Saya masih belum beranjak dari Surabaya
kali ini cerita yang sudah lama saya simpan, dan baru sempat saya tuangkan. Tsaelah :p
Siang itu saya dikejutkan sms yang meminta saya untuk mendampingi siswi yang mengalami KTD alias Kehamilan yang Tidak Diinginkan. Terus terang ini pengalaman pertama saya untuk mendampingi siswi hamil. Saya dag dig dug memikirkan apa yang bisa saya lakukan setelah saya mengiyakan sms yang meminta saya datang di sebuah perumahan yang menjadi rumah sementara untuk mereka, anak-anak yang sedang bermasalah.
Berangkatlah saya menuju perumahan elit yang menjadi shelter remaja tersebut, sebut saja Unge –haha, opo-opoan se iki- sesampai di sana saya belum mendapati siapapun selain penunggu rumah yang menyambut saya dengan senyuman nan mempesona
Saya dan Mbak Ketty, penunggu rumah yang menyambut saya berbincang hangat tentang apa yang akan kami lakukan saat Unge datang nanti, karena menurut kabar Unge akan diantar malam-malam agar tidak terlihat tetangga oh tetangga kiri kanan, maka kami pun mempersiapkan diri menyambut Unge dan keluarga.
Malam hadir, Unge pun ngacir. Loh?
Unge datang, hanya berdua dengan mamanya yang cantik. Saya dan Mbak Ketty saling bertukar pandang penuh tanya ini mana yang hamil? Kira-kira begitulah arti kontak mata kami, sebab dua perempuan cantik yang mendatangi rumah ini terlihat cukup langsing, ukuran tubuh mereka jauh dari kesan hamil. Beneran gak ini Unge? Hati kami bertanya-tanya.
Ini Unge Mbak, tante cantik bertubuh mungil mirip Yuni Shara itu kemudian membuka obrolan. Ooohh, saya dan Mbak ketty melenguh panjang mirip kebo. Kamipun bersalaman. Unge cuek, meski masih mau mengulurkan tangan.
Jadilah malam itu kami tidur bertiga, saya, Unge dan Mbak Ketty. Kami hanya ngobrol seperlunya saja. Unge asyik mengutak-atik laptop yang dia bawa, ketika kami tanya dia hanya menjawab kalem, fesbukan Mbak. Ooohhh, kami kembali melenguh mirip paduan suara.
Inilah cerita Unge, yang bisa saya bagi, tanpa bermaksud mencemarkan nama baik Unge dan keluarganya, maaph ya tante mirip Yuni Shara, semoga cerita Unge bisa jadi bahan ajar bagi semua pihak untuk lebih memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki
Well, Unge adalah gadis yang cukup cantik, berusia 16,5 tahun ketika hamil dengan laki-laki yang mengaku mencintainya, laki-laki yang dia kenal dari akun sosial beberapa bulan lalu, mereka sepakat jadian, lalu jadilah bayi bersarang di perut Unge tanpa tahu apa yang akan terjadi pada mama yang mengandungnya, atau juga papa yang sudah ‘iseng’ menembakkan pelurunya..
Total perkenalan plus jadian dengan Jodi, sebut saja begitu panggilan Unge untuk laki-lakinya, hanya sekitar enam bulan. Detailnya seperti ini, mereka berkenalan di jejaring sosial sekitar satu bulan, lalu jadian dan langsung em-el, dan ndilalah kok ya langsung jadi. Waw waw waw…
Saya salut karena Unge tidak lantas mengaborsi kandungannya, yang saya herankan, saya tidak melihat gurat sesal, ketakutan atau kecemasan lain gadis belia yang mengalami KTD, Unge sama sekali tidak begitu, satu-satunya hal yang dia mau adalah operasi sesar dan segera mendapat cowok yang lebih tajir dari Jodi, laki-laki tak bertanggung jawab yang sudah menghamilinya.
Dengan logat Surabaya yang kental, inilah salah satu adegan perbincangan antara saya dengan Unge
Cek enak-e bojoku isek isok nonton konser Mbak, saiki lho lagi ada konser band nang –Unge menyebut salah satu tempat gaul arek muda di Surabaya- lha aku nang kene koyo ngene, malese cak..
Wes gak katene aku percoyo arek iku Mbak, gombal thok pek. Mama papaku lho digitukno sama orang tuane Jodi Mbak, dihina-hina katae wes ta Bu, banyak yang kayak gini, ngaku-ngaku dihamili Jodi, padahal cuman butuh duite thok. Sopo sing ga mangkel Mbak?
Meskipun aku nggak sekaya dia, tapi aku yo sakit hati rek Mama Papaku diperlakukan kayak gitu, masa dipersilakan masuk rumahnya saja ndak to Mbak? Cuman ditemuin di pintu pagar, ditatap sinis banget kayak Mamaku pengemis aja. Padahal anak-e sing kurangajar, kok Mama papaku malah sing dituduh macam-macam sama orang tuae Jodi. Buhh, mbencekno Mbak. Cerocos Unge.
Saya tersenyum dikulum menahan desakan tawa yang menyiksa. Sungguh, saya tidak tahu harus seperti apa merespon anak muda ini. Sebab dalam asumsi saya gadis yang mengalami KTD pastilah sedih, gundah gulana luar biasa. Sementara Unge sama sekali tidak begitu. Cara dia bercerita dengan logat suroboyoan yang kental, makin mengundang tawa yang hanya bisa saya tahan.
Pada akhirnya saya menutup uraian panjang Unge dengan pertanyaan, kamu tidak menyesal dengan kehamilanmu? Bagaimana rencanamu selanjutnya Nge? Dengan bayimu?
Inilah jawaban Unge untuk pertanyaan saya.
Aku yo nyesel Mbak, tapi mau gimana lagi? Aku kan ndak boleh terpuruk. Aku yo kasian Mama yang sampe pingsan-pingsan pas tau aku hamil sudah enam bulan, aku yo kangen temen-temenku. Tapi sekali lagi aku mau gimana? Pokoknya yang aku pikirkan sekarang Mbak, aku nggak mau melahirkan anakku secara normal, aku mau sesar, aku nggak mau nanti suamiku tau kalo aku sudah ndak perawan. Aku harus dapat suami orang baik-baik, lebih tajir dari Jodi, kalo dia macarin aku pake Jazz, suamiku nanti harus pake alphard *saya sibuk mengerling mahalan mana kedua mobil itu :p
Pokoke nggak brengsek kayak Jodi, dan aku nggak mau suamiku tau kalo aku sudah nggak virgin. Masih bisa kan Mbak aku dapat suami orang baik-baik? Anakku yo embuh, terserah Mamaku.
Masih menurut Unge, temen-temenku satu kelas itu lo Mbak bisa dihitung jari yang masih virgin, paling cuman dua sampe tiga orang, yang lain itu yo wes jebol kabeh Mbak, yang sudah aborsi juga buanyak, aku aja yang sial. Mereka itu untungnya cowoknya masih baik, kalo gak cowoknya baik yo wes temenku yang menjadi-jadi Mbak, wes kadung rusak yowes sekalian.
Saya manggut-manggut takzim. Jawaban Unge tentang suami yang dia harapkan dan bagaimana rencana dia ke depan bersama anaknya menyisakan pertanyaan panjang dalam benak saya.
Inilah hidup Unge. Pacaran, mengalami KTD, dan lebih sibuk memikirkan bagaimana mendapat laki-laki tajir yang lebih baik dari Jodi, pacarnya. Satu hal yang masih terngiang, Unge sedang berpikir keras bagaimana caranya suami dia nanti tidak tahu kalau dia sudah tidak lagi perawan. Perkara anak yang nanti dia lahirkan, itu urusan mamanya..
Unge juga tak ambil pusing bagaimana nanti dia bisa kembali sekolah, karena tidak akan ada satupun temannya yang tahu dia hamil, alasan dia tidak lagi bersekolah toh cukup rasional, mengikuti orang tua yang dipindahtugaskan. Dalam kondisi hamil pun Unge tetap eksis di jejaring sosial, bermain drama bahwa dia sedang berada di kota antah berantah mengikuti kepindahan orang tuanya dan sangat merindukan teman-temannya di Surabaya.



