Jalan Damai Bayi Temanku
Salah satu hal yang sering membuatku miris, ngeri, iri dan prihatin pada diri sendiri adalah nasib jombloku sampai saat ini. gila! Kuliah sudah hampir kelar, aku belum merasakan belaian lekong sama sekali. I don’t know why, aku emang terlalu serem bagi kaum lelaki paling.
Tapi tidak jarang aku merasa bangga, merasa terselamatkan jika aku mengerti kasus semisal hari ini. Yupz, hamil tanpa dikehendaki. Well, aku emang lama banget pengen posting about this, temanku hamil tanpa aku sadari dan tanpa dia kehendaki. Lumayan lama komunikasiku terputus sama teman yang sebenarnya sangat penolong ini. Ya, hampir 5 bulanan aku tidak bertegur sapa dengan dia sejak kejadian malam itu, ketika semaleman penuh aku menemaninya menguras airmata menyesali cowok pilihannya.
Sudah bukan rahasia kalo pacar temenku suka main kasar, sering banget temenku ini badannya biru-biru, matanya bengkak sepulang dari kencan. Meski kadang aneh juga ngeliat itu bersamaan dengan lehernya yang penuh gigitan, bikin aku terjerembab dalam berbagai prasangka ketidak normalan orientasi seks pacar temanku. Mungkin dia tipe lelaki yang suka menyiksa dulu pasangannya sebelum memulai bercinta? Ataukah justru temanku yang mengidap kelainan itu?
Tapi jawaban yang tidak aku sangka meluncur sendiri dari bibir temanku, cowoknya yang agak pendiam itu memang tidak segan berlaku kasar kalo lagi marah. Apalagi kalo pas dia marah, temenku ini gak mau diem, ngeladenin terus apa yang dia bilang. Pakk!! Tamparan keras dan tinju tak hormat sering bersarang di tubuh langsing temenku.
Gila?! Aku paling merasa terhina ketika temanku menceritakan semua yang dialaminya, enak aja laki-laki main tangan sama perempuan, temenku yang bencong aja gak pernah segitu kasarnya ma perempuan. Sudah jelas bagiku ini penghinaan dan dehumanisasi berat terhadap perempuan!! Dia masih bisa memperbaiki semuanya, masih ada banyak waktu bagi temanku untuk tidak melanjutkan hubungan penuh penyiksaan ini.
Sekali dua kali aku mengingatkan temanku ini, meski begitu aku harus sering menelan ludah kekecewaan karena beberapa hari setelah pertengkaran seperti yang di ceritakan padaku ketika itu, temanku kembali berpeluk mesra dengan lakinya. Otomatis, dengan sendirinya aku kebal dengan semua curahan hati dia tentang lakinya. Terserah suka main kasar kek, mau temenku diperkosa kek, aku tidak pernah lagi mau ambil peduli.
Dasar manusia, secuek-cueknya aku, tetep tergoda juga pas ngeliat dia nangis gak henti malam itu. Malam keberapa setelah aku males ngomong sama dia. Ternyata, dia diputus sama lakinya. Aku bilang bagus dong! Ini saat kamu memperbaiki hidupmu, kuliah yang bener, memenuhi keinginan tulus orang tua yang sudah banting tulang menghidupimu. Emang siapa seh yang gak pengen kuliah mulus, pacaran juga lancar, meried, beranak pinak dan tetek bengek kenormalan hidup yang lain. Tapi buktinya toh kamu ga bisa kan? Coba inget-inget lagi nilai kuliah, inget lagi ratusan ribu hasil keringat ortu yang mengalir di kantong lakimu. Apa itu bukan berarti kamu mengkhianati kepercayaan orang tua yang dengan tulus tidak pernah mengeluh membiayaimu?
Pilihan ada di tanganmu, terserah kamu mau memilih jalan yang mana. Aku memang tidak berhak ikut menentukannya, sebagai teman yang masih cukup kamu percaya aku hanya mampu memberi gambaran pilihan-pilihan itu. Temenku hanya sesenggukan. Tetap kulanjutkan petuah sebagai perempuan gak laku, kalo kamu tetap pada pilihan perasaanmu, ya sudah! Kamu mesti menyelami dan menyesuaikan sikap dengan keinginan lakimu. Namanya cinta jelas ada yang dikorbankan dong? Kalo dia gak mau ngalah ya kamu harus lebih dewasa menerima kekurangan dia, memang seperti itu dia. Gak usah nangis-nangis lagi. Hidup ini simpel kok kalo kita mau berpikir simpel. Pret!! Dalam hati aku mengentuti petuah kepret ini. Temanku berterimakasih saking terharunya masih mempunyai teman yang masih bersedia mendengar keluh kesah dia. Aku hanya tersenyum simpul menahan kentut. Tengs! Mungkin aku memang harus melupakan dia. Ucapnya. Aku jadi sedikit lega..
Ternyata dua hari setelah kejadian itu, aku baru sadar benar, temanku tidak pernah memilih kedua pilihan itu. Dia tetap lanjut pacaran, dengan segala keributan yang membuat aku muak! Ternyata benar, tidak semua kekerasan yang dilakukan laki-laki adalah karena keegoisannya, tetapi juga karena kebodohan perempuan! Aku sangat sepakat. Aku kecewa bukan main! Sudah cukup dia menjadikan aku kantong sampah, sewaktu dia mual dia keluarkan semua isi perutnya, tanpa mengingat resep menghindari mual seperti yang tertera di kantongku. Enough!! Ternyata aku tidak cukup bijak untuk menjadi Konselor! Aku masih egois, dan aku merasa dipermainkan.
Lima bulan tanpa komunikasi, kaget banget setelah aku menyadari perubahan fisik temanku ini, tubuh langsingnya keliatan seger bener, terutama bagian perutnya. Hmm, aku terlalu berburuk sangka. Tetapi keburuk sangkaan itu makin menjadi manakala aku dapati dia mengkonsumsi nanas muda setiap pagi, dia minum sprite dan sebutir pil yang tidak pernah aku ketahui.
