Siapa Nabrak Siapa Gebrak

Sudah bukan hil yang mustahal kemacetan luar binasa terjadi di setiap gang kecil di sudut Kota Malang Melintang ini, terutama gang-gang kawasan kampus, aku bilang gang karena untuk dikatakan sebagai jalan rasanya terlalu memuliakan jalan tak seberapa lebar itu.

Gang yang sering mengundang korban bentrok sesama pemakai jalan ini salah satunya adalah pintu masuk Tirto Utomo, Landungsari. Setiap memasuki gang ini, siap-siaplah anda menarik napas dan siap tergilas brutalnya para pengendara. Tidak percaya?

Sore hari beberapa waktu lalu, bersama teman kosku aku ke Tirto, rintik hujan tak seberapa deras mengiringi kami, gang Tirto makin tak bersahabat saja, sudah becek, beberapa kendaraan menyemut melelahkan mata. Meski begitu toh akhirnya kami sampai di Tirto. Baca lebih lanjut

Iklan

Kartini di Tengah Genggaman BlackBerry

Raden Ajeng Kartini menjadi tonggak sejarah penting kebangkitan perempuan –Jawa khususnya- untuk melawan budaya yang menjadi penghambat pergerakan perempuan. Egoisme budaya patriarkhi lah yang melahirkan stereotyping berkepanjangan terhadap para perempuan, tak ayal jika terdapat perempuan yang memilih berbeda dengan perempuan kebanyakan, dia kerap dianggap melawan kodrat.

Meski begitu, seiring perkembangan jaman, pergerakan perempuan toh mengalami progresitas yang cukup berarti, hal itu terjadi entah karena para perempuan ini memang terus berjuang tanpa henti atau karena tumbuh kembangnya kesadaran masyarakat akan kesetaraan, sehingga mereka memberi ruang yang cukup bagi perempuan agar tidak semata berkutat dalam ranah domestik.

So, tidak mengherankan jika banyak perempuan yang saat ini bekerja sebagaimana kerjaan yang selalu diidentikkan dengan para lekong. Sopir, Kondektur, Pilot dan Tukang Ojek adalah salah satu contoh kecil dari pekerjaan macho itu.

Dalam tataran yang lebih tinggi, yang menuntut intelektualitas dan kapabilitas sebagai sesama warga Negara, perempuan pada akhirnya dapat menikmati jabatan yang sebelumnya juga seolah-olah hanya menjadi ranah laki-laki, Bupati dan Presiden misalnya, meski baru satu kali Indonesia dipimpin Presiden Perempuan, tapi itu menjadi tonggak keberhasilan perjuangan perempuan  yang tidak bisa dihapus dari sejarah.

Dalam kancah politik pragmatis, sudah bukan hal asing perempuan