telak diriku memang, semua yang aku jalani sekarang rasanya serba terlambat. Kadang ngiri juga dengan beberapa teman yang usianya jauh di bawahku namun punya kematangan pikiran dan keberhasilan akademik yang patut diacungi jempol. Prestasi mereka TOP MarKoTOp!! Sedang aku tetap jadi pengamat yang amit-amit. Tetep jadi orang yang Parno, gak Pedean, paling kurus kering luar dalam. Ouh, lengkaplah sudah..
Meski berkeinginan dan bercita-cita sama dengan mereka, menggapai dunia akhirat dengan sempurna, namun aku tidak bisa memaksakan jalanku. Aku bukan mereka, meski nanti akan mencapai pintu yang sama, tidak lantas menjadikan kita bersesakan memasuki pintu itu kan? Kita bisa mencari celah jalan yang lain. Selalu begitu pikirku. Gak tau kenapa aku selalu berpikir tidak normal, mungkin aku memang abnormal. Ya, abnormal luar dalam juga tentunya.
Walau menderita krisis PD yang akut, aku tidak lantas berguru tentang konsep PD pada biangnya. Aku lebih suka berpikir sendiri, bagaimana aku yang tidak PeDean ini bisa sejajar dengan orang-orang yang mempunyai Kepercayaan Diri yang tinggi. Selalu begitu yang aku tekankan, bukan berusaha setengah mati mengubah Ketidak Pedeanku menjadi PD bertegangan tinggi. Bagaimana juga ketika aku si Miskin ini, mengejar pendidikan seperti yang kaum Borjuis dapatkan. Tidak harus mengubah aku jadi kaya juga kan? Dan aku cukup nyaman dengan caraku. Slow but Sure..
Untunglah aku baca tulisan itu, bahwa mau tidak mau kita memang harus berubah. Tempora Mutantur, et Nos Mutamur In Illis. Jika tidak cekatan, kesempatan akan hilang di tengah dunia yang berlari tunggang langgang. Maka, dengan keterkungkungan pola pikir seperti itu tidak akan menutup kemungkinan jika aku bakal terinjak, terlewat begitu saja dengan sang waktu dan perubahan yang tiada pernah berhenti walau sedetik.
Mau tidak mau, perubahan adalah keniscayaan yang dapat dialami oleh apapun, siapapun dan bagaimanapun. Tidak hanya dialami semata, perubahan memang sebuah tuntutan besar jika ingin tetap menjalani hidup ini. Jadi percuma saja berkeinginan besar dan macam-macam jika mengubah diri sendiri aja susahnya minta ampun. Yah, mengutip salah satu petuah bijak Dai Kondang yang sudah agak tenggelam namanya, perubahan itu dimulai dari diri sendiri dan dari hal yang paling kecil. So, berubah memang harus. Meski gak mudah..
Jadi inget bedah buku Gray Area beberapa waktu lalu, buku dua muka yang menceritakan kehidupan dua mahasiswa dari sudut pandang bertentangan itu cukup membekas juga dalam pikirku. Bagaimana pengaruh globalisasi bagi sosok Desy dan Alifa. Buku yang ditulis berdasar reportase itu menguak kehidupan Desy, Clubbers sejati yang tidak pernah melewati malamnya tanpa clubbing, ngeseks dan semua yang bagi dia mengenakkan. Bagi dia, globalisasi adalah kesempatan hidup yang memberi banyak peluang untuk berubah, dia yang dulunya anak kampung, setelah menjadi mahasiswa di Yogya harus mengubah total gaya hidupnya. Dan dia menemukan cara perubahan itu dengan dunia malam yang digelutinya sekarang. Selain dikenal sebagai Penyiar di salah satu Radio terkenal di Yogya, orang-orang bisa menemukannya di tengah jibunan para Clubbers yang tidak pernah melewatkan malam begitu saja.
Sementara di sisi lain, ada sosok Alifa, mahasiswa yang justru menganggap globalisasi adalah ancaman yang lebih baik dihindari. Sehingga, dia memilih menjauh dari semua kegiatan dunia yang melenakan. Bagi Alifa, hidup adalah ibadah. Maka, semua yang dijalaninya adalah atas dasar perintah dan larangan agama. Ia berjilbab lebar, bercadar dan nyaris tidak mengenal istilah gaul di Kampusnya. Ia tidak peduli dikatakan apa saja. Sebab baginya, hidup akan lebih mulia jika hanya mencintai Tuhan, tanpa berpaling sedikitpun pada segala sesuatu yang sengaja menggoda.
Dua mahasiswa itu bisa jadi merupakan gambaran umum kondisi seluruh manusia saat ini. Ada yang larut dalam keduniawian layaknya Desy, banyak juga yang bersikap mulia seperti Alifa. Yang pasti dua-duanya tidak ada padaku. Meski dalam hati yang paling tulus, pengen juga sekali-kali mencoba larut seperti Desy, habis itu baru bertobat menjalani hidup semisal Alifa. Ha.. Ha..
Bisa jadi juga kita tidak termasuk dalam keduanya, berkali Clubbing dan sekali menghadap Tuhan penuh penyesalan. Atau bisa juga sebaliknya, berkali menyesali dosa, sekali Clubbing ketagihan jadinya. Hehe.. Life is Choice katanya. So, dipilih.. dipilih.. Sayang anak, Sayang Istri, Sayang suami! Beli satu dapat dua, monggo saputangannya..
Apapun warna dan kemasannya, hidup memang harus berubah. Tidak harus total, meski setengah-setengah juga kadang lebih memalukan. Yang pasti, siapa cepat dia dapat. Sekali saja kita berhenti, relakan dirimu terinjak, tertinggal jauh dengan waktu yang berlari kencang tak pernah peduli pada siapapun dirimu. Entah Desy, Alifa atau siapa saja..
meskipun aku tidak tau pasti dari bahasa apa judul ceritamu diambil and apa artinya, yang pasti life is a choice nya kok kayak di blog ku ya. hehehe tambahin dong kata2 a choice to make a change… tapi tetap katanya SB hidup adalah perbuatan, baik itu seperti alif, desy (bukan aku, tapi yang di buku itu), ataupu ur self alone.yang pasti pesan ku Keep strong and keep fighting, we are not weak. people can’t hurt us, we are great.
desy
Juli 28, 2008 at 9:48 am
buuuuuuuuuuuu….jujur ya,,,,tapi jangan GR ya….sebenernya pi2n ngiri tau,,,,ibu bisa nulis bagus2 kaya gini,,,daripada banyak ngomong ga da isinya bikin malu aj kaleeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!!!
eh kalo kata kang yob…orang yang jilbannnya lebih lebar dari biasanya itu adalah orang2 yang pro kapitalis,,,,
buruan pulang bu dari KKN,,,,ga seru ni ga da temen buat diejek mpe jelekzzzzzzzzzzzzzzzz
piien
Agustus 8, 2008 at 5:39 pm
orang di katakan lemah jika dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas… karena apaun pasti ada jalan keluarnya…
ick
Agustus 22, 2008 at 4:48 am
jadi silakan berlari secepatmu. dg itu kau akan gapai cita2 muliamu. :p
anton
September 2, 2008 at 4:16 am