Ruang Cerita Tumik

Rumah Cerita, Ruang Berbagi Rasa

Archive for September 2008

Sok Idealis yang Berbuah Manis

with 5 comments

Setelah hampir sebulan aku berkorban memaksakan kehendak dan membunuh kemalasan. Berkutat dengan ratusan catatan tindak korupsi pejabat tai kucing di MCW, yang menyuntikkan keprihatinan berkepanjangan.. Akhirnya aku bisa tersenyum agak lega mendapati sms dari beberapa teman KKN kemarin. ternyata kelompok 3, yang notabene adalah kelompokku dinyatakan sebagai kelompok KKN terbaik periode semester ganjil 2008 ini. Tidak cukup banyak yang dihadiahkan atas prestasi ini. Tapi aku sedikit berpuas diri, karena ternyata KKN yang aku tempuh dan sempat aku sesali benar-benar melegakan banyak pihak.

Aku masih inget betul ketika aku berjuang memegang komitmen tidak mau membayar wartawan untuk meliput kegiatan yang diselenggarakan kelompokku. Setengah ngotot meski mendapat sorot agak mencemooh atas sikap sok idealisku, aku hanya diam. Dalam hati aku bertekad membenarkan kekolotan sikapku. Aku pasti bisa melobi media dengan cara yang tidak kampungan. alhamdulillah jadi dimuat dan tanpa bayar. Wuih leganya…

Written by attumic

September 23, 2008 at 9:36 am

Ditulis dalam Tak Berkategori

Pancaran Semangat Isro Mi’roj di Wajah Polos Anak-anak Kare

with 5 comments

Memperingati hari besar tidak harus dinikmati dengan perayaan besar-besaran, banyak hal terlupakan jika manusia telah tergelimang  kilau dunia yang melenakan. Sering manusia justru lupa akan esensi dari hal yang dirayakannya. Pengalaman sangat menyentuh bagi saya dalam peringatan Isro’ Mi’roj kali ini cukup menguatan pendapat yang saya kemukakan.

Berangkat dari rasa frustasi karena banyak program Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok saya terbentur dengan progresitas kampung yang saya tempati, membuat saya dan teman-teman lain di Kelompok-3 UMM KKN yang ditempatkan di Kare, Madiun kembali memutar strategi untuk menjalankan misi pengabdian kami kepada masyarakat. Bukan hal yang mudah, banyak agenda acara besar yang terpaksa dihapus begitu saja karena kurang mengena dengan kebutuhan masyarakat sebenarnya.

Untunglah, masih ada sasaran tak terbantah yang mampu menyelamatkan program KKN-T kelompok saya, mereka adalah anak-anak yang dengan kepolosan dan keceriannya mampu membangkitkan semangat perjuangan kami. Dimulai dengan pengajaran di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) setempat. Kami pun terpompa semangat untuk menjalankan kembali misi kami.

Pengalaman paling menyentuh adalah pada peringatan Isro’ Mi’roj yang kami gelar beberapa waktu lalu, dengan kemasan sangat sederhana kami cukup terharu menyaksikan respon mereka. Sekitar 30 santri TPA terpukau pada dongeng yang kami ceritakan dengan keterbatasan media yang ada.

Isro’ Mi’roj yang diperingati sebagai moment penting ke-Rosulan Muhammad menerima perintah sholat dan menjelajah langit dengan buroq, kendaraan yang mampu menerbangkan Muhammad hingga langit ke-tujuh. Tanpa mengurangi makna moment ini, kami mendongeng untuk anak-anak dengan cerita sederhana tentang pentingnya mensyukuri kesempatan hidup yang masih bisa dinikmati sampai detik ini.

Memang benar, hal paling indah dalam hidup ini adalah menikmati masa kanak-kanak, masa yang tidak pernah dapat tergantikan oleh apapun. Bahkan, kilau kemewahan pun tidak dapat menebus keceriaan mereka. Sebab, kanak-kanak merupakan dunia yang colourful, tidak tersentuh perbenturan yang memecahkan dunia sekalipun. Dengan kepolosannya, mereka bisa menjadi sasaran empuk bisnis, dan dengan keceriaannya mereka juga dapat membangkitkan semangat hidup yang hampir pupus.