Hingga kemarin, malem jam 11 aku dapet telphon dari dia yang mengabarkan kalo dia sedang di Rumah Sakit, di ruang bersalin. Kemungkinan dia harus cesar meskipun usia kandungannya baru tujuh bulan. Tidak ada satupun keluarganya yang tahu kehamilannya, bahkan lebaran kemarin dia sengaja tidak pulang. Cukup menyentuh naluriku..
Seminggu setelah menghuni RS, bayi temenku pun keluar melalui cesar. Fakta yang paling menguatkan untuk cesar adalah karena kondisi kepalanya yang terlalu besar. Bayi temenku Hydrochepallus. Sehari setelah kelahirannya aku dapati sms yang tidak kalah mengagetkan! Tergopoh aku ke Rumah Sakit, aku cukup shock melihat bayi temenku, kepalanya sangat besar, di luar bayanganku. Ternyata hydrochepallus itu sedari lahir sudah begitu besar. Besar sekali untuk ukuran bayi sekecil itu, wajahnya pucat, salah satu kakinya pengkor, tidak cukup di situ, bayi temenku juga terdeteksi suspect flu burung. Karena itu semualah aku kembali tergopoh ke rumah sakit, bayi temanku hanya berhak hidup sehari. Tepat hanya sehari. Itulah jalan damai untuk bayi temanku. Tidak pernah bisa aku bayangkan bagaimana misalnya dia diberi hidup yang lebih lama.
Pulang ke kos, aku hanya diam. Shock benar rasanya. Lambat-lambat aku mengusir segala keinginan punya tukang ojek. Oh no! aku harus menghindari hal-hal yang dikehendaki. Tidak untuk sat ini..
Hore, Blogger Pun Dinasionalkan!
Ada untungnya juga aku bangun pagi meski gak da kuliah hari ini, lebih beruntung lagi ketika aku nyalain tipi, bosen dengan program tayangan yang ada. Kakiku memencet tombol Channel sesukanya. Maklum, remote tipi kosku lagi error. Wuih leganya setelah ngeliat tayangan pagi ini. pada stasiun telepisi yang menjadi pelabuhan Desy itu, ada Enda Nasution yang ternyata adalah Bapak Blogger Nasional Bo’!
Yah, aku baru tau kalo tenyata 27 Oktober hari ini diperingati sebagai Hari Blogger Nasional. Its mean, sebagai Blogger aku mempunyai hari kebangsaan juga. Gak sia-sia jadi Blogger. Selama ini, karena segala keterbatasan yang ada padaku, aku selalu berpikir Blogger hanyalah sebuah kemajuan teknologi semisal Friendster, just for fun! Seru-seruan. Tapi ternyata Blogger lebih dari itu, paling gak Blogku adalah tempat sampah paling nyaman untuk memosting artikel sampahku.
Kenyataan lain yang sangat membanggakan, Blog adalah media untuk membentuk jejaring sosial yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain dapat memuat berbagai opini yang ingin dibagi, dialah media representative untuk membuktikan eksistensi diri. Lebih-lebih untukku, mungkin..
Berhubung tiada hari tanpa merdeka bagi para Blogger, aku ingin menumpahklan kecamuk hati yang mengganggu beberapa malamku. Gak tau kenapa, aku sering kepikiran lagi tentang Koran kampusku. (Terserah mo bilang apa kalo kamu baca tulisan ini Des, Aul atau juga Pipin) asal kalian tau, aku makin ngerasa aneh pada si Mr. Famous itu, setelah kemarin aku ngobrol sama adek sesukumu itu Pin, yang dengan bangga bercerita padaku bahwa dia ijin gak aktif tiga edisi di sana, ternyata masih diterima dengan sepuluh jari terbuka tanpa mendapat punishment apapun. Bahkan dia didaulat untuk menjadi Sekpel di Up Grading yang mau diadain setelah UTS ntar, aku jadi teringat lagi sama kasus Ariefajar. Hmm, persis banget kan?
Yah, pada akhirnya aku merasa lumayan lega seh, bebrapa waktu lalu ketika mendapati pemecatan Ariefajar, aku sempet mikir jangan-jangan ada sesuatu yang disengaja dalam keputusan itu. Ariefajar bagi orang-orang di sana bisa jadi adalah ancaman yang harus dibinasakan. Dan dulu aku ngerasa terlalu jauh ketika berpikir seperti itu. Tetapi sekarang, dengan kejadian sama persis, toh anak itu gak diapa-apain. Padahal sama-sama ijin tiga bulan. Wah, wah, wah..
Gak nyangka bener, kekuasaan itu cukup menjadi tameng bagi seseorang untuk bertindak dan mengeluarkan kebijakan sekehendaknya. So disappointing! Banyak hal bisa dilakukan orang tanpa bisa disangka dan direncanakan dibawah sesuatu yang bernama kekuasaan. Patutlah jika banyak orang bilang, hati-hati dengan kekuasaan. Sebab kadang dia mematikan hati nuranimu! Ngeliat praktek kecil ketidak adilan di KorKamp aku makin percaya kebenaran itu.
Sungguh disayangkan orang yang mempunyai tendensi pribadi dan berlindung di bawah kekuasaan yang dia miliki. Jangan-jangan aku juga pernah seperti itu. Atau justru terinspirasi untuk melakukan itu? Semoga itu impossible. Sampai saat ini saja aku tidak punya kuasa apapun, meski menguasai diriku. Yapz, Selamat Berpesta bagi Para Blogger di Nusantara! Mari berkuasa atas karya kita..
Bersama, Binasakan Para Kleptokrat
sebenernya agak sedih ketika melihat tulisan ini dimuat dengan nama lain. Asli tulisanku, aku cuman pinjam nama anak itu. Biasalah, orang kalo kepepet pasti berpikir singkat. Tapi biarlah, ini memang murni karyaku. Maka menjadi hakku sepenuhnya untuk memerdekakan tulisan ini melalui blogku.
