Better Porno Than Parno Or Poernomo?

gara-gara baca kasus pembunuhan mahasiswi yang ditemukan tewas mengenaskan di kamar kosnya, di Yogyakarta, buluku merinding disko pas jalan kaki sendiri menembus kegelapan malang –lebay- menuju kamar kos yang kurindukan.

Diiringi sedikit gerimis, lampu penerangan gang kosan yang alamak remang-remang, dan lebih sering gelap gulita itu, aku terus melantunkan doa apa saja yang aku bisa. Sampai tibalah detik yang seakan menghentikan langkahku. Degg!! Sumur tua yang menganga di tanah kosong depan kosku itu katanya peninggalan zaman Belanda, pun tembok tua yang mengitarinya, makin bergidik melihat lumut yang mempertebal tembok itu, aduh, jangan sampai aku ketemu penjahat dan dimasukkan ke sumur tua itu Ya Allah..

Rasanya ada yang mengikuti langkahku, aku pasrah. Jika memang Tuhan menakdirkan aku meninggal dengan cara dibunuh, bukan dengan bunuh diri seperti rencanaku selama ini –hoho-  maka apa yang aku bisa selain pasrah dan harap-harap cemas menunggu detik-detik menentukan itu?

Baca lebih lanjut

Iklan

Perkenalkan, Ini Suamiku…

Terngiang-ngiang komentar si mukabantal nih, ga ada yang salah dengan komennya, tapi yang bikin kepikiran, gimana ya bikin tulisan yang menarik dikomentari? *sok serius..

Pada dasarnya aku memang ngeblog sesuka-sukaku seh, kalo ada yang berminat baca silakan, kalo nggak juga pasti aku paksa, hehe. Untuk beberapa teman yang kebetulan juga punya blog, kadang aku minta bener untuk sempetin baca blogku, dan mohon berkomentar. Yah, meski tidak semua postinganku menyisakan komentar dari pembacanya tapi minimal aku lega, sudah menumpahkan rasa, membagi pengalaman –meski minim- pada blog yang sudah aku bikin.

Sejatinya, blog bagiku adalah teman berbagi, meski pada akhirnya aku benar-benar mendapat teman dalam bentuk fisik dari blogku, tapi niat awal memang untuk itu, karena aku termasuk orang yang susah mengemukakan pendapat, uneg-uneg atau kecamuk hatiku dengan ucapan, aku merasa lebih ekspresif jika menuliskannya. Tidak heran jika satu dua orang akan kaget membaca tulisanku, baik artikel maupun yang jelas-jelas curhat, menurut orang-orang ini tulisanku lebih garang dan lebih bernyawa ketimbang ekspresiku ketika berbicara. Walau sekarang aku tak sependiam dulu, tapi sejujurnya aku tetap lebih nyaman menulis daripada ngomong, aku lebih cerewet kalo chatting, tapi malu-maluin kalo bertatap muka langsung 😀

Baca lebih lanjut

Pak Masfuk, Tolong Baca Blog Saia..

Inilah untungnya punya Blog, bisa menampung artikel sampahku yang tidak juga lolos ke Media. Hadagh..

Ini salah satu artikel lama, yang sudah melalui proses edit sana-sini, tapi tak berhasil dimuat juga di Forum Kompas Jatim. Padahal, isinya amat sangat penting, berharap sangat dibaca Bupatiku.

So, mohon berkenan blogwalking Pak Masfuk, mampirlah di rumah cerita arek Menchorek, sebelum dusun tercintaku benar-benar tenggelam dalam lumpur dan bah sodetan bengawan solo nan bohai itu… Baca lebih lanjut

Tips Menggagahi Pulau Sempu

Semangat banget menuliskan sisa perjalanan tahun kemarin, yang full petualangan fisik dan batin. Well, ini tentang perjalanan ke Pulau Sempu, Sendang Biru. Tentunya Malang punya dunk..

