Ruang Cerita Tumik

Rumah Cerita, Ruang Berbagi Rasa

Makin Ngiler Jadi Wartawan

with 2 comments

Nyaris tidak ada hal baru dari Diklat Jurnalistik yang digelar Kompas bersama UMM kemarin (15-18/12). Materi tentang feature, straight news dan yang lain sudah pernah aku dapat ketika ikut diklat bestari beberapa tahun lalu. Sampai detik ini toh aku masih belum begitu faham bedanya straight news, hard news atau soft news. Aku masih sering kelimpungan, sebenarnya tulisanku termasuk jenis berita yang mana :-Q
Dari segi pembicara, yang terdiri dari senior Kompas, mulai dari Marx Margono, F.A. Santoso, Nur Tjahyo, dan Suprihadi yang lebih populer dipanggil Sanchuk, jelas tidak meragukan kapabilitas mereka sebagai senior yang patut digali luar dalam pengalaman jurnalistiknya. Memang gak rugi seh ngumpul bareng mereka selama empat hari. Rasanya justru kurang lama.
Di antara keempat pemateri, pak Nur Tjahyo termasuk Senior Kompas yang paling tua, usianya kalo ga salah sekitar tujuh puluhan. Setelah Pak Nur, Pak Marx Margono menduduki peringkat kedua. Baru Pak F.A Santoso, dan Pak Sanchuk menyususl berikutnya. Hal paling menarik bagiku dari pengakuan masing-masing mereka adalah kecelakaan yang harus mereka terima. What? Hampir dari semuanya mengaku jika menjadi wartawan Kompas bermula dari kecelakaan yang tidak pernah disengaja.
Pak Nur Tjahyo misalnya, ia mengawali karier sebagai karyawan di salah satu perusahaan di Surabaya, kurang begitu jelas aku denger penjelasannya seputar perusahaan yang dia bilang. Hanya saja, cukup menarik karena menurutnya gaji di perusahaan itu lebih dari cukup ketimbang gajinya di Kompas. Its really? Bukan hanya Nur Tjahyo, ketiga senior yang lain turut menimpali. Sama-sama merakan celaka yang berbuah surga J
Salah satu peserta dengan jujur menanyakan apa kiat mereka bisa bertahan dalam kecelakaan yang jelas butuh perjuangan panjang untuk menerimanya. Sayang, jawaban mereka kurang detail. Cukup banyak sih hal yang bagiku memang patut disayangkan dari diklat kemarin. Salah satunya alokasi waktu yang kurang terkontrol, penyampaian materi yang cukup monoton, dan pelibatan panitia yang sekaligus menjadi peserta, jadi pemenang lomba pula. Hm..
Hal yang paling membekas dalam benak diriku dari diklat kemarin itu, orang-orang Kompas sangat low profile, tampak juga kesolidan tim kompas yang luar biasa. Buktinya, Pak Marx Margono sempat bercerita jumlah wartawan kompas dari Lamongan, yang dia sebut dengan bangga adalah Mas Faiq, gak begitu kenal juga seh sebenarnya aku, cuman beberapa kali pernah ketemu di rumah. Hampir tiap Idul Fitri dia bersilaturrahim ke Chorek. Emang hebat seh dia, sebelum jadi wartawan Kompas, sering aku liat tulisannya di beberapa media.
Menurut Pak Marx, selain Mas Faiq, masih ada dua wartawan kompas lain yang juga berasal dari Lamongan, hanya saja mereka lupa. Keliatan kan, Mas Faiq ngalahin dua temennya yang lain di hati senior Kompas yang ngasih materi diklat (Hehe, ngarep banget nih dapat tempat di hati Mas Faiq yang sudah beristri ituJ)
Masih ada juga lecutan semangat yang aku garis bawahi benar dari Diklat kemarin, Rektorku dalam sambutan pembukanya dengan berapi-api mengatakan, paling bagus mengawali karier adalah dengan menjadi wartawan or jurnalis. Jika sudah menjadi jurnalis, siapapun bisa menjadi apa saja, begitu dia bilang. Alasan yang dia katakan, karena wartawan adalah professional yang sudah biasa menantang banyak hal, menantang waktu, mengasah otak mengantisipasi deadline, berpikir mendapat narasumber. Istilah yang dia pake kemarin, wartawan itu terdidik benar untuk menjadi disiplin, otaknya pun sistematis. Kalo gak gitu, berarti dia bukan wartawan yang benar. Akan lebih baik kalo setiap professional mempunyai sense of jurnalisme, karena itu menandakan dia seorang yang tidak mudah percaya, selalu berusaha mencari kebenaran. Benarkah? Satu yang pasti, aku makin ngiler jadi wartawan, Kompas tentunya! (Ngarep..)
Apalagi ya? Mungkin salut aja deh buat Kompas, yang sampai saat ini memang paling tinggi oplahnya (bener gak sih?), tetapi masih punya kepedulian terhadap mahasiswa dengan diklat jurnalistiknya, meskipun setelah tulisan SMA ku dulu belum pernah lagi aku bisa meloloskan tulisanku ke sana, tapi Kompas memang bukan sekadar bacaan sekali buang bagiku. Dia bisa jadi bahan referensi yang sangat menguntungkan. Banyak tulisan yang aku kutip dari opini setiap penulis yang menarik, aku paling suka tulisan Gede Parma.
Di tengah ingar bingar dunia yang makin crowded ini menurutku paling damai setelah baca tulisan dia, sejuk, tenang, mencerdaskan dan penuh tebar kedamaian. Kapan yah tulisanku juga bisa menjadi referensi bagi orang? Pengen banget lolos di Kompas lagi, pengen, pengen banget!

Written by attumic

Desember 22, 2008 pada 10:37 pm

Ditulis dalam 1

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. coba baca tulisan terbaru ku bu, this is love… u will know a little more about journalist life. esp. me. hehehe

    mybeautyindonesia

    Desember 29, 2008 at 2:07 am

  2. jangan menjadi penakut sepertiku. temenmu desi lebih berani menghadapi jakarta mencoba jurnalisme.

    luh de

    Januari 11, 2009 at 1:17 am


Tinggalkan Balasan