Mujahid di Mata Emakku
Ini oleh-oleh mudikku kemarin, aku kaget bukan main ketika salah satu Kakak perempuanku dengan amat sangat antusias memperlihatkan cd tayangan proses penguburan Amrozi bersaudara. Bukan apa-apa, aku memang sengaja menghindari berita seputar ketiga orang itu. Malas aku mengikuti perkembangan beritanya sejak menjelang eksekusinya. Gak tau kenapa. Maka demi menghormati semangat Kakakku, aku pun bersedia menonton tayangan dengan durasi hampir satu jam itu. Tidak hanya proses penguburan, tayangan video itu juga berisi rekaman Mukhlas ketika menyampaikan wasiatnya, juga ada Imam Samudera ketika diwawancarai beberapa jurnalis, termasuk Jurnalis asing yang banyak mengorek informasi darinya.
Dalam proses penguburannya di Tenggulun sana, tampak dari tayangan video itu banyak sekali orang yang mengelukan Amrozi bersaudara, banyak dari mereka mengepalkan tangan, berteriak “Allahu akbar” aku makin negri, aku memang sering ngeri jika mendengar kalimah itu diucapkan dengan serentak mengepalkan tangan penuh semangat, mereka seolah siap melumatkan semuanya dengan kepalan itu. Benarkah mereka akan menghancurkan semuanya?
Aku tidak bisa membohongi perasaanku ketika menonton video Amrozi, rasanya merinding melihat begitu banyak orang, bertangisan saling berpelukan. Apalagi ketika muncul tiga burung yang terus beterbangan di atas lokasi pemakaman, kurang masuk akalku juga darimana asal burung itu, bahkan yang tidak kalah mencengangkan, terdapat awan putih yang membentuk lafaz Allah dengan bahasa arab di atas rumah Amrozi, its really? Apakah benar tidak ada rekayasa video ini? belum lagi jenazahnya keduanya yang benar-benar tersenyum. Aku melongo bingung, ekspresiku campur aduk. Antara berusaha merasionalkan berbagai peristiwa yang mengiringi proses pemakaman dua bersaudara itu dengan menyimak kata-kata Kakakku dan suaminya, kenapa mereka yang -maaph, sedikit membuka kartu gimana sebenarnya ibadah Kakakku dan suaminya, benar-benar Ahmoodiyah buangetz- menjadi sangat religius ketika menuturkan tayangan yang sudah jelas aku tonton itu?
Dengan nada bicara yang gak tahu marah sama siapa, Kakak iparku bilang, kalo Amrozi itu dibilang Teroris, lantas George W. Bush itu disebut apa?! Kenapa dia masih dibiarkan hidup? Sementara tiga orang yang begitu mulia dibinasakan dengan begitu saja. Aku tersenyum kecut, gak tau mau ngomong apa. Aku memang lebih suka diam untuk hal-hal yang tidak aku pahami benar, bukan apa-apa, untuk hal yang sudah menyangkut keyakinan, aku pilih mundur aja. Pilihan setiap manusia untuk meyakini apapun yang diyakininya, dan aku juga yakin jika keyakinanku benar.
Keyakinanku sama persis dengan keyakinan Makku, perempuan yang hanya mengenyam pendidikan sampai kelas empat SD itu kemarin menuturkan, sekaligus mempertanyakan kebenaran jihad yang dilakukan Amrozi padaku, ia bilang kenapa orang-orang di rumah saling mengelukan pembunuh begitu banyak orang yang tidak bersalah? Hampir semua tetangga, bahkan Pak Lik dan Mak Likku juga menceritakan proses pemakaman Amrozi dengan penuh gairah kebanggaan seolah mereka pahlawan? Katanya membunuh satu orang saja kita ini sudah berdosa, apalagi membunuh ratusan orang, meninggalkan kepedihan mendalam bagi mereka yang sekarang menderita cacat tubuh, kehilangan pekerjaan, anak-anak yang jadi telantar, apa itu tidak menyebabkan dosa yang lebih besar? Kenapa para Kiai yang lebih tahu agama juga seolah membenarkan cara jihad Amrozi? Mengelukannya sedemikian rupa? Begitu rentetan pertanyaan Emak waktu itu.
