Archive for Desember 22nd, 2008
Taruhlah 5 Cm Tepat Depan Jidatmu!!
Mantapz! Gak da kata lain selain itu untuk buku yang sedari 2005 lalu pengen aku beli. Aku sudah tertarik banget waktu liat sampul itemnya, dengan judul yang cukup absurd, penuh godaan. Singkat, padat dan kenyal. Mak Crot! Hanya saja, waktu ke Gramedia ketika itu, waktu aku sudah mupeng banget dengan memegang bukunya, Mbak Kosku yang mirip Geisha bilang: “Aduh Dek, buku apa ini? kok kamu gak jeli seh kalo milih buku, cermati dulu pengarangya, liat juga penerbitnya,” aku langsung ho’oh aja mengembalikan buku item itu di raknya semula. Jadilah aku beli Kembar Keempatnya Sekar Ayu Asmara sebagai penggantinya, meski cukup bagus, tapi lebih hebat buku item itu. Susah ngejelasinnya..
Semua berawal dari persahabatan Arial, Ian, Riani, Zafran dan Genta. Serasa menceritakan persahabatan dan segenap mimpi gilaku dan para Gankgong, Aku Nisa (situakerdilmentalpembantu), Sang Populis Suwarni Puji Lestari (SPL), Aulia RahmamatiJ, Pinandu (sitebarpesonatakunjunglaku) dan Desy Ayu Pirmasari (singarepemelmabule) Haha..
Masing-masing kami punya mimpi yang dengan cara kami pula, tak berhenti mewujudkannya. SPL misalnya, dia punya mimpi tinggi untuk menjadi Mendiknas RI, sering pula dia pengen gantiin SBY cepet-cepet. Usahanya tidak tanggung-tanggung, sedari awal kuliah dia tanamkan benar keinginan itu, sehingga dia pun melibatkan diri dalam organisasi kampus yang kemudian mengantarkannya menjadi Ketua Senat Mahasiswa Universitas beberapa waktu lalu, karena jabatannya itu, dia nyaris keliling Indonesia gratis. Kemana-mana bo’! difasilitasi kampus lagi. Weleh-weleh, jadi pejabat emang sedap..
Lain lagi dengan Aulia Rahmamati, gadis sedaerah ma aku ini bawaannya kalem (kayaklembu), penampilannya mellow, tetapi garang juga gerakannya. Terbukti, dia berhasil memimpin majalah fakultasnya, bu Pimred gitulah ceritanya. Dia juga punya mimpi yang mulia bener, dengan segala kekayaannya, dia pengen bikin panti asuhan, rumah singgah atau juga perpustakaan umum yang bisa melayani banyak kaum miskin, saking besar simpatinya dengan kaum dhuafa, baru-baru ini dia bahkan pengen mendirikan Aliansi Mahasiswa Anti Miskin (nyambung ga seh?), sebagai Bendahara Senat Mahasiswa kampus, dia terbiasa pegang banyak uang, makanya pengen banget membelanjakan uang itu untuk kepentingan ummat. Mulia juga kalo banyak pejabat kita punya pikiran macam Aul, gak kan ada kunjungan kerja yang cuman ngabisin duit itu, duit negara pasti tersalurkan dengan baik dan benar. Amin..
Untuk temen ku yang ketiga, si Bantet Pinandu, aku gak begitu tahu. Selain cerita baru tentang gebetannya, kata lain yang sering aku dapati dari dia adalah Pusing! Kurang tahu juga apa sebenarnya yang dia pusingkan, mungkin puyeng mikir urusan ummat, karena sebagai Menteri Pendidikan di BEMU, dia pasti tidak bisa sesantai dan semohai aku (simentalpembantu ngeles neh..) Gadis Lampung ini keren juga, sudah banyak dia melanglang ke berbagai belahan Indonesia dengan biaya Kampus. Maklum, pejabat.
Di antara semuanya, mungkin yang bisa dibilang udah berhasil saat ini adalah singarepemelmabule, nilai akademisnya gak bisa dibantah! Wisuda angkatannya kemarin, dia dinyatakan sebagai wisudawan dengan predikat terbaik untuk nilai akademis dan non akademis. Tidak terhitung berapa banyak mimpi yang sudah dia wujudkan, sama halnya dengan SPL, Desy juga udah nyambangin Kakeknya di Istana negara sana. Agustus tahun lalu tepatnya, ketika dia dinobatkan menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional ke-15. sering dia cerita, salah satu impiannya sedari kecil adalah ikut upacara 17 agustus di Istana Negara, dan itu sudah berhasil dirasakannya. Nggak heran juga kalo dia lolos menyisihkan tiga ribu nyawa yang pengen gabung ke tivi one beberapa bulan lalu.
Berkumpul dengan mereka, aku selalu menemukan hidup. Mulai dari nonton film, gila-gilaan di Kamar kumuh pojok tirto gank VII, nyoba minum wine, antipati pada perbincangan seputar cowok, segala obsesi hidup yang harus dicapai sebelum usia kepala tiga. Sungguh sama gilanya dengan persahabatan Genta and the gank. Mimpi-mimpi itu selalu berseliweran, kadang indah benar, sering banget juga tidak masuk akal. Yang pasti kita harus punya mimpi.
Sebagai pemimpi menjadi Social Worker professional, pengikut jejak Bill Dryton dan Butet Manurung, aku selalu membayangkan suatu saat aku berada di tengah lingkaran orang-orang yang sangat membutuhkanku, menyimak dengan cermat segala pendapatku tentang bagaimana perempuan harus menghargai dirinya. Tidak harus selalu menjadi korban ketika terjadi kekerasan psikis maupun sosial. mimpi itu indah benar.