            Kami menyulap berbagai peralatan dan bahan masak menjadi media untuk mendongeng kepada mereka. Mulai dari sendok, garpu, wajan, hingga tomat dan mentimun sebagai visualisasi dongeng kami. Cukup sederhana, pada setiap peralatan masak yang ada, kami tambahkan mata dan bentuk bibir sesuai karakter pelaku yang kami ceritakan.

            Subhanalloh, santri TPA ini dengan seksama menyimak cerita kami. Dengan tatapan heran mereka menyaksikan piring, garpu dan bebrapa benda dapur lain yang kami ganti nama dalam kisah yang kami ceritakan itu. Kami yang semula grogi, berkeringatan di balik tirai sederhana yang sesekali menyembunyikan wajah kami, sebab kami hanya menampakkan tangan masing-masing yang membawa alat dapur sebagai media dongeng kali ini.

            Setelah dongeng selesai, kami menanyakan pada mereka nama-nama tokoh dalam cerita kami, sungguh mereka masih ingat betul. Satu demi satu tokoh yang kita tanyakan dapat dijawab tepat oleh mereka. Padahal kami sendiri nyaris lupa karena dongeng dadakan itu memang tanpa skenario, full improvisasi dari kami. Masing-masing di antara kami bertiga sebagai pendongeng hanya mengerti inti cerita, tanpa dialog yang mestinya kami buat terlebih dahulju.

            Sungguh, melihat mereka kami terenyuh. Anak-anak memang sasaran empuk bagi semua kalangan. Dunia yang dimilikinya dapat dijamah siapapun yang ingin menjadikan mereka prioritas tujuan, atau juga bagi kami yang ingin tetap dapat menjalankan misi KKN periode ini, memajukan pendidikan dalam semua lini. Begitupula ketika kami tanyakan pengetahuan mereka seputar Isro’ Mi’roj, kami pun dibuat terbelalak. Pengetahuan mereka jauh lebih fantastis dibanding pengetahuan kami yang hampir terkikis oleh kesombongan kami. Peranakan kampung memang sering diidentikkan dengan ketertinggalan, meskipun kenyataan justru sering berlawanan.

            Bagaimanapun, memperingati hari besar memang tidak harus bermewah-mewah. Sebab, justru sering dengan kesederhanaan yang ada, kita baru tertohok dengan realita yang ada sebenarnya.

 

 

Written by attumic

September 14, 2008 at 6:43 am

Ditulis dalam Tak Berkategori

Berbagi Press Release..

without comments

Ini sekadar sisa press release yang aku kirim ke media lokal Madiun. Tengkiuh, ada yang dimuat nyaris tanpa edit. Seneng aja jadinya..

Menggalang Social Heart Demi Pemberdayaan Pendidikan

Madiun, Kare

Harus diakui, kondisi pendidikan di Indonesia masih cukup terseok-seok. Kurangnya Sumber Daya Manusia menjadi hal klasik yang belum menemukan solusi sampai saat ini. Tenaga pengajar masih sangat terbatas baik kualitas dan kuantitasnya. Apalagi tenaga pengajar untuk beberapa daerah di wilayah Indonesia. Selain jumlah yang tidak banyak, tenaga pengajar yang ada tersebut memiliki skill yang sangat minim dan kurang beragam.

Hal ini diperkuat dengan kondisi ekonomi negara yang kurang stabil dan semakin memperpuruk kondisi pendidikan yang ada. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada pun kurang mampu menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang proses belajar-mengajar sehingga, pendidikan Indonesia justru semakin terbelakang dari negara-negara lainnya.

Tidak hanya itu, keterkungkungan beberapa kelompok masyarakat juga menjadi tantangan terberat bagi penggerak pendidikan itu sendiri. Tidak sedikit masyarakat yang masih beranggapan pada stigma lama, pendidikan hanya dapat dienyam kaum borjuis semata. Nyatanya tidaklah demikian. Di mana ada kemauan, di situlah Tuhan memberi jalan. Menyikapi kondisi itulah, Kelompok Kuliah Kerja Nyata-Terpadu (KKN-T 03) UMM memprakarsai penggalangan dana bantuan pembangunan Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Atfal (TK ABA) 17 Kare Madiun. Diwakili PR III UMM, Joko Widodo dan staf Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM), Amir Syarifudin mendanai 10 juta untuk pembangunan yang dilaksanakan (3/8/09).

