Jalan Damai Bayi Temanku
Salah satu hal yang sering membuatku miris, ngeri, iri dan prihatin pada diri sendiri adalah nasib jombloku sampai saat ini. gila! Kuliah sudah hampir kelar, aku belum merasakan belaian lekong sama sekali. I don’t know why, aku emang terlalu serem bagi kaum lelaki paling.
Tapi tidak jarang aku merasa bangga, merasa terselamatkan jika aku mengerti kasus semisal hari ini. Yupz, hamil tanpa dikehendaki. Well, aku emang lama banget pengen posting about this, temanku hamil tanpa aku sadari dan tanpa dia kehendaki. Lumayan lama komunikasiku terputus sama teman yang sebenarnya sangat penolong ini. Ya, hampir 5 bulanan aku tidak bertegur sapa dengan dia sejak kejadian malam itu, ketika semaleman penuh aku menemaninya menguras airmata menyesali cowok pilihannya.
Sudah bukan rahasia kalo pacar temenku suka main kasar, sering banget temenku ini badannya biru-biru, matanya bengkak sepulang dari kencan. Meski kadang aneh juga ngeliat itu bersamaan dengan lehernya yang penuh gigitan, bikin aku terjerembab dalam berbagai prasangka ketidak normalan orientasi seks pacar temanku. Mungkin dia tipe lelaki yang suka menyiksa dulu pasangannya sebelum memulai bercinta? Ataukah justru temanku yang mengidap kelainan itu?
Tapi jawaban yang tidak aku sangka meluncur sendiri dari bibir temanku, cowoknya yang agak pendiam itu memang tidak segan berlaku kasar kalo lagi marah. Apalagi kalo pas dia marah, temenku ini gak mau diem, ngeladenin terus apa yang dia bilang. Pakk!! Tamparan keras dan tinju tak hormat sering bersarang di tubuh langsing temenku.
Gila?! Aku paling merasa terhina ketika temanku menceritakan semua yang dialaminya, enak aja laki-laki main tangan sama perempuan, temenku yang bencong aja gak pernah segitu kasarnya ma perempuan. Sudah jelas bagiku ini penghinaan dan dehumanisasi berat terhadap perempuan!! Dia masih bisa memperbaiki semuanya, masih ada banyak waktu bagi temanku untuk tidak melanjutkan hubungan penuh penyiksaan ini.
Sekali dua kali aku mengingatkan temanku ini, meski begitu aku harus sering menelan ludah kekecewaan karena beberapa hari setelah pertengkaran seperti yang di ceritakan padaku ketika itu, temanku kembali berpeluk mesra dengan lakinya. Otomatis, dengan sendirinya aku kebal dengan semua curahan hati dia tentang lakinya. Terserah suka main kasar kek, mau temenku diperkosa kek, aku tidak pernah lagi mau ambil peduli.
Dasar manusia, secuek-cueknya aku, tetep tergoda juga pas ngeliat dia nangis gak henti malam itu. Malam keberapa setelah aku males ngomong sama dia. Ternyata, dia diputus sama lakinya. Aku bilang bagus dong! Ini saat kamu memperbaiki hidupmu, kuliah yang bener, memenuhi keinginan tulus orang tua yang sudah banting tulang menghidupimu. Emang siapa seh yang gak pengen kuliah mulus, pacaran juga lancar, meried, beranak pinak dan tetek bengek kenormalan hidup yang lain. Tapi buktinya toh kamu ga bisa kan? Coba inget-inget lagi nilai kuliah, inget lagi ratusan ribu hasil keringat ortu yang mengalir di kantong lakimu. Apa itu bukan berarti kamu mengkhianati kepercayaan orang tua yang dengan tulus tidak pernah mengeluh membiayaimu?
Pilihan ada di tanganmu, terserah kamu mau memilih jalan yang mana. Aku memang tidak berhak ikut menentukannya, sebagai teman yang masih cukup kamu percaya aku hanya mampu memberi gambaran pilihan-pilihan itu. Temenku hanya sesenggukan. Tetap kulanjutkan petuah sebagai perempuan gak laku, kalo kamu tetap pada pilihan perasaanmu, ya sudah! Kamu mesti menyelami dan menyesuaikan sikap dengan keinginan lakimu. Namanya cinta jelas ada yang dikorbankan dong? Kalo dia gak mau ngalah ya kamu harus lebih dewasa menerima kekurangan dia, memang seperti itu dia. Gak usah nangis-nangis lagi. Hidup ini simpel kok kalo kita mau berpikir simpel. Pret!! Dalam hati aku mengentuti petuah kepret ini. Temanku berterimakasih saking terharunya masih mempunyai teman yang masih bersedia mendengar keluh kesah dia. Aku hanya tersenyum simpul menahan kentut. Tengs! Mungkin aku memang harus melupakan dia. Ucapnya. Aku jadi sedikit lega..
Ternyata dua hari setelah kejadian itu, aku baru sadar benar, temanku tidak pernah memilih kedua pilihan itu. Dia tetap lanjut pacaran, dengan segala keributan yang membuat aku muak! Ternyata benar, tidak semua kekerasan yang dilakukan laki-laki adalah karena keegoisannya, tetapi juga karena kebodohan perempuan! Aku sangat sepakat. Aku kecewa bukan main! Sudah cukup dia menjadikan aku kantong sampah, sewaktu dia mual dia keluarkan semua isi perutnya, tanpa mengingat resep menghindari mual seperti yang tertera di kantongku. Enough!! Ternyata aku tidak cukup bijak untuk menjadi Konselor! Aku masih egois, dan aku merasa dipermainkan.