Tidak berhenti di situ, sering juga aku membayangkan seandainya aku bisa dapet beasiswa ke luar, aku belajar banyak tentang community development, aku praktekkan di rumah, mengawali pembenahan bangsa ini. Tuhan, betapa mulianya.
Makin Ngiler Jadi Wartawan
Nyaris tidak ada hal baru dari Diklat Jurnalistik yang digelar Kompas bersama UMM kemarin (15-18/12). Materi tentang feature, straight news dan yang lain sudah pernah aku dapat ketika ikut diklat bestari beberapa tahun lalu. Sampai detik ini toh aku masih belum begitu faham bedanya straight news, hard news atau soft news. Aku masih sering kelimpungan, sebenarnya tulisanku termasuk jenis berita yang mana :-Q
Dari segi pembicara, yang terdiri dari senior Kompas, mulai dari Marx Margono, F.A. Santoso, Nur Tjahyo, dan Suprihadi yang lebih populer dipanggil Sanchuk, jelas tidak meragukan kapabilitas mereka sebagai senior yang patut digali luar dalam pengalaman jurnalistiknya. Memang gak rugi seh ngumpul bareng mereka selama empat hari. Rasanya justru kurang lama.
Di antara keempat pemateri, pak Nur Tjahyo termasuk Senior Kompas yang paling tua, usianya kalo ga salah sekitar tujuh puluhan. Setelah Pak Nur, Pak Marx Margono menduduki peringkat kedua. Baru Pak F.A Santoso, dan Pak Sanchuk menyususl berikutnya. Hal paling menarik bagiku dari pengakuan masing-masing mereka adalah kecelakaan yang harus mereka terima. What? Hampir dari semuanya mengaku jika menjadi wartawan Kompas bermula dari kecelakaan yang tidak pernah disengaja.
Pak Nur Tjahyo misalnya, ia mengawali karier sebagai karyawan di salah satu perusahaan di Surabaya, kurang begitu jelas aku denger penjelasannya seputar perusahaan yang dia bilang. Hanya saja, cukup menarik karena menurutnya gaji di perusahaan itu lebih dari cukup ketimbang gajinya di Kompas. Its really? Bukan hanya Nur Tjahyo, ketiga senior yang lain turut menimpali. Sama-sama merakan celaka yang berbuah surga J
Salah satu peserta dengan jujur menanyakan apa kiat mereka bisa bertahan dalam kecelakaan yang jelas butuh perjuangan panjang untuk menerimanya. Sayang, jawaban mereka kurang detail. Cukup banyak sih hal yang bagiku memang patut disayangkan dari diklat kemarin. Salah satunya alokasi waktu yang kurang terkontrol, penyampaian materi yang cukup monoton, dan pelibatan panitia yang sekaligus menjadi peserta, jadi pemenang lomba pula. Hm..
Hal yang paling membekas dalam benak diriku dari diklat kemarin itu, orang-orang Kompas sangat low profile, tampak juga kesolidan tim kompas yang luar biasa. Buktinya, Pak Marx Margono sempat bercerita jumlah wartawan kompas dari Lamongan, yang dia sebut dengan bangga adalah Mas Faiq, gak begitu kenal juga seh sebenarnya aku, cuman beberapa kali pernah ketemu di rumah. Hampir tiap Idul Fitri dia bersilaturrahim ke Chorek. Emang hebat seh dia, sebelum jadi wartawan Kompas, sering aku liat tulisannya di beberapa media.
Menurut Pak Marx, selain Mas Faiq, masih ada dua wartawan kompas lain yang juga berasal dari Lamongan, hanya saja mereka lupa. Keliatan kan, Mas Faiq ngalahin dua temennya yang lain di hati senior Kompas yang ngasih materi diklat (Hehe, ngarep banget nih dapat tempat di hati Mas Faiq yang sudah beristri ituJ)
Masih ada juga lecutan semangat yang aku garis bawahi benar dari Diklat kemarin, Rektorku dalam sambutan pembukanya dengan berapi-api mengatakan, paling bagus mengawali karier adalah dengan menjadi wartawan or jurnalis. Jika sudah menjadi jurnalis, siapapun bisa menjadi apa saja, begitu dia bilang. Alasan yang dia katakan, karena wartawan adalah professional yang sudah biasa menantang banyak hal, menantang waktu, mengasah otak mengantisipasi deadline, berpikir mendapat narasumber. Istilah yang dia pake kemarin, wartawan itu terdidik benar untuk menjadi disiplin, otaknya pun sistematis. Kalo gak gitu, berarti dia bukan wartawan yang benar. Akan lebih baik kalo setiap professional mempunyai sense of jurnalisme, karena itu menandakan dia seorang yang tidak mudah percaya, selalu berusaha mencari kebenaran. Benarkah? Satu yang pasti, aku makin ngiler jadi wartawan, Kompas tentunya! (Ngarep..)
Apalagi ya? Mungkin salut aja deh buat Kompas, yang sampai saat ini memang paling tinggi oplahnya (bener gak sih?), tetapi masih punya kepedulian terhadap mahasiswa dengan diklat jurnalistiknya, meskipun setelah tulisan SMA ku dulu belum pernah lagi aku bisa meloloskan tulisanku ke sana, tapi Kompas memang bukan sekadar bacaan sekali buang bagiku. Dia bisa jadi bahan referensi yang sangat menguntungkan. Banyak tulisan yang aku kutip dari opini setiap penulis yang menarik, aku paling suka tulisan Gede Parma.
Di tengah ingar bingar dunia yang makin crowded ini menurutku paling damai setelah baca tulisan dia, sejuk, tenang, mencerdaskan dan penuh tebar kedamaian. Kapan yah tulisanku juga bisa menjadi referensi bagi orang? Pengen banget lolos di Kompas lagi, pengen, pengen banget!