Dalam sambutan singkatnya, Joko mengemukakan, pendidikan di Indonesia sebenarnya tetap menjadi bagian klasik yang tidak mudah dipecahkan. Namun, bukan berarti tidak bisa direlisasikan sama sekali. Untuk itu, semestinya memperbanyak kerjasama untuk dapat menyelenggarakan pendidikan holistik di negeri ini. Bukan hanya pembangunan fisik, pendidikan sebenarnya adalah proses perubahan mindset masyarakat.

Maka, kerjasama yang dibutuhkan bukan hanya persoalan materi, namun bagaimana menggerakkan Social Heart seluruh pihak demi pemberdayaan masyarakat tertinggal atau masyarakat yang masih jauh dari kemamapanan sesungguhnya. “Pendidikan merupakan lahan paling tepat untuk dioptimalkan seluruh pihak, maka jangan sampai kita siakan kesempatan ini,” paparnya.

Nurani sosial menurut Joko, sudah seharusnya dimiliki setiap orang. Sebab, apa jadinya dunia bila sudah tidak ada lagi orang yang peduli pada sesama. Ia hanya larut memikirkan dirinya. Berbeda dengan orang yang bernurani sosial, ia akan terus memperjuangkan cita-cita bersama. Selalu tergerak hati untuk berbuat sesuatu yang ermanfaat, tanpa eah dan tanpa pamrih apapun. “Untuk itu, kita harus selalu menggugah nurani sosial kita agar tidak rakus dan terlena dengan ketamakan dunia,”

Sementara, Kepala Pembangunan TK ABA, Warsono, menceritakan awal perjuanannya di TK ABA, ia mengaku mulai merintis pembangunan sejak enam tahun lalu. Namun, tidak juga terealisir karena banyak faktor. Di antaranya disebabkan minimnya biaya. Untuk itu, aliran dana yang diluncurkan pihak UMM disambut suka cita olehnya. “Semoga bantuan ini membawa barokah dan dapat menjadi kelancaran amal usaha,” ungkap laki-laki usia enam puluhan ini.

Sejak berdirinya TK ABA 17 Kare, Warsono mengakui belum mempunyai sarana dan fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar. Bahkan, proses belajar pun sering mengalami pindah lokasi dari rumah ke rumah. Berkat kesabaran dan segala usahanya, TK ABA saat ini sudah mempunyai lahan tetap dan sedang dalam proses pembangunan.

Wilayah Kare bagi Warsono adalah medan yang cukup menantang, sebab letaknya yang terdiri dari banyak tanjakan jalan dan perbukitan membuat jarak rumah warga yang satu dengan yang lain lumayan berjauhan. Bahkan terdapat pula anak didiknya yang bertempat tinggal jauh dari sekolahan. Namun al itu tidak menyurutkan keinginan mereka untuk terus menuntut ilmu. Buktinya, meski belum mempunyai gedung tetap, namun siswa TK ABA 17 terhitung paling banyak dibanding sekolah TK lain yang berlokasi di Kare. “Sampai saat ini, jumlah anak TK ABA 17 cukup membuat saya bangga,” tuturnya.

Written by attumic

September 14, 2008 at 6:36 am

Ditulis dalam Tak Berkategori

Salah Dua Celah Itu..

with 2 comments

Lokasi KKNku memang sedikit unik. Sebab kawasan Kare merupakan kecamatan terluas di Kabupaten Madiun. Bentuknya memanjang seluas 17.776,615 Ha. terbagi 8 desa terdiri dari 33 dusun 227 RT. Desa Mbodag, mBolo, Kepel, Kuiran, Kare, Randualas, Cermo, Morang memanjang di perbukitan kaki gunung Wilis 27 km timur Madiun. Masyarakatnya sebagian besar bekerja sebagai petani dan buruh tani ini cenderung modern menurutku. Dan memang benar, menurut aparat desa setempat, Kare sudah tidak membutuhkan penanganan lain. So, kami sempat kelabakan mau berbuat apa di situ. Selain terhambat kemajuan desa, lokasi KKN juga terbentur pada perbedaan organisasi keagamaan setempat. Informasi yang lebih dulu kami terima adalah Muhammadiyah -yang notabene naungan kampus kami- termasuk minoritas di Wilayah Kare ini. Hal ini menyebabkan apatisme masyarakat Kare terhadap segala hal yang berbau Muhammadiyah juga patut diwaspadai. Tidak tanggung-tanggung, yang menjelaskan hal tersebut panjang lebar adalah Pengurus Cabang Muhammadiyah Kare, yang otomatis merupakan Bapak Kos kami, para cewek.

