Hore, Blogger Pun Dinasionalkan!

Ada untungnya juga aku bangun pagi meski gak da kuliah hari ini, lebih beruntung lagi ketika aku nyalain tipi, bosen dengan program tayangan yang ada. Kakiku memencet tombol Channel sesukanya. Maklum, remote tipi kosku lagi error. Wuih leganya setelah ngeliat tayangan pagi ini. pada stasiun telepisi yang menjadi pelabuhan Desy itu, ada Enda Nasution yang ternyata adalah Bapak Blogger Nasional Bo’!

Yah, aku baru tau kalo tenyata 27 Oktober hari ini diperingati sebagai Hari Blogger Nasional. Its mean, sebagai Blogger aku mempunyai hari kebangsaan juga. Gak sia-sia jadi Blogger. Selama ini, karena segala keterbatasan yang ada padaku, aku selalu berpikir Blogger hanyalah sebuah kemajuan teknologi semisal Friendster, just for fun! Seru-seruan. Tapi ternyata Blogger lebih dari itu, paling gak Blogku adalah tempat sampah paling nyaman untuk memosting artikel sampahku.

Kenyataan lain yang sangat membanggakan, Blog adalah media untuk membentuk jejaring sosial yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain dapat memuat berbagai opini yang ingin dibagi, dialah media representative untuk membuktikan eksistensi diri. Lebih-lebih untukku, mungkin..

Baca lebih lanjut

Iklan

Bersama, Binasakan Para Kleptokrat

Sebenernya agak sedih ketika melihat tulisan ini dimuat dengan nama lain. Asli tulisanku, aku cuman pinjam nama anak itu. Biasalah, orang kalo kepepet pasti berpikir singkat. Tapi biarlah, ini memang murni karyaku. Maka menjadi hakku sepenuhnya untuk memerdekakan tulisan ini melalui blogku.

Korupsi adalah jajanan basi yang terus beredar di negeri ini. Tidak hanya satu dua pejabat yang menyuguhi jajanan menggiurkan tersebut. Namun hampir semua pemangku kebijakan negeri ini tersandung masalah yang sama. Korupsi, korupsi dan korupsi. Begitu akrabnya istilah ini sehingga masyarakat luas sudah nyaris muntah kekenyangan jika ada kabar baru yang memberitakan tindak korupsi.

Korupsi yang mengadopsi bahasa latin, corruptio ini memang mempunyai arti busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik dan menyogok. Sedangkan menurut Transparency International, korupsi merupakan perilaku pejabat publik, baik politikus, politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri mereka atau orang-orang terdekat mereka dengan menyalahgunakan kekuasaan yang dia miliki.

Baca lebih lanjut

Dukung Pelegalan Aborsi

Nambah lagi sisa tulisanku yang tidak lolos kualifikasi media. Tulisan ini hampir setahun lalu aku bikin. Inilah bentuknya..

Sampai saat ini, kasus aborsi di Indonesia masih belum mengalami penurunan yang berarti. Justru sebaliknya, kasus aborsi kian mengalami peningkatan dari tahun ke tahun -setiap tahun mencapai dua juta kasus- berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah pada 2006 lalu. (http://www.bkkbn.go.id)

Parahnya, hasil survey Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) di sejumah kota besar pada tahun 2003 justru menunjukkan, 87 persen aborsi dilakukan perempuan yang sudah menikah atau punya pasangan sah dan 13 persen lagi belum menikah.

Baca lebih lanjut

Menyelami Masa Depan Kaum Nelayan Indonesia

Lama ga posting. Aku jadi malu sendiri, niat hati mau rajin beribadah dengan blog, ternyata glodagk! Tapi usaha tetep jalan kok. Ini salah satu bentuk usaha itu, aku membongkar tulisan yang ditolak media. Ternyata lumayan banyak, meski lebih banyak yang aku hapus 😦 Ya, memang bisa aja seh dikirim ke media lain. Tapi takut ditolak lagi. Yawislah biar lebih merdeka diposting aja. HaHa..

Indonesia merupakan salah satu Negara maritim yang memiliki pantai terpanjang di dunia, dengan garis pantai lebih 81.000 km. dari 67.439  desa di Indonesia, kurang lebih 9.261 desa dikategorikan sebagai desa pesisir. Karena berada di pesisir, dapat dipastikan mata pencaharian terbesar penduduk pun melaut, menangkap ikan di laut atau lebih populer dengan sebutan nelayan.

Nelayan di Indonesia merupakan kelompok sosial paling miskin setelah petani. Nelayan lebih memiriskan lagi, dalam penjabaran buku Kusnadi (Yogyakarta: LKiS, 2002), dua faktor mendasar yang menyelimuti nelayan adalah  faktor alamiah dan dan non alamiah. Dimana, faktor alamiah berkaitan dengan fluktuasi musim-musim penangkapan dan struktur alamiah sumber daya ekonomi desa. Sedangkan faktor non alamiah berhubungan dengan keterbatasan daya jangkau teknologi penangkapan, ketimpangan dalam sistem bagi hasil dan tidak adanya jaminan sosial tenaga kerja yang pasti.

Baca lebih lanjut