Korupsi adalah jajanan basi yang terus beredar di negeri ini. Tidak hanya satu dua pejabat yang menyuguhi jajanan menggiurkan tersebut. Namun hampir semua pemangku kebijakan negeri ini tersandung masalah yang sama. Korupsi, korupsi dan korupsi. Begitu akrabnya istilah ini sehingga masyarakat luas sudah nyaris muntah kekenyangan jika ada kabar baru yang memberitakan tindak korupsi.
Korupsi yang mengadopsi bahasa latin, corruptio ini memang mempunyai arti busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik dan menyogok. Sedangkan menurut Transparency International, korupsi merupakan perilaku pejabat publik, baik politikus, politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri mereka atau orang-orang terdekat mereka dengan menyalahgunakan kekuasaan yang dia miliki.
Karena hanya memperkaya diri sendiri, otomatis perilaku korupsi juga memberi dampak yang maha dahsyat bagi masyarakat. Para penguasa yang seharusnya menjadi penyelamat kehidupannya justru tenggelam dalam kedunawian yang kian memperparah kondisi rakyat sesungguhnya. Maka tidak salah jika rakyat kemudian menjadi apatis dengan segala tindakan pemerintah. Mereka menjadi kaum yang tidak peduli dengan nasib bangsanya. Upaya pemberontakan mereka pun lebih bersifat dekonstruktif dan sering tidak humanis.
Di Indonesia, perilaku pejabat yang korup hampir terdapat dalam segala lini. Mulai dari pejabat yang besar, sedang hingga pejabat tanggung, dalam artian pejabat yang tidak berperan cukup besar, namun perilaku korupnya berhasil mencapai milyaran. Misalnya saja pejabat kampung kecil yang menjual aset kampungnya bagi para pemodal.
Begitu populernya tindak korupsi ini sehingga mustahil rasanya jika ada pejabat yang mengaku tidak melakukannya. Korupsi justru menjadi norma dan nilai sosial yang harus dianut pejabat jika ingin tetap memegang peran atas negeri ini. Alih-alih bisa dituntaskan, korupsi seakan kewajiban utama bagi siapapun yang berkehendak menjadi penguasa.
Terlepas dari apa dan bagaimana tindak korupsi, yang jelas perilaku ini sangat merugikan negara. Kesengsaraan rakyat tidak akan dapat terbayar sedikitpun jika negara tetap melindungi para kleptokrat yang terus bergentayangan di negeri ini.
Dapat dipastikan, hampir seluruh rakyat Indonesia saat ini menyimak dan menelan segala pemberitaan para anggota dewan oleh Komisi Pemberantas Korupsi baru-baru ini. Entah karena kebetulan salah satu pelakunya adalah pasangan hidup penyanyi yang cukup ternama, atau karena tindak korupsinya berhasil meraup ratusan juta. Berita tentang kasus ini terus merembet hingga kemana-mana, yang pada akhirnya menyuguhkan isu lain selain korupsi yang dilakukan, tetapi juga menyerempet ke masalah perselangkangan.
Bejat benar memang, tindak korupsi yang dilakukan tidak hanya merugikan negara semata, namun berakibat pula pada peran perempuan. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mempunyai pasangan sah, kemudian masih terang-terangan meminta bonus tubuh perempuan. Sungguh, sebuah dehumanisasi paling nyata bagi para perempuan. Dimana sesungguhnya peran dia sebagai istri, sebagai pasangan hidup yang seharusnya mengetahui benar urusan suaminya? Begitu pula bagi perempuan yang bersedia menjadi bonus dalam kasus suap yang dilakukan anggota dewan tersebut, sehina itukah peran dia hanya menjadi bonus semata atas keperempuanannya?
Inilah mengapa korupsi sangat penting untuk diperangi, ia harus diberantas demi kemajuan rakyat negara ini. Milyaran rupiah yang berhasil dikantongi para pejabat seharusnya digulirkan untuk membantu kaum miskin, membantu desa tertinggal atau bahkan menyempurnakan pendidikan Indonesia yang masih terseok di tengah biaya hidup yang kian mahal.
Alam indonesia yang melimpah ruah sudah lelah menanti tangan-tangan bertanggung jawab, yang dapat mengolah dan mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan segala kejujuran. Bukan tangan yang hanya terus-terusan mempertebal kantong sendiri, kantong keluarga ataupun orang-orang terdekatnya. Menjadi kaya, harus diakui adalah cobaan terbesar dalam hidup ini. Sebab, dari keinginan seperti inilah lahir mental-mental oportunis yang tidak akan pernah peduli pada nasib orang lain.
Tidak mudah memang, namun bukan berarti mustahil mewujudkan kepemimpinan negara yang jujur, yang mengedepankan kepentingan rakyat tanpa pamrih. Maka, mari bersatu memerangi korupsi. Kita singkirkan para Kleptokrat yang masih bergentayangan bak hantu cantik yang mewarnai film Indonesia saat ini. Bersama dan bergegaslah…
Humidatun Nisa’ Relawan Anti Korupsi Malang Corruption Watch
Dukung Pelegalan Aborsi
Nambah lagi sisa tulisanku yang tidak lolos kualifikasi media. Tulisan ini hampir setahun lalu aku bikin. Inilah bentuknya..
Sampai saat ini, kasus aborsi di Indonesia masih belum mengalami penurunan yang berarti. Justru sebaliknya, kasus aborsi kian mengalami peningkatan dari tahun ke tahun -setiap tahun mencapai dua juta kasus- berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah pada 2006 lalu. (http://www.bkkbn.go.id)
Parahnya, hasil survey Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) di sejumah kota besar pada tahun 2003 justru menunjukkan, 87 persen aborsi dilakukan perempuan yang sudah menikah atau punya pasangan sah dan 13 persen lagi belum menikah.