            Banyak hal yang beliau paparkan tentang perbedaan itu. Begitu ekstrim dan sangat asing di telinga. Satu-satu di antara kami bahkan ditanyai dari organisasi islam mana kami dibesarkan? Oh God! Meski mengenyam pendidikan di Muhammadiyah sedari lahir, aku tidak pernah diinvestigasi seperti ini. Dan walau kami berasal dari Universitas Muhammadiyah Malang, kami tidak pernah ditanya langsung oleh Rektor atau pejabat kampus yang lain seputar hal tersebut. Justru Kampus kami sangat terbuka menerima mahasiswa dari berbagai belah dunia, agama, suku ras dan segala macamnya. Meski kampus Islam, berbasis Muhammadiyah, toh kampus tidak pernah mewajibkan mahasiswanya berjilbab pada jam kuliah, semuanya bebas. Asal beradab..

            Tentu saja investigasi Bapak Kos kami rasa Lebay, beliau memberi wejangan tentang apa yang seharusnya kami perbuat. Kami harus memprioritaskan Muhammadiyah dalam menjalankan tugas KKN ini, mengajar TPQ pun harusnya TPQ Muhammadiyah, dan lain-lain dan lain-lain. Otomatis Romantis, gak bangetlah! Teman-temanku mulai berkasak-kusuk. Itu intervensi! Jangan mau diinternvensi lebih jauh lagi! Kita yang punya program, kita juga yang tetapkan sasaran. Begitu respon Buntel, Kordes kelompokku.

            Tanpa bermaksud mengesampingkan semua arahan Bapak Kos, aku yang menjadi Penanggung Jawab pengajaran TPQ justru sengaja banget tetap mempertahankan TPQ di bawah naungan Nahdhiyyin menjadi target pengajaran kami. Bukan bermaksud menyebarkan misi muhammadiyah atau bagaimana, tapi ini murni karena aku merasa lucu saja jika mau melakukan  sesuatu untuk orang lain dengan mengutamakan latar belakang dia, lebih-lebih perbedaan yang sengaja diciptakan karena ketidak samaan naungan organisasi agama.

            Alhasil, selama sebulan itu pula banyak hal yang aku coba lakukan untuk para santri di TPQ Al-Ikhlas, Dusun Sambong Kare. Lega rasanya melihat respon anak-anak TPQ yang setiap hari seolah menantikan hal baru dari kami. Kami makin semangat mencari games yang edukatif, mendownload lagu-lagu TPQ zaman bahulea untuk memompa semangat belajar mereka. Bersyukur, santri TPQ yang jumlahnya hanya tigapuluhan anak itu sangat apresiet dengan apapun yang kami berikan. Hiburan paling puncak adalah pada peringatan Isro’ Mi’roj yang kami rayakan dengan sangat sederhana dan full improvisasi. Begitu terharunya aku dan kedua temanku yang lain, yang menjadi narator dadakan dongeng antah berantah, tidak jelas mengadopsi darimana, berniat mengirim tulisan ke Warteg Surya. Tetapi hasilnya nihill Maka, ada baiknya aku posting sekalian di sini tentang kegiatan itu.

            Celah lain yang membuat kelompokku, terutama Seksi Pendidikan dan Keagamaan -dimana terdapat namaku sebagai salah satu anggotanya- cukup bernafas lega adalah ketika aku mengajukan salah satu kegiatan ke Madrasah Tsanawiyah atau dengan nama lain Sekolah Menengah Pertama Negeri 01 Kare, kegiatan itu bernama Leadership Motivation Training yang dikemas dengan bentuk OutBond. Pihak sekolah menyambut positif kegiatan yang kami tawarkan. Limapuluh peserta yang kami targetkan pun dikabulkan pihak sekolah nyaris tanpa kesulitan.

