Begadang Lagi
Untuk kali keberapa ini ya, aku kembali nyoba begadang di warnet. Pengennya seh segera kelarin tugas UAS yang masih tersisa. Setalah itu, aku bisa bernafas agak lega untuk fokus mikir skripsi, yang mau tidak mau harus aku tuntaskan dalam sisa waktu batas akhir beasiswaku. Mikir skripsi, aku pengen ngerjain dengan serius dan total tal! kali ini yang sudah agak mantep di kepala sih, analisis ketidak adilan gender terhadap pekerja perempuan kepala keluarga di dusunku. Meski kemarin ada dosen yang bilang, ga papa aku kerjain yang gampang, semisal tentang penanggulangan korupsi dari perspektif Relawan Anti Korupsi di MCW, biar sambil menyelam minum susu gitulah pertimbangannya. tertarik juga seh, tapi lebih tertarik lagi buat meneliti all about gender, selain ada misi tersendiri untuk mengenalkan kampung terpencilku pada khalayak ramai.
Gak terasa kuliah kok tinggal selangkah lagi, perasaan baru kemarin mikir bisa sampe lulus ga ya kuliahku. Ternyata tinggal selangkah lagi sekarang. Well, sebelum benar-benar dihadapkan pada dosen pembimbing, saat ini aku juga sudah mulai mikir langkah hidup selanjutnya setelah kuliah ini. Aku selalu berdo’a dengan segenap jiwa, semoga keputusan untuk bergabung di MCW adalah salah satu penentu langkah hidupku jauh ke depan. Tidak hanya untuk saat ini saja.
Melakukan riset, menulis dan memperbanyak jejaring LSM adalah salah satu impian setelah aku tahu prospek kuliahku yang tidak lazim itu:) dan kini setelah semua itu menjadi rutinitasku di MCW aku sangat menikmati benar. Satu ganjalan nyata adalah kegelisahanku tentang materi or finansial. Yah, untuk LSM seideal MCW, aku tidak bisa mengharap lebih selain ganti transport semata, itu pun jika aku ngantor. Kalo nggak, sama aja aku makan gaji buta. Ada rasa bersalah, rasa malu yang tidak bisa disembunyikan kalau mau nyoba berbohong tentang penggunaan duit atau fasilitas lain yang agak sedikit menyimpang.
Untuk saat ini aku harus yakin, toh memang hanya itu modal hidupku sampe saat ini, bahwa aku pasti bisa “jadi orang” kalo mau serius di MCW, memang tidak bisa mengharap banyak kucuran dana kelayakan dari sana, tapi aku harus pelajari banyak hal lain yang tidak hanya bisa dihitung dengan kalkulasi materi semata. Aku harus percaya.
Mungkin serupa dengan keyakinan bu Muslimah ketika mengajar para murid Laskar Pelanginya, atau sama halnya dengan Muhammad Yunus yang mengawali grameen banknya. Yayaya, tidak semua kesuksesan hidup manusia harus dicapai dengan ambisi dan kekuasaan saja kan? Justru semua akan lebih bermakna kalau kita melakukannya dengan penuh perjuangan, spirit dan keyakinan yang tidak boleh terlepas sedikitpun dari kalbu manusia.
segala seuatunya kayaknya seh ya, emang harus dimulai dari bersusah payah. karena kita ditakdirkan terlahir sebagai manusia biasa bu. bukan orang kaya yang bisa melakukan apapun semaunya.
desy
Januari 11, 2009 at 10:22 am
Semoga setiap kesabaran yang kita jalani dapat berbuah manis semanis-manisnya..
Dapat bule manis, kantong tebel tersenyum manies..
Maniiieeezzz..
attumic
Januari 18, 2009 at 12:03 am