Dari survey ini, tentu akan memunculkan pertanyaan. Sedemikian parahkah kondisi kejiwaan perempuan di Indonesia hingga menjadi pembunuh sendiri bagi janin yang dikandungnya? Hal ini tentu saja tidak bisa dijawab dengan sekali pikir. Sebab, selain faktor internal, penyebab perilaku aborsi selama ini disebabkan juga karena ketidak pengetahuan pelaku tentang kesehatan reproduksi. Sehingga, sangat penting untuk melakukan pelatihan kesehatan reproduksi kepada semua kalangan. Tidak hanya remaja, yang selama ini diklaim sebagai mayoritas pelaku aborsi.
Perilaku aborsi memang sangat membahayakan. Meski dilakukan secara aman sekalipun -menggunakan tenaga ahli medis yang memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan medis tersebut- Sebab, janin yang seharusnya menjadi generasi penerus keluarga tetap dijadikan sebagai korban tak berdosa.
Jika aborsi yang dilakukan secara aman saja masih berbahaya, bagaimana dengan aborsi yang dilakukan dengan cara-cara yang tidak aman? Yang notabene dilakukan oleh dokter-dokter gadungan yang belum cukup pengetahuan? Tentu bahaya yang ditimbulkan pun lebih mengerikan, yakni: perdarahan, infeksi rahim, anak cacat akibat penggunaan obat yang salah, yang semuanya bisa menimbulkan risiko kematian. Tidak mengherankan jika angka kematian Ibu di Indonesia juga dinyatakan tertinggi di seluruh Asia Tenggara. Dan parahnya, jumlah pelaku aborsi yang mencapai jutaan itupun mayoritas dilakukan oleh dokter gadungan. Betapa sangat memprihatinkan.
Pro Legalisasi Aborsi
Meski begitu, sebagai manusia yang bijak. Tidak serta merta kita bisa menyalahkan pelaku aborsi begitu saja. Sebab, ada banyak faktor yang melatar belakangi aborsi yang ia lakukan. Misalnya: alasan kesehatan ibu, perkosaan, atau kelahiran tidak diinginkan dengan alasan sosial ekonomi. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membolehkan korban pemerkosaan melakukan aborsi selama masa kehamilan belum mencapai 40 hari.
Di Indonesia, menurut Ketua Pengurus Harian Daerah PKBI Jawa Tengah dokter Hartono Hadisaputro SpOG. (http://www.bkkbn.go.id) pengguguran kandungan memang persoalan dilematis, karena secara hukum memang dilarang, seperti diatur dalam Pasal 80 Undang-Undang Nomor 32/1992 tentang Kesehatan, Pasal 76 UU No.29/1974 tentang Praktik Kedokteran dan Pasal 348 KUHP. Meski begitu, sebenarnya Indonesia sudah menandatangani Konferensi Kependudukan di Kairo pada 1994 yang mengakui hak reproduksi wanita. Artinya, wanita boleh hamil atau tidak. Begitu pula, berhak untuk meneruskan atau tidak kehamilannya.
Dari sinilah, sangat diskriminatif sekali jika kita bersikap picik dengan mendorong sikap antiaborsi. Sebab, seandainya dilakukan oleh tenaga medis yang professional dan bertanggung jawab, pada dasarnya aborsi bukanlah tindakan yang harus dipersalahkan. Otomatis, akan dapat mengurangi jumlah kematian ibu yang selama ini diakibatkan aborsi tidak aman yang dilakukan dokter gadungan.
Maka, menurut hemat saya. Aborsi yang selama ini illegal seharusnya dilegalkan saja. Mengingat, dengan pelegalan aborsi. Tenaga medis yang melakukan aborsi bisa dituntut dengan pasal yang ada jika terjadi sesuatu dengan pelaku aborsi sendiri. Secara gamblang atau transparan. Tidak seperti yang terjadi selama ini, hanya pelaku aborsi yang menjadi korban yang sangat dirugikan.
Oleh Humidatun Nisa’
Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial
Universitas Muhammadiyah Malang
Menyelami Masa Depan Kaum Nelayan Indonesia
Lama ga posting. Aku jadi malu sendiri, niat hati mau rajin beribadah dengan blog, ternyata glodagk! Tapi usaha tetep jalan kok. Ini salah satu bentuk usaha itu, aku membongkar tulisan yang ditolak media. Ternyata lumayan banyak, meski lebih banyak yang aku hapus
Ya, memang bisa aja seh dikirim ke media lain. Tapi takut ditolak lagi. Yawislah biar lebih merdeka diposting aja. HaHa..
Indonesia merupakan salah satu Negara maritim yang memiliki pantai terpanjang di dunia, dengan garis pantai lebih 81.000 km. dari 67.439 desa di Indonesia, kurang lebih 9.261 desa dikategorikan sebagai desa pesisir. Karena berada di pesisir, dapat dipastikan mata pencaharian terbesar penduduk pun melaut, menangkap ikan di laut atau lebih populer dengan sebutan nelayan.
Nelayan di Indonesia merupakan kelompok sosial paling miskin setelah petani. Nelayan lebih memiriskan lagi, dalam penjabaran buku Kusnadi (Yogyakarta: LKiS, 2002), dua faktor mendasar yang menyelimuti nelayan adalah faktor alamiah dan dan non alamiah. Dimana, faktor alamiah berkaitan dengan fluktuasi musim-musim penangkapan dan struktur alamiah sumber daya ekonomi desa. Sedangkan faktor non alamiah berhubungan dengan keterbatasan daya jangkau teknologi penangkapan, ketimpangan dalam sistem bagi hasil dan tidak adanya jaminan sosial tenaga kerja yang pasti.