            Bertepatan dengan kegiatan OutBond, kami mendapat kunjungan istimewa dari Pembantu Rektor III. Kedatangan beliau memang bermaksud menyalurkan sumbangan buat pembangunan Taman Kanak-Kanak yangh ada di Kare. Aku bikin press release tentang kunjungan PR III ku, serta aku buat juga tulisan tentang OutBond yang aku gelar. Beruntung sekali, duaduanya dimuat di Radar Madiun meski dalam waktu berbeda. Aku cukup puas karena berita yang dimuat itu murni tulisanku, nyaris tanpa edit. Aku tidak begitu mengerti apakah itu sesuai dengan Kode Etik Profesi atau tidak, yang jelas aku menikmati tulisan itu walau ditulis dengan inisial lain.

            Hal lain yang tidak kalah menarik adalah sebuah kenyataan lain dari kesempurnaan pencapaian pembangunan wilayah Kare. Memang tidak terbantah jika kawasan ini relatif maju, bahkan kondisi fisik rumah penduduknya pun jauh lebih mapan dibanding rumah warga di Kampungku. Pendapatan daerah, yang rata-rata penduduknya merupakan petani Cengkeh dan Kopi ini pun tidak dapat diragukan. Patutlah jika aparat desa sudah merasa di atas angin mendapati kondisi masyarakatnya seperti itu. Hanya memang, tak ada gading yang tak retak. Pun Kare, di tengah kepercayaan diri pemimpin daerahnya, masih ada banyak hal yang dibutuhkan masyarakat pada dasarnya.

            Meski pada awalnya aku bersungut setengah mati dengan KKN ini, namun pada akhirnya banyak pelajaran hidup yang aku dapat. Di antaranya:

v  Tidak seharusnya kita percaya begitu saja pada Aparat Desa yang terlalu membanggakan kemajuan desanya. Sebab, bisa jadi yang maju tuh sebenarnya cuman satu, sedang yang lain masih menunggu…

v  Sahabat itu bisa didapat di setiap tempat, tergantung hatimu berkehendak atau tidak.

v  Tidak selalu hal yang dianggap remeh temeh adalah hal yang tidak berguna. Sering jika terdesak, hal yang selama ini dianggap remeh justru menyelamatkan nyawamu sepanjang masa.

v  Dalam kondisi terpuruk sekalipun, kita akan selalu menemukan senjata untuk bangkit. Selalu ada penyemangat itu, meski kadang berasal dari sesuatu yang tidak pernah kita sangka, apalagi kita rencanakan.

Cukup sudah. Hanya itu catatan KKN yang bisa aku bagi..

Written by attumic

September 14, 2008 at 6:27 am

Ditulis dalam Tak Berkategori

Akhirnya Aku Kembali…

with one comment

Lega rasanya telah berhasil menempuh salah satu tugas kuliah yang diyakini banyak mahasiswa merupakan beban kedua selain skripsi. Yupz, kuliah Kerja Nyata atau yang lebih akrab diplesetin Kanan Kiri Nonggo, Kluyar Kluyur Nyaman dan kepanjangan lain yang tidak kalah mekso. Seminggu sudah aku kembali mendekap guling dan menikmati kamar kosku yang tidak nyaman-nyaman amat. Ada bebrapa catatan yang mengendap, sesekali berontak untuk dituangkan sekembalinya aku dari KKN.

Well, dimulai dari pemberangkatan KKN pada 25 Juli lalu. Aku tergabung dalam Kelompok 03 yang dipusatkan di pedalaman kota Madiun, tepatnya di Desa Kare Kecamatan Kare, Madiun. Sepanjang perjalanan ke tempat itu, aku ilFil banget ngeliat temen-temen kelompokku. Gaya mereka sok borju. Yah, cukup terbukti dengan iuran KKN kami yang jumlahnya relatif lebih dibanding kelompok lain. Bahkan untuk yang di dalam kota, iuran mereka bisa separo dari iuran kelompokku.