Jangan tanyakan lagi eksotisme yang ditawarkan kawasan ini. Pasir putih, laut lepas, debur ombak kehijauan nan mendayu, seringai karang, semuanya menyatu padu dalam balut Segara Anakan.

Sensasinya dwar dwar deh pokoknya, bahkan tulisan Desy yang menceritakan tentang Sempu, bagiku sudah cukup sempurna mengulas pesona pantai ini.

So, aku tidak akan mengulasnya lagi Des! Satu kata yang cukup mewakili syukurku bisa menggagahi Sempu adalah Damn! Ai Luph U Pull Sempu..

Ini tentang sesuatu yang sangat menggangguku ketika dalam perjalanan meninggalkan Sempu. Ya, setelah menghabiskan satu malam, membawa tenda imut cantik yang ternyata hanya jadi pemanis, karena aku dan kawand-kawand lebih memilih berguling di pasir, menatap langit malam yang tertutup mendung –sayang banget- kami memutuskan mengakhiri perjalanan dan segera balik ke tengah kota minggu siang –bukan minggu sore seperti yang sudah direncanakan- karena satu-satunya bekal paling penting untuk mengantarkan kami ke tiga pantai lain yang ada di sekitar Sempu (Pantai Panjang, 2 pantai yang lain apa ya, aku lupa), air mineral, sudah habis lebih dulu.

Demi kemanusiaan kami pada diri sendiri, urunglah aku dan kawand-kawand melanjut perjalanan. Kami pulang, kembali menyusur hutan, menuju Sendang Biru, menunggu jemputan perahu yang kemarin mengantarkan kami.

Dua jam melintasi hutan menurutku tidak cukup melelahkan, karena selain banyak berhenti, foto-foto sekadar unjuk gigi, ketawa-ketiwi yang kian mengeluarkan keringat tubuh, semuanya menjadikan perjalanan ini sangat berkesan.

Satu gangguan tersisa untukku sampai kini adalah pemandangan ketika kami pulang, mengantri satu-satu untuk menaiki perahu yang akan kembali membawa kami ke daratan.

Sembari mengantri naik perahu, aku cukup melongo menyaksikan satu demi satu pengunjung Sempu yang baru datang, mereka satu rombongan, terdiri sekitar 10 lebih orang. Bukan karena mereka memang jauh lebih menarik dibanding kawand-kawandku, tapi yang lebih mengganggu adalah kostum yang mereka pakai.

Mulai dari kaos, tengtop, hotpen, topi, hingga alas kaki yang mereka kenakan asli branded banget, tapi plis deh Mbak Mas, kita mau ke Pantai lepas, menyusur hutan agak licin, sesekali naik turun, menyerahkan diri pada seringai karang dan bercebur di pantai, masa pake haig hil gitu? Aduh-aduh, kok mataku jadi terganggu..

Bukan apa-apa, suka-suka deh pengunjung mau pake apa saja, tapi demi keselamatan diri sendiri, plis bayangkan bagaimana lelahnya menanjak hutan dengan sandal dan sepatu yang lebih match dipake kalo ke mall itu.

Sempu itu hutan Mbak, dengan 30 menit menyeberang laut Sendang Biru, menyusuri dua jam hutannya, baru sampai pada Segara Anakan nan eksotis itu. Sempu berbeda dengan Balai Kambang, Ngliyep ataupun kawasan pantai Malang yang lain, yang masih memungkinkan dijangkau dengan tampilan seperti itu –yang menurutku juga tetap saltumlah-

Meski sama-sama pantai, laut lepas dan karang menjulang, Sempu juga jauh berbeda dengan Kuta –emang di Kuta ada karang? haha- Tanah Lot,  Nusa Dua, apalagi Nyanyur –Sanur maksudku- atau Uluwatu sekalipun.

Sempu so different, sensasinya lebih dari semua pantai itu –haha, bombai mode on- kalo nggak percaya pergi dan buktikanlah! Serasa main film tanpa skenario kita di sana. Panorama indahnya itu lo serasa khayal banget, but its real..