Belum terpecahkan masalah mendasar mereka, saat ini nelayan Indonesia dihadapkan pada masalah baru yang tidak kalah pelik. Mereka terancam punah karena harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak terjangkau lagi. Rata-rataa nelayan mengakui, masa sepi melaut yang mereka alami, tidak lain tidak bukan disebabkan BBM yang naik. Tidak seimbang dengan perolehan hasil tangkap yang mereka dapatkan. Sungguh pilihan hidup yang serba sulit. Di sisi lain mereka harus menghidupi keluarga, satu sisi mereka tidak mampu mengenyangkan perut sendiri. Inilah fakta yang kian menguatkan data statistik Departemen Kelautan dan Perikanan yang mengungkapkan penurunan jumlah nelayan dari tahun ke tahun. Dimana pada 2003 tercatat 3,85 juta nelayan sedangkan pada 2007 menyusut menjadi 2,66 juta (Kompas/20/6/08)
Kondisi tersebut sangat disayangkan di tengah kenaikan harga ikan dunia saat ini. Seperti dinyatakan Manajer Pabrik PT Maya Food Industries, Eddy Purnomo (Kompas/14/7/08). Seharusnya Indonesia memanfaatkan peluang mengekspor ikan lebih banyak di tengah menurunnya produksi ikan di beberapa negara eksportir saat ini.
Semestinya nelayan mendapat perhatian lebih dari pemerintah ataupun pemodal. Sebab mereka adalah aset negara untuk melestarikan budaya nenek moyang yang sudah turun temurun. Dengan modifikasi sistem pembagian hasil, pemberian subsidi khusus dan penanganan yang serius nelayan Indonesia seharusnya mampu menjadi pemasok terbesar kebutuhan dunia akan ikan. Sudah tidak ada alasan bagi pemangku kebijakan ini untuk tidak mengistimewakan kaum nelayan. Tidak ada salahnya jika pemerintah memusatkan pembangunan bangsa ini melalui kemaritiman Indonesia. Tidak hanya pada pembangunan daratan yang tiada habisnya. (Humidatun Nisa’, mahasiswa IKS UMM)
Sok Idealis yang Berbuah Manis
Setelah hampir sebulan aku berkorban memaksakan kehendak dan membunuh kemalasan. Berkutat dengan ratusan catatan tindak korupsi pejabat tai kucing di MCW, yang menyuntikkan keprihatinan berkepanjangan.. Akhirnya aku bisa tersenyum agak lega mendapati sms dari beberapa teman KKN kemarin. ternyata kelompok 3, yang notabene adalah kelompokku dinyatakan sebagai kelompok KKN terbaik periode semester ganjil 2008 ini. Tidak cukup banyak yang dihadiahkan atas prestasi ini. Tapi aku sedikit berpuas diri, karena ternyata KKN yang aku tempuh dan sempat aku sesali benar-benar melegakan banyak pihak.
Aku masih inget betul ketika aku berjuang memegang komitmen tidak mau membayar wartawan untuk meliput kegiatan yang diselenggarakan kelompokku. Setengah ngotot meski mendapat sorot agak mencemooh atas sikap sok idealisku, aku hanya diam. Dalam hati aku bertekad membenarkan kekolotan sikapku. Aku pasti bisa melobi media dengan cara yang tidak kampungan. alhamdulillah jadi dimuat dan tanpa bayar. Wuih leganya…
Pancaran Semangat Isro Mi’roj di Wajah Polos Anak-anak Kare
Memperingati hari besar tidak harus dinikmati dengan perayaan besar-besaran, banyak hal terlupakan jika manusia telah tergelimang kilau dunia yang melenakan. Sering manusia justru lupa akan esensi dari hal yang dirayakannya. Pengalaman sangat menyentuh bagi saya dalam peringatan Isro’ Mi’roj kali ini cukup menguatan pendapat yang saya kemukakan.
Berangkat dari rasa frustasi karena banyak program Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok saya terbentur dengan progresitas kampung yang saya tempati, membuat saya dan teman-teman lain di Kelompok-3 UMM KKN yang ditempatkan di Kare, Madiun kembali memutar strategi untuk menjalankan misi pengabdian kami kepada masyarakat. Bukan hal yang mudah, banyak agenda acara besar yang terpaksa dihapus begitu saja karena kurang mengena dengan kebutuhan masyarakat sebenarnya.
Untunglah, masih ada sasaran tak terbantah yang mampu menyelamatkan program KKN-T kelompok saya, mereka adalah anak-anak yang dengan kepolosan dan keceriannya mampu membangkitkan semangat perjuangan kami. Dimulai dengan pengajaran di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) setempat. Kami pun terpompa semangat untuk menjalankan kembali misi kami.
Pengalaman paling menyentuh adalah pada peringatan Isro’ Mi’roj yang kami gelar beberapa waktu lalu, dengan kemasan sangat sederhana kami cukup terharu menyaksikan respon mereka. Sekitar 30 santri TPA terpukau pada dongeng yang kami ceritakan dengan keterbatasan media yang ada.
Isro’ Mi’roj yang diperingati sebagai moment penting ke-Rosulan Muhammad menerima perintah sholat dan menjelajah langit dengan buroq, kendaraan yang mampu menerbangkan Muhammad hingga langit ke-tujuh. Tanpa mengurangi makna moment ini, kami mendongeng untuk anak-anak dengan cerita sederhana tentang pentingnya mensyukuri kesempatan hidup yang masih bisa dinikmati sampai detik ini.
Memang benar, hal paling indah dalam hidup ini adalah menikmati masa kanak-kanak, masa yang tidak pernah dapat tergantikan oleh apapun. Bahkan, kilau kemewahan pun tidak dapat menebus keceriaan mereka. Sebab, kanak-kanak merupakan dunia yang colourful, tidak tersentuh perbenturan yang memecahkan dunia sekalipun. Dengan kepolosannya, mereka bisa menjadi sasaran empuk bisnis, dan dengan keceriaannya mereka juga dapat membangkitkan semangat hidup yang hampir pupus.