` Kali ini aku tersenyum getir, kenapa Emakku yang tidak punya sediktpun pengaruh bagi orang lain justru mempunyai pikiran seperti itu? Tidakkah lebih menyenangkan jika orang yang berpikir seperti itu adalah orang yang paling tidak dia bisa mempengaruhi orang untuk tidak pula menjadi pembunuh, Teroris atau pengebom yang melukai perasaan dan fisik banyak orang? Menurut keyakinan emak, jihad tidak hanya bisa dilakukan dengan cara seperti itu, ia setiap hari juga berjuang melawan kemiskinan yang dapat menyeret seluruh anak yang dilahirkannya menjadi generasi bodoh, emakku berjuang, berjihad demi masa depan anak-anaknya seperti sekarang.
Menghidupi delapan anak di tengah segala keterbatasan yang ada bagi emakku bukan sekadar jalan, ia mempersiapkan berbagai stategi untuk terus menghidupi kami agar tidak jatuh pada lubang naif kehidupan yang dapat menghancurkan siapapun. Siapa bilang emak bukan Mujahidah? Justru emak bagiku adalah pahlawan tak kenal lelah yang nanti juga akan tersenyum damai saat menutup usianya. Ia tentu juga Syahidah.
Mirisnya, ketika Emak menanyakan kebenaran jihad yang dilakukan Amrozi apakah tidak melanggar agama, orang-orang yang dianggap Emak mengetahui hal itu justru menganggap Emak berdosa menanyakan hal demikian. Sudah terlihat jelas tanda-tanda kebesaran Allah untuk menggolongkan Amrozi sebagai Mujahid syahid saat proses pemakamannya kemarin, apalagi yang membuat muslimin meragukannya? Begitu emak dicecar pertanyaan balik sebagai jawaban pertanyaan yang dilontarkannya.
Entahlah, aku juga tidak mengerti bagaimana kebenaran jihad yang diinginkan Tuhan, apakah begitu kejam cara yang harus ditempuh jika kita menginginkan surga sebagai muara segala kebajikan yang kita perbuat di dunia ini? Lantas berapa banyak lagi permusuhan dan dendam yang harus kita tanam jika kita terus menginginkan surga dengan cara demikian?
Melihat begitu banyak orang yang mengelukannya, menyaksikan keajaiban yang mengiringi proses pemakaman Amrozi bersaudara aku justru berpikir lain, tidakkah masuk akal jika Amrozi justru menikmati masa penahanannya dengan segenap penyesalan atas perbuatannya, mungkin dia justru bertobat penuh janji pada Allah untuk tidak mengulang perbuatannya, sehingga penyesalan itulah yang sebenarnya mengantarkan ia ke surga, meninggalkan dunia dengan senyun terdamai yang menjadi pesan terakhirnya. Karena Tuhan berjanji akan mengampuni sebesar apapun dosa manusia manakala ia menangis menyesalinya, bahkan salah satu bulu mata manusia akan mampu bersaksi mengantar manusia menuju surga karena taubat dan penyesalan yang dilakukannya. Itulah taubatun nasuha, penyesalan sepenuh jiwa. Mungkin Amrozi melakukannya sedetik sebelum kematiannya. Yah, hanya Tuhan yang tahu kan?
kita boleh punya keyakinan macam apapun! menuhankan batu juga, monggo… orang pikiran pikiran kita sendiri kok.
yg ngga boleh itu mencelakaan, apalagi menghilangkan nyawa, orang lain.
kalo amrozi cs itu emg islam, pasti tau dong prinsip membunuh seorang manusia itu sama saja seperti membunuh seluruh manusia.
kalo orang ada yg ragu amrozi cs itu mujahid atau tidak, lha saya malah ga yakin mereka itu emg muslim.
oiya, makasi udah di-add di facebook ya. Wassalam…
Nesia!
Desember 14, 2008 at 1:56 pm
Hanya Tuhan yang tahu….
itikkecil
Desember 15, 2008 at 6:43 am
semua tanda2 itu hanya ilusi. kalo toh benar ada, itu bukan brarti kita membenarkan perbuatan amrozi cs.
nyatanya mereka sudah membunuh ratusan orang. membuat orang kehilangan nyawa, kehilangan keluarga. banyak orang jd yatim, jd janda, jd duda, jd sebatang kara. masa begitu disebut jihad.
kalau toh mereka memang dianggap syahid, ah, betapa piciknya kita memaknai jihad.
a!
Desember 20, 2008 at 2:29 am
bu, mau dong liat videonya. penasaran neh…
desy
Desember 31, 2008 at 12:30 pm