Lima bulan tanpa komunikasi, kaget banget setelah aku menyadari perubahan fisik temanku ini, tubuh langsingnya keliatan seger bener, terutama bagian perutnya. Hmm, aku terlalu berburuk sangka. Tetapi keburuk sangkaan itu makin menjadi manakala aku dapati dia mengkonsumsi nanas muda setiap pagi, dia minum sprite dan sebutir pil yang tidak pernah aku ketahui.
Hingga kemarin, malem jam 11 aku dapet telphon dari dia yang mengabarkan kalo dia sedang di Rumah Sakit, di ruang bersalin. Kemungkinan dia harus cesar meskipun usia kandungannya baru tujuh bulan. Tidak ada satupun keluarganya yang tahu kehamilannya, bahkan lebaran kemarin dia sengaja tidak pulang. Cukup menyentuh naluriku..
Seminggu setelah menghuni RS, bayi temenku pun keluar melalui cesar. Fakta yang paling menguatkan untuk cesar adalah karena kondisi kepalanya yang terlalu besar. Bayi temenku Hydrochepallus. Sehari setelah kelahirannya aku dapati sms yang tidak kalah mengagetkan! Tergopoh aku ke Rumah Sakit, aku cukup shock melihat bayi temenku, kepalanya sangat besar, di luar bayanganku. Ternyata hydrochepallus itu sedari lahir sudah begitu besar. Besar sekali untuk ukuran bayi sekecil itu, wajahnya pucat, salah satu kakinya pengkor, tidak cukup di situ, bayi temenku juga terdeteksi suspect flu burung. Karena itu semualah aku kembali tergopoh ke rumah sakit, bayi temanku hanya berhak hidup sehari. Tepat hanya sehari. Itulah jalan damai untuk bayi temanku. Tidak pernah bisa aku bayangkan bagaimana misalnya dia diberi hidup yang lebih lama.
Pulang ke kos, aku hanya diam. Shock benar rasanya. Lambat-lambat aku mengusir segala keinginan punya tukang ojek. Oh no! aku harus menghindari hal-hal yang dikehendaki. Tidak untuk sat ini..
Ya ampun…. saya sedih mendengar kasus seperti ini… tetap perempuan yang akan dirugikan kalau terjadi apa-apa
itikkecil
November 20, 2008 at 12:34 am
Tumik: bukan hanya sedih kali, miris banget emang. Yang lebih bikin prihatin, banyak banget perempuan yang mengalami hal serupa kan?
attumic
November 22, 2008 at 11:11 pm
don’t worry jadi jomblo slama kul bu, menurutku itu lebih baik. bukan karena aku juga menjomblo selama kuliah, tapi lebih karena selama kuliah, kamu masih dalam tanggung jawab ortu mu. selama dalam masa itu, menurutku tanggungjawabmu adalah ke ortu mu.
jikalau kamu dah bekerja and tidak menegadahakan tanganmu untuk minta belas kasih and bantuan pendanaan hidup dari orang lain or ortu mu, saat itulah kamu menjadi penanggung jawab bagi dirimu sendiri. kala itu, apapun yang kamu lakukan harus manjadi tanggungjawabmu sendiri.
sedari dulu aku selalu berpikir, apapun yang aku lakukan dalam hidup ku, maka aku harus bisa mempertanggungjawabkannya.
dulu pernah terpikir di benakku, jika aku mengalami hal serupa, menurutku dosa tidak perlu digandakan dengan menggugurkan kandungan atau berbagai upaya lain untuk membuat janin itu tambah tersiksa. be responsible aja, belajarlah mempertanggungjawabkan perbuatan kita dalam kondisi apapun. jangan pernah berharap belas kasih orang lain dulu, karena jika nanti tidak ada yang peduli sama kita, maka kita sudah siap dengan semuanya.
mungkin tulisanmu ini, bisa menjadi hal berharga bagi semua orang bahwa segala perbuatan kita, maka kita lah yang akan mempertanggungjawabkannya.
karenanya, semoga aja kita semua bisa benar2 menghargai setiap keputusan yang telah kita perbuat dan tidak menimbulkan korban akibat keputusan kita itu.
just be responsible!
desy
November 24, 2008 at 1:25 am
Mbak,
ga ada yg salah ma hidup ngejomblo..
lebih baek jomblo drpd punya masalah separah itu (astagfirullah!).
Aku suka bahasamu,
Baca tulisanmu, aku sedih!
Ya ALLAH..
Pengen nangis tp airmataku udah ta’ keluarin semalem..
Gmna ortunya klo tau???
Anaknya ngehianatin kpercayaan mreka?
Huauauaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………………
rheezu
Desember 1, 2008 at 5:00 am
aduh, kasian banget bayi itu.
bukan soal pacarane, tum. tapi mereka yg belum siap buat jd orang tua tapi sudah mau have sex. parahnya lg gak safe sex. jdnya ya begitu.
lha orang tuanya yg brbuat, trnyata bayi itu yg jd korban. aduh, miris banget..
tp, back to topic, it doesn’t mean that you don’t have to find a lekong. :p
a!
Desember 20, 2008 at 2:35 am
damn. bahkan ketika masih jadi janin, sudah merasakan kekerasan. ini jihad sebenarnya. jihad pada diri kita, jihad untuk anak kita…
luh de
Januari 11, 2009 at 1:23 am