Kami menyulap berbagai peralatan dan bahan masak menjadi media untuk mendongeng kepada mereka. Mulai dari sendok, garpu, wajan, hingga tomat dan mentimun sebagai visualisasi dongeng kami. Cukup sederhana, pada setiap peralatan masak yang ada, kami tambahkan mata dan bentuk bibir sesuai karakter pelaku yang kami ceritakan.
Subhanalloh, santri TPA ini dengan seksama menyimak cerita kami. Dengan tatapan heran mereka menyaksikan piring, garpu dan bebrapa benda dapur lain yang kami ganti nama dalam kisah yang kami ceritakan itu. Kami yang semula grogi, berkeringatan di balik tirai sederhana yang sesekali menyembunyikan wajah kami, sebab kami hanya menampakkan tangan masing-masing yang membawa alat dapur sebagai media dongeng kali ini.
Setelah dongeng selesai, kami menanyakan pada mereka nama-nama tokoh dalam cerita kami, sungguh mereka masih ingat betul. Satu demi satu tokoh yang kita tanyakan dapat dijawab tepat oleh mereka. Padahal kami sendiri nyaris lupa karena dongeng dadakan itu memang tanpa skenario, full improvisasi dari kami. Masing-masing di antara kami bertiga sebagai pendongeng hanya mengerti inti cerita, tanpa dialog yang mestinya kami buat terlebih dahulju.
Sungguh, melihat mereka kami terenyuh. Anak-anak memang sasaran empuk bagi semua kalangan. Dunia yang dimilikinya dapat dijamah siapapun yang ingin menjadikan mereka prioritas tujuan, atau juga bagi kami yang ingin tetap dapat menjalankan misi KKN periode ini, memajukan pendidikan dalam semua lini. Begitupula ketika kami tanyakan pengetahuan mereka seputar Isro’ Mi’roj, kami pun dibuat terbelalak. Pengetahuan mereka jauh lebih fantastis dibanding pengetahuan kami yang hampir terkikis oleh kesombongan kami. Peranakan kampung memang sering diidentikkan dengan ketertinggalan, meskipun kenyataan justru sering berlawanan.
Bagaimanapun, memperingati hari besar memang tidak harus bermewah-mewah. Sebab, justru sering dengan kesederhanaan yang ada, kita baru tertohok dengan realita yang ada sebenarnya.
Berbagi Press Release..
Ini sekadar sisa press release yang aku kirim ke media lokal Madiun. Tengkiuh, ada yang dimuat nyaris tanpa edit. Seneng aja jadinya..
Menggalang Social Heart Demi Pemberdayaan Pendidikan
Madiun, Kare
Harus diakui, kondisi pendidikan di Indonesia masih cukup terseok-seok. Kurangnya Sumber Daya Manusia menjadi hal klasik yang belum menemukan solusi sampai saat ini. Tenaga pengajar masih sangat terbatas baik kualitas dan kuantitasnya. Apalagi tenaga pengajar untuk beberapa daerah di wilayah Indonesia. Selain jumlah yang tidak banyak, tenaga pengajar yang ada tersebut memiliki skill yang sangat minim dan kurang beragam.
Hal ini diperkuat dengan kondisi ekonomi negara yang kurang stabil dan semakin memperpuruk kondisi pendidikan yang ada. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada pun kurang mampu menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang proses belajar-mengajar sehingga, pendidikan Indonesia justru semakin terbelakang dari negara-negara lainnya.
Tidak hanya itu, keterkungkungan beberapa kelompok masyarakat juga menjadi tantangan terberat bagi penggerak pendidikan itu sendiri. Tidak sedikit masyarakat yang masih beranggapan pada stigma lama, pendidikan hanya dapat dienyam kaum borjuis semata. Nyatanya tidaklah demikian. Di mana ada kemauan, di situlah Tuhan memberi jalan. Menyikapi kondisi itulah, Kelompok Kuliah Kerja Nyata-Terpadu (KKN-T 03) UMM memprakarsai penggalangan dana bantuan pembangunan Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Atfal (TK ABA) 17 Kare Madiun. Diwakili PR III UMM, Joko Widodo dan staf Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM), Amir Syarifudin mendanai 10 juta untuk pembangunan yang dilaksanakan (3/8/09).
Dalam sambutan singkatnya, Joko mengemukakan, pendidikan di Indonesia sebenarnya tetap menjadi bagian klasik yang tidak mudah dipecahkan. Namun, bukan berarti tidak bisa direlisasikan sama sekali. Untuk itu, semestinya memperbanyak kerjasama untuk dapat menyelenggarakan pendidikan holistik di negeri ini. Bukan hanya pembangunan fisik, pendidikan sebenarnya adalah proses perubahan mindset masyarakat.
Maka, kerjasama yang dibutuhkan bukan hanya persoalan materi, namun bagaimana menggerakkan Social Heart seluruh pihak demi pemberdayaan masyarakat tertinggal atau masyarakat yang masih jauh dari kemamapanan sesungguhnya. “Pendidikan merupakan lahan paling tepat untuk dioptimalkan seluruh pihak, maka jangan sampai kita siakan kesempatan ini,” paparnya.
Nurani sosial menurut Joko, sudah seharusnya dimiliki setiap orang. Sebab, apa jadinya dunia bila sudah tidak ada lagi orang yang peduli pada sesama. Ia hanya larut memikirkan dirinya. Berbeda dengan orang yang bernurani sosial, ia akan terus memperjuangkan cita-cita bersama. Selalu tergerak hati untuk berbuat sesuatu yang ermanfaat, tanpa eah dan tanpa pamrih apapun. “Untuk itu, kita harus selalu menggugah nurani sosial kita agar tidak rakus dan terlena dengan ketamakan dunia,”
Sementara, Kepala Pembangunan TK ABA, Warsono, menceritakan awal perjuanannya di TK ABA, ia mengaku mulai merintis pembangunan sejak enam tahun lalu. Namun, tidak juga terealisir karena banyak faktor. Di antaranya disebabkan minimnya biaya. Untuk itu, aliran dana yang diluncurkan pihak UMM disambut suka cita olehnya. “Semoga bantuan ini membawa barokah dan dapat menjadi kelancaran amal usaha,” ungkap laki-laki usia enam puluhan ini.
Sejak berdirinya TK ABA 17 Kare, Warsono mengakui belum mempunyai sarana dan fasilitas pendukung kegiatan belajar mengajar. Bahkan, proses belajar pun sering mengalami pindah lokasi dari rumah ke rumah. Berkat kesabaran dan segala usahanya, TK ABA saat ini sudah mempunyai lahan tetap dan sedang dalam proses pembangunan.
Wilayah Kare bagi Warsono adalah medan yang cukup menantang, sebab letaknya yang terdiri dari banyak tanjakan jalan dan perbukitan membuat jarak rumah warga yang satu dengan yang lain lumayan berjauhan. Bahkan terdapat pula anak didiknya yang bertempat tinggal jauh dari sekolahan. Namun al itu tidak menyurutkan keinginan mereka untuk terus menuntut ilmu. Buktinya, meski belum mempunyai gedung tetap, namun siswa TK ABA 17 terhitung paling banyak dibanding sekolah TK lain yang berlokasi di Kare. “Sampai saat ini, jumlah anak TK ABA 17 cukup membuat saya bangga,” tuturnya.
Salah Dua Celah Itu..
Lokasi KKNku memang sedikit unik. Sebab kawasan Kare merupakan kecamatan terluas di Kabupaten Madiun. Bentuknya memanjang seluas 17.776,615 Ha. terbagi 8 desa terdiri dari 33 dusun 227 RT. Desa Mbodag, mBolo, Kepel, Kuiran, Kare, Randualas, Cermo, Morang memanjang di perbukitan kaki gunung Wilis 27 km timur Madiun. Masyarakatnya sebagian besar bekerja sebagai petani dan buruh tani ini cenderung modern menurutku. Dan memang benar, menurut aparat desa setempat, Kare sudah tidak membutuhkan penanganan lain. So, kami sempat kelabakan mau berbuat apa di situ. Selain terhambat kemajuan desa, lokasi KKN juga terbentur pada perbedaan organisasi keagamaan setempat. Informasi yang lebih dulu kami terima adalah Muhammadiyah -yang notabene naungan kampus kami- termasuk minoritas di Wilayah Kare ini. Hal ini menyebabkan apatisme masyarakat Kare terhadap segala hal yang berbau Muhammadiyah juga patut diwaspadai. Tidak tanggung-tanggung, yang menjelaskan hal tersebut panjang lebar adalah Pengurus Cabang Muhammadiyah Kare, yang otomatis merupakan Bapak Kos kami, para cewek.
Banyak hal yang beliau paparkan tentang perbedaan itu. Begitu ekstrim dan sangat asing di telinga. Satu-satu di antara kami bahkan ditanyai dari organisasi islam mana kami dibesarkan? Oh God! Meski mengenyam pendidikan di Muhammadiyah sedari lahir, aku tidak pernah diinvestigasi seperti ini. Dan walau kami berasal dari Universitas Muhammadiyah Malang, kami tidak pernah ditanya langsung oleh Rektor atau pejabat kampus yang lain seputar hal tersebut. Justru Kampus kami sangat terbuka menerima mahasiswa dari berbagai belah dunia, agama, suku ras dan segala macamnya. Meski kampus Islam, berbasis Muhammadiyah, toh kampus tidak pernah mewajibkan mahasiswanya berjilbab pada jam kuliah, semuanya bebas. Asal beradab..
Tentu saja investigasi Bapak Kos kami rasa Lebay, beliau memberi wejangan tentang apa yang seharusnya kami perbuat. Kami harus memprioritaskan Muhammadiyah dalam menjalankan tugas KKN ini, mengajar TPQ pun harusnya TPQ Muhammadiyah, dan lain-lain dan lain-lain. Otomatis Romantis, gak bangetlah! Teman-temanku mulai berkasak-kusuk. Itu intervensi! Jangan mau diinternvensi lebih jauh lagi! Kita yang punya program, kita juga yang tetapkan sasaran. Begitu respon Buntel, Kordes kelompokku.
Tanpa bermaksud mengesampingkan semua arahan Bapak Kos, aku yang menjadi Penanggung Jawab pengajaran TPQ justru sengaja banget tetap mempertahankan TPQ di bawah naungan Nahdhiyyin menjadi target pengajaran kami. Bukan bermaksud menyebarkan misi muhammadiyah atau bagaimana, tapi ini murni karena aku merasa lucu saja jika mau melakukan sesuatu untuk orang lain dengan mengutamakan latar belakang dia, lebih-lebih perbedaan yang sengaja diciptakan karena ketidak samaan naungan organisasi agama.
Alhasil, selama sebulan itu pula banyak hal yang aku coba lakukan untuk para santri di TPQ Al-Ikhlas, Dusun Sambong Kare. Lega rasanya melihat respon anak-anak TPQ yang setiap hari seolah menantikan hal baru dari kami. Kami makin semangat mencari games yang edukatif, mendownload lagu-lagu TPQ zaman bahulea untuk memompa semangat belajar mereka. Bersyukur, santri TPQ yang jumlahnya hanya tigapuluhan anak itu sangat apresiet dengan apapun yang kami berikan. Hiburan paling puncak adalah pada peringatan Isro’ Mi’roj yang kami rayakan dengan sangat sederhana dan full improvisasi. Begitu terharunya aku dan kedua temanku yang lain, yang menjadi narator dadakan dongeng antah berantah, tidak jelas mengadopsi darimana, berniat mengirim tulisan ke Warteg Surya. Tetapi hasilnya nihill Maka, ada baiknya aku posting sekalian di sini tentang kegiatan itu.
Celah lain yang membuat kelompokku, terutama Seksi Pendidikan dan Keagamaan -dimana terdapat namaku sebagai salah satu anggotanya- cukup bernafas lega adalah ketika aku mengajukan salah satu kegiatan ke Madrasah Tsanawiyah atau dengan nama lain Sekolah Menengah Pertama Negeri 01 Kare, kegiatan itu bernama Leadership Motivation Training yang dikemas dengan bentuk OutBond. Pihak sekolah menyambut positif kegiatan yang kami tawarkan. Limapuluh peserta yang kami targetkan pun dikabulkan pihak sekolah nyaris tanpa kesulitan.
Bertepatan dengan kegiatan OutBond, kami mendapat kunjungan istimewa dari Pembantu Rektor III. Kedatangan beliau memang bermaksud menyalurkan sumbangan buat pembangunan Taman Kanak-Kanak yangh ada di Kare. Aku bikin press release tentang kunjungan PR III ku, serta aku buat juga tulisan tentang OutBond yang aku gelar. Beruntung sekali, duaduanya dimuat di Radar Madiun meski dalam waktu berbeda. Aku cukup puas karena berita yang dimuat itu murni tulisanku, nyaris tanpa edit. Aku tidak begitu mengerti apakah itu sesuai dengan Kode Etik Profesi atau tidak, yang jelas aku menikmati tulisan itu walau ditulis dengan inisial lain.
Hal lain yang tidak kalah menarik adalah sebuah kenyataan lain dari kesempurnaan pencapaian pembangunan wilayah Kare. Memang tidak terbantah jika kawasan ini relatif maju, bahkan kondisi fisik rumah penduduknya pun jauh lebih mapan dibanding rumah warga di Kampungku. Pendapatan daerah, yang rata-rata penduduknya merupakan petani Cengkeh dan Kopi ini pun tidak dapat diragukan. Patutlah jika aparat desa sudah merasa di atas angin mendapati kondisi masyarakatnya seperti itu. Hanya memang, tak ada gading yang tak retak. Pun Kare, di tengah kepercayaan diri pemimpin daerahnya, masih ada banyak hal yang dibutuhkan masyarakat pada dasarnya.
Meski pada awalnya aku bersungut setengah mati dengan KKN ini, namun pada akhirnya banyak pelajaran hidup yang aku dapat. Di antaranya:
v Tidak seharusnya kita percaya begitu saja pada Aparat Desa yang terlalu membanggakan kemajuan desanya. Sebab, bisa jadi yang maju tuh sebenarnya cuman satu, sedang yang lain masih menunggu…
v Sahabat itu bisa didapat di setiap tempat, tergantung hatimu berkehendak atau tidak.
v Tidak selalu hal yang dianggap remeh temeh adalah hal yang tidak berguna. Sering jika terdesak, hal yang selama ini dianggap remeh justru menyelamatkan nyawamu sepanjang masa.
v Dalam kondisi terpuruk sekalipun, kita akan selalu menemukan senjata untuk bangkit. Selalu ada penyemangat itu, meski kadang berasal dari sesuatu yang tidak pernah kita sangka, apalagi kita rencanakan.
Cukup sudah. Hanya itu catatan KKN yang bisa aku bagi..
Akhirnya Aku Kembali…
Lega rasanya telah berhasil menempuh salah satu tugas kuliah yang diyakini banyak mahasiswa merupakan beban kedua selain skripsi. Yupz, kuliah Kerja Nyata atau yang lebih akrab diplesetin Kanan Kiri Nonggo, Kluyar Kluyur Nyaman dan kepanjangan lain yang tidak kalah mekso. Seminggu sudah aku kembali mendekap guling dan menikmati kamar kosku yang tidak nyaman-nyaman amat. Ada bebrapa catatan yang mengendap, sesekali berontak untuk dituangkan sekembalinya aku dari KKN.
Well, dimulai dari pemberangkatan KKN pada 25 Juli lalu. Aku tergabung dalam Kelompok 03 yang dipusatkan di pedalaman kota Madiun, tepatnya di Desa Kare Kecamatan Kare, Madiun. Sepanjang perjalanan ke tempat itu, aku ilFil banget ngeliat temen-temen kelompokku. Gaya mereka sok borju. Yah, cukup terbukti dengan iuran KKN kami yang jumlahnya relatif lebih dibanding kelompok lain. Bahkan untuk yang di dalam kota, iuran mereka bisa separo dari iuran kelompokku.
Jadilah selama dalam perjalanan aku hanya diam, tanpa menoleh ke teman yang lain. Aku hanya ngerumpi seadanya sama teman sebelahku. Itupun tidak lama karena belum setengah jalan, aku sudah KO duluan. Mabuk udara Bo’! keren gak seh? Sudah ilFil diperlengkap muntah. Lengkaplah muntah ilFil..
Malang-Madiun cukup memakan waktu yang agak panjang. Sepadan dengan perjalanan Malang-Lamongan. Hanya saja medan jalannya jauh lebih mengguncang. Bagaimana berbahayanya tanjakan demi tanjakan yang selalu mengundang desir kekhawatiran. Sudah pusing, ditambah pemandangan mencekam lagi. Ada sepeda motor yang tabrakan sama truk, pengendaranya berdarah-darah. Aih, ngeri betul. Sepanjang jalan aku terpejam. Ini awal yang cukup membuat berpikir ulang kenapa aku memilih KKN keluar kota.
Belum cukup hilang mualku, ternyata sesampai di Madiun, perjalanan masih cukup menantang. Tanjakan perbukitan yang berada di Kawasan gunung Wilis ini lebih menegangkan. Bis Kampus yang kami tumpangi harus mengedan cukup lama untuk mencapai wilayah Kare yang letak geografisnya hampir sama dengan Malang, terutama kawasan Batu. Tikungan tajam serta tanjakan menantang merupakan sensasi perjalanan yang patut dikenang.
Akhirnya sampailah perjalanan kami, maka bermulalah segala cerita seputar KKN ini. So Tengkiuh buat semuanya.