Jadilah selama dalam perjalanan aku hanya diam, tanpa menoleh ke teman yang lain. Aku hanya ngerumpi seadanya sama teman sebelahku. Itupun tidak lama karena belum setengah jalan, aku sudah KO duluan. Mabuk udara Bo’! keren gak seh? Sudah ilFil diperlengkap muntah. Lengkaplah muntah ilFil..

Malang-Madiun cukup memakan waktu yang agak panjang. Sepadan dengan perjalanan Malang-Lamongan. Hanya saja medan jalannya jauh lebih mengguncang. Bagaimana berbahayanya tanjakan demi tanjakan yang selalu mengundang desir kekhawatiran. Sudah pusing, ditambah pemandangan mencekam lagi. Ada sepeda motor yang tabrakan sama truk, pengendaranya berdarah-darah. Aih, ngeri betul. Sepanjang jalan aku terpejam. Ini awal yang cukup membuat berpikir ulang kenapa aku memilih KKN keluar kota.

Belum cukup hilang mualku, ternyata sesampai di Madiun, perjalanan masih cukup menantang. Tanjakan perbukitan yang berada di Kawasan gunung Wilis ini lebih menegangkan. Bis Kampus yang kami tumpangi harus mengedan cukup lama untuk mencapai wilayah Kare yang letak geografisnya hampir sama dengan Malang, terutama kawasan Batu. Tikungan tajam serta tanjakan menantang merupakan sensasi perjalanan yang patut dikenang.

Akhirnya sampailah perjalanan kami, maka bermulalah segala cerita seputar KKN ini. So Tengkiuh buat semuanya.

           

Written by attumic

September 14, 2008 at 6:19 am

Ditulis dalam Tak Berkategori

Hallo Apa Kabar?

with one comment

Hallo apa kabar? Lumayan lama aku gak posting. Tadinya mau posting catatan selama KKN kemarin, tetapi ternyata belum aku masukin Flash. Jadilah posting ini sekadarnya ajah.

Well, gak terasa sudah seminggu lebih romadhon berjalan. Selain karena aku belum puasa sama sekali karena kebocoran ini, juga karena suasana romadhon di Malang memang jauh berbeda dengan di rumah. Jadi romadhon kali ketiga aku di Malang ini juga terasa biasa aja. Gak da hal menarik yang beneran menarik hasrat. Meski begitu, sempat baca opini Haidar Nashir di Kompas awal puasa lalu juga patut direnungkan sampai sekarang. Yah, romadhon memang momen yang baik bagi manusia untuk bertransformasi sesuai apa yang dipengenin. Paling gak, aku berharap dalam romadhon ini Tuhan bermurah hati mengizinkan ini adalah romadhon terakhir aku di Malang. Semoga romadhon tahun depan aku sudah berada di lain tempat lengkap dengan kerjaan mapan. Amiin..

Semoga aku tidak salah jalan dengan memutuskan menjadi relawan Anti Korupsi di Malang Corruption Watch. Jika selama ini aku cukup menjadi Simpatisan dan Relawan musiman. Maka di romadhon 1429 yang kulalui sekarang aku berharap penuh langkah ini merupakan awal yang baik untuk meniti karir di luar Kampus. mungkin benar yang Dosenku katakan, jangan mengukur segalanya dari materi, jalani dan selami dulu jika ingin bergabung menjadi Relawan. Toh dengan sendirinya, materi itu akan mengalir seiring pengalaman yang didapat seseorang. Lebih-lebih bagi orang-orang yang melibatkan diri menjadi anggota LSM yang benar-benat LSM semisal MCW.

Di antara sekian banyak orang yang menyayangkan keputusanku keluar dari Koran Kampus, hanya tatapan Dosenku ini yang menyuntikkan semangat lebih untuk menapaki dunia sebenarnya, berlari dari keterkungkungan kampus. Gak tahu kenapa, entah aku yang terlalu GR ato gimana. Dosenku yang terkenal sinis, satir dan anti kemapanan ini seolah banyak memberi aku kepercayaan. Yah, semogalah benar!

Itu aja dulu. Aku mau cabut. Yepz.. Mari berubah menjadi lebih. Jangan biasakan hanya setengah-setengah. Amiiin…

Written by attumic

September 8, 2008 at 3:00 am

Ditulis dalam Tak Berkategori