Energi Positif Soundwave 😘

Selama masa pemulihan pasca laparotomi, saya harus total istirahat yang cukup bikin mati gaya. Sekalipun masih leluasa berselancar di dunia maya yg tidak fana ini, hihi rasanya bosen juga beristirahat seperti ini. Buka seluruh media sosial tentu saja jadi penghibur yang sangat membantu, bosen buka fesbuk, buka instagram, twitter, begitu terus sampe akhirnya juga bosan. Dasar konsumtif ya, harusnya masa-masa istirahat seperti ini bisa saya gunakan untuk menulis buku yang tidak juga saya wujudkan 😣. Baca lebih lanjut

Iklan

Endometriosis yang Perlu Saya Tahu

Sudah cukup lama, saya didiagnosa endometriosis atau kista coklat oleh beberapa dokter spesialis kandungan dimana saya periksa untuk memastikan bahwa saya mengidapnya.

Hampir semua dokter mengatakan hal yang sama, bahwa endometriosis memang tidak berbahaya, dia bukan sejenis kanker yang mematikan. Tapi dia memang mengganggu, terutama bagi saya, yang sudah menikah hampir 3 tahun dan belum juga hamil sampai saat ini. Bagaimana bentuk gangguan endometriosis, tergantung dimana dia bersarang. Baca lebih lanjut

Merdekakan Perasaanmu!

Pernah tidak ada yang merasa terganggu, dalam artian stress, bingung tidak tahu harus menjelaskan seperti apa ketika ada orang yang mmberi penilaian buruk terhadap sikap atau perlakuan kita padahal kita tidak bermaksud seperti yang dia nilai itu? Jika tidak ada, maka sayalah satu-satunya orang yang sedang stress memikirkan itu.

Saya agak sedih mndapat penilaian dari orang yang bahkan mengenal saya saja tidak, tapi sudah ‘ngompori’ orang lain untuk jauh-jauh dan berhati-hati dengan saya, tentu saja dengan pertimbangan yang tidak semuanya salah. Saya egois, saya arogan, saya dominan, pengadu domba, pemisah pihak-pihak. Banyak sekali, dan tidak mengenakkan. Baca lebih lanjut

Jadilah Miskin yg Bermartabat

Jauh dari hiruk pikuk pemberitaan media mengenai kejahatan seksual yang merajalela, termasuk di surabaya, saya berkutat dengan tugas dari Dinas Sosial untuk melakukan pendekatan persuasif ke warga Setren Kali Jagir yg sebentar lagi akan direlokasi ke rumah susun di Romokalisari. Dalam menjalankan misi tersebutlah saya bertemu dengan beberapa orang yang sangat meracuni saya untuk mengabadikan pertemuan itu lewat tulisan.

Saya bertemu dengan Bu Sarinten, ibu berusia kurang lebih 50 th ini perempuan hebat yg menghidupi anak-anaknya dengan berjualan keliling kue-kue yg dia bikin sendiri di rumah sangat sederhana. Bukan hanya itu kehebatannya, Bu Sarinten mampu melawan stroke yang sempat melumpuhkannya. Semangat bekerja untuk menghidupi anak-anak membuat Bu Sarinten mampu bangkit. Sebagian tubuhnya yang mati rasa dan kaku, perlahan mampu dia gerakkan kembali dan total dia bisa beraktifitas seperti semula. Baca lebih lanjut

Embuh Sekarep

Tidak tau kenapa, detik ini saya sedih sekali. Ada banyak hal berseliweran. Saya capek.
Saya capek melihat dan mendengar hal yang terus diulang-diulang. Saya capek selalu dijadikan kambing hitam. Meski tak terang terangan bilang semua salah kamu, tapi selalu dan selalu ujungnya ‘blaming’.

Saya berusaha kuat. Saya berusaha menjalani sewajarnya. Tapi jika saya terus begitu, saya takut mati rasa. Saya takut kehilangan empati, dan itu lebih gawat.

Saya tidak pernah bisa tenang dan saya ketakutan jika suatu saat saya meledak karena overload. Saya makin tidak tenang ketika mengusir ketidak tenangan yang menjalar menjangkiti syaraf kesadaran saya.

Saya ingin menyingkir. Menyatu dengan serpihan diri saya sendiri.

Surabaya, 10 April 216

Beritakan Penjarahan, Bukan Aliran Sesatnya.

Sebenarnya sebelum menulis tentang Ira, remaja eks gafatar, saya lebih dulu ngobrol dengan bapak ibu eks gafatar yang juga sangat menarik. Dari mereka saya tau bahwa tujuan mereka berangkat ke kalimantan adalah dengan misi swasembada pangan. Mereka mengatakan sudah tidak mungkin bercocok tanam di tanah jawa karena semakin tidak punya lahan. Tanah jawa juga sudah penuh sesak. Oleh karenanya dengan senang hati mereka berangkat transmigrasi, karena ada jaminan kehidupan yang lebih baik. Baca lebih lanjut

Anak-anak eks Gafatar, Cerdas dan Pintar

Baru tiga hari saya bergumul dengan pengungsi eks gafatar di transito. Selama tiga hari itu pula saya saksikan banyak di antara mereka yg baru datang, juga mereka yg langsung dijemput pulang ke kediaman asal.

Nyaris tak ada yang aneh sih dengan orang-orang ini, secara penampilan mereka ternyata biasa saja. Karena dalam bayangan saya barangkali pengikut gafatar juga punya tampilan yang berbeda dari yang lain. Termasuk juga anak-anaknya. Baca lebih lanjut