So, menurutku Sempu akan bisa kita nikmati sempurna dengan membawa bekal ini: air mineral secukup-cukupnya, karena aku doyan minum, akan bagus kalau setiap satu orang membawa tiga liter aqua, obat merah, obat sesak napas, permen karet buat dikunyah sepanjang jalan, pakai pakaian yang bisa serap keringat berlebih, siapkan lotion anti nyamuk, sandal dan sepatu yang tidak membuat kita cepat lelah, bukan haig hil, plis deh!

Pake hotpen juga bagus aja se, tapi apa gak cukup mengganggu peredaran darah tubuh ya dengan ukuran seketat itu, pake tengtop juga gapapa asal betah disapa satu dua nyamuk hutan yang tergoda ingin berkenalan dengan kita.

Bagi yang berniat kemping –lebih bagus menginap memang, dijamin puas- bekal yang harus dibawa ya standard perlengkapan kemping gitulah, jauh lebih penting lagi selain baju ganti -karena pantainya benar-benar menggoda untuk terus digagahi, bahasa lebih menarik dari sekadar berendam u know- adalah kamera.

Thats all, kita juga bisa bakaran ikan sepuasnya jika membelinya di kampung nelayan yang lebih dulu kita lintasi, bukan mengejar udang dan ikan semaleman seperti yang kawand-kawandku lakukan 😛

Sempu keren banget dah!!! Masih berharap bisa ke sana lagi, kalo ada yang berminat, bisa kontak-kontak ya.. hehe

Yeyeye, Kawah Idjen Pancen Oye…

Berbicara tentang Indonesia memang sama membanggakannya dengan ngobrolin all about pasangan kita. Sering bikin sebal, tapi kita sayang, sering bikin marah, tapi rindu kita tetap utuh, pengen pisah ranjang, tapi kedinginan, sampe pengen cerai, eh nggak ada biaya ke pengadilan 😀

Indonesia memang unik, kekayaan alamnya yang bisa menenggelamkan penduduk dalam kubangan milyar dollar ini ternyata hanya membanjir di kantong pengusaha, penjabat, penjilat dan pemerintah yang sakit jiwa, mengkhianati amanah rakyat sesuka-suka mereka.

Tapi ya sudahlah, apapun yang sedang mereka perbuat, kita harus tetap bangga dengan Indonesia yang kaya raya ini, meski kekayaannya justru banyak diurus tangan-tangan nista. Loh, kok ke sana lagi sih? 😛 Baca lebih lanjut

Mimpi dan Kebahagiaan Kita

Ada sesak yang sudah membuncah pagi ini. Obrolan panjang dengan adikku, Yai, adalah penyebabnya. Tidak ada kata menyakitkan, semuanya mengalir, bermula dari ucapan selamat ulang tahun, untuk usiaku yang kian matang sekaligus minus keberhasilan.

Adikku hanya bertanya, apa keinginan terbesarku saat ini, dan aku tak mampu menjawabnya, adikku melanjut berkisah tentang semua mimpinya, hanya ingin terus ngeband, itu saja cukup.

Adikku tidak menginginkan apapun kecuali dia berkumpul dengan teman-teman band yang dibentuknya sedari dia bisa menabuh drum, menyatukan nada untuk mengiringi lantun kalimat penyemangat yang dia bikin. Baca lebih lanjut

Cerita Miring yang Kembali Mampir

Entah kenapa masih terus bermunculan cerita miring yang harus mengusik ketenangan pikirku. Ini kembali tentang pemahaman perempuan terhadap keperawanan yang dimilikinya.

Cerita miring itu mampir begitu saja, tanpa aku kehendaki. Salah satu adik kos temanku sore itu meraung bersimbah airmata, alasannya dia diputuskan oleh tunangannya karena kesalahan yang menurutnya sangatlah sepele, dia bersms dengan sang mantan, tak ayal, sang tunangan murka besar dan memutuskan hubungan begitu saja. Baca lebih lanjut