Kapling Surga

Ada tontonan baru dekat rumahku

Banyak orang berjubah

Berjenggot lebat dengan jidat menghitam

Menangkap di antara kami dengan sembarangan

Yang kebetulan sedang berduaan dengan lawan jenis

Meski bukan pacar

Orang berjubah ini juga serampangan

Memukul temanku yang sedang mabok minuman

Menghardik keras temanku yang tak sadar

Menempeleng, menampar, menendang

Mereka juga membakar rumah pelacur

Melempari batu para perempuan itu

Para jidat hitam itu bilang dengan lantang

Surga tak menerima pezina, peminum, dan pelacur

Surga sudah dikapling, hanya untuk mereka…

Iklan

Aih, Senyummu Mas…

Ini kejadian yang amat sangat sepele, tepatnya sore habis maghrib ketika aku ngisi pulsa kemarin, hanya senilai lima ribu pulsa yang aku beli, tapi keramahan luar biasa si Mas penjualnya bikin aku tersepona. Haha..

Masnya baik banget, nggak lelet, senyum-senyum sopan, aduh pokoknya bikin pengen segera ngabisin pulsa biar bisa ngisi ke counter itu lagi  😀

Pulang ke kosan aku tersenyum-senyum simpul, membayangkan si Mas yang tak begitu tampan itu, eh berandai-andai jika saja semua penjual ato penyedia layanan bisa seramah Mas itu, pembeli tentu tidak hanya akan merasa nyaman, tapi asli mereka akan ketagihan.

Para penyedia layanan itu tau nggak ya kalo keramahan mereka sebenarnya adalah promosi tanpa biaya paling ampuh yang bisa digunakan sebagai strategi pemasaran paling yahud?  Hm, nampaknya tidak semuanya menyadari itu…

Baca lebih lanjut

Terapi Ampuh Bersama Tea for Two

Sudah lama sebenarnya aku membaca buku ini, tapi entah mengapa aku masih juga tidak menemukan kebosanan setiap kali membacanya, buku karya Clara Ng ini bagiku cukup ampuh mengusir berbagai kecamuk hati tentang pernikahan yang selama ini aku takutkan.

Tea for Two, demikian judul besar di sampul buku ini, buku yang habis sekali baca dan cukup berguna daripada jutaan ceramah tentang pernikahan yang sering aku dengar. Yupz, tanpa bermaksud mempromosikan, karena aku tidak dapet kompensasi apapun dari penulis maupun penerbitnya, tapi jika boleh aku mengusulkan, buku ini sebaiknya dibaca tuntas oleh mereka yang akan segera menikah atau bahkan yang memutuskan untuk tidak menikah selama hidupnya.

Menceritakan tentang Sassy, seorang perempuan mapan, yang membuka perusahaan percomblangan dengan nama Tea for Two, dia bermaksud mempertemukan antar jomblo yang menginginkan segera bertemu pasangan, mengkapitalisasi perjodohan dengan keuntungan yang menjadikan Sassy perempuan karier yang benar-benar mapan. Singkat kata, bisnis Sassy berjalan lancar, selain menjadi konsultan  jombloers, Sassy juga menjadi Wedding Organizer yang sangat professional. Sassy yang cantik, gesit dan energik ini benar-benar perfeksionis, sehingga tidak ada satupun masalah yang tidak bisa diselesaikannya dengan sempurna, masalah apapun itu yang berkait erat dengan percomblangan dan pernikahan bisa mulus tanpa bekas jika Sassy turun tangan menyelesaikannya.

Baca lebih lanjut

Professor, Anda Benar-Benar Norak..

Sudah bukan lagi hal asing ketika aku selalu kebagian tugas notulensi dalam setiap acara kantor, baik ketika acara dilangsungkan di kantor maupun di luar kantor, baik ketika MCW yang menyelenggarakan acara itu sendiri, maupun ketika MCW hanya menjadi peserta undangan dalam acara yang diadakan pihak lain.

Kemarin, MCW diminta untuk membantu notulensi acara besar di salah satu kampus di sini, lagi-lagi aku yang dieksploitasi untuk menotulensi. Seminar Nasional yang idealnya dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Jatim ini berlangsung hanya dihadiri oleh Soekarwo dan Dirjen Pembinaan Keuangan Daerah, minus Pak Mendagri.

Sedari awal acara, aku sudah tak begitu nyaman, pasalnya Panitia berlaku sangat ketat dan sok, mungkin karena event nasional, mendaulat Gubernur jadi narsumb, mereka jadi parno akan terjadi sesuatu yang membahayakan dan mengancam jalannya acara.

Seperti pada setiap notulensi, aku pilih duduk di belakang, menampik dengan halus untuk menduduki kursi di depan peserta, berdekatan dengan narsumb. Yaya, tidak PD akutku membuatku lebih nyaman di belakang, toh depan belakang juga sebenarnya nggak ngaruh, yang penting aku mudeng, dan bisa mengartikulasikannya dalam kata-kataku.

Baca lebih lanjut

Semesum, Bukan Semusim

Dasar bocah semprul, kedua lelaki dewasa itu benar-benar tak kumengerti. Meski benar-benar bermaksud ngebanyol, tapi tatapan mereka masih melambai-lambai dalam benakku yang terdalam.

Memang ini lagi ngomongin apa se? Ya, ini cerita konyol perjalananku ke Probolinggo kemarin, selain masih ada bahan tulisan lain yang lebih menggelitikku, tiada salahnya kekonyolan ini aku muntahkan lebih dulu.

Sore setelah acara pelatihan itu, aku dan beberapa kawan masih dipaksa melayani peserta yang masih belum puas dengan materi yang disampaikan  oleh sesepuh suku kami, maka dengan muka sebal semanis mungkin, duduklah kami sembari berpura-pura dengan antusias menyimak bahan obrolan. terutama aku, yang menjadi satu-satunya bidadari paling celaka di antara para lelaki dewasa itu, senyum-senyum simpul dan mengerjap penuh harap agar mereka segera mengakhiri perbincangan dan kami bisa melanjut perjalanan kembali ke Malang, bukan saking tidak betahnya di Probolinggo, yang seumur-umur memberiku suguhan menarik karena nyamuk hotelnya, tetapi ini karena esok subuh kami mesti melanjut perjalanan ke Ponorogo. So, tubuh nan tipis ini akan makin mengekeret jika berlama-lama menduduki kijang tua sebagai kendaraan kebesaran aku dan beberapa kawan selama ini.

mula-mula mereka ngomong tentang pendidikan, mulai dari pergeseran paradigmanya hingga pada politisasi pendidikan yang masih sering digunakan senjata paling ampuh oleh mereka yang menginginkan kekuasaan, setengah hati aku menyimak, agak bosan soalnya, hingga tibalah pada detik yang membelalakkan mata sipitku dengan paksa, mereka ngomongin tentang zina..

Dodol sumeradol, bertepatan dengan meluncurnya kalimat ini:

Memang bener-bener, praktek zina itu sudah sedemikian melebar, menimbulkan dampak psikis-sosial, entah dengan cara apa membuat para pelakunya sadar..,”

Bertepatan dengan meluncurnya kata-kata si Bapak,   salah satu kawan langsung menatap ke arahku dengan spontan, sialnya langsung diikuti tatapan yang lain, sekitar 6 laki-laki dewasa itu menatapku bersamaan, dengan tatapan aneh, loh, maksudnya apa sih?

Aku makin salting, ini orang kok bisa berlaku seperti ini? kusambar HP dengan asal, kubenamkan mukaku penuh  khidmat, sibuk pencet sembarang. Setelah itu kutatap lagi mereka, perbincangan mulai ganti topik, aku tatap temanku setengah mendelik -karena mataku tak bisa dipake mendelik dengan benar- maksud tatapanku sederhana, meminta kejelasan makna tatapan mereka.

Dan jawaban itu baru aku peroleh hampir satu jam kemudian, dalam perjalanan kami pulang, kurang lebih inilah jawabannya:

Karena selama ini kamu tuh paling vulgar ngomongin all about sex, jadi tatapan tadi juga refleks aja, nggak tau ternyata yang lain tergoda juga untuk menuduhmu sebagai pelaku perzinahan itu, meski hanya dari tatapan mereka, aku bisa simpulkan, sepertinya mereka menuduhmu, haha..”

Aku terbahak, itukah maksudnya? Prestasi bagiku dong kalo mereka benar beranggapan demikian sambil terus berpikir mencari kebenaran. Well, mungkin inilah sedikit kebenaran itu.

Kita masih sering terjebak pada paradigma pintas, tanpa lebih dulu menelaah tampilan maupun perilaku seseorang, ada yang blak-blakan ngomongin seks, orang sudah beranggapan dia pemain tangguh, ada yang bertindik tatoan, sudah dianggap preman, berpendapat dengan vulgar juga sering dianggap pembangkang, amoral, dan sebutan lain yang kadang menyudutkan. Aku kurang sepakat dengan cara berpikir seperti itu.

Bukan apa-apa, pengalaman yang mengajariku banyak hal, teman-temanku yang setauku pecandu, MBA, aborsi bahkan ngeseks dengan gontati pasangan rata-rata justru mereka yang lama hidup di Pesantren, cenderung alim dan tak berkata kasar, tampilan mereka pun amat sangat sopan, berdosa rasanya jika berpikiran buruk tentang mereka, padahal…

Dalam keterpingkalanku aku terus berpikir, kalo benar tatapan para lekong itu bermakna demikian, harusnya aku bangga karena dua hal, satu: dengan anggapan seperti itu, maka pendapatku tentang tiadanya laki-laki yang bernapsu atasku sedikit terpatahkan 😛

semesum itukah mukaku? 😀

kedua, apa ya? aku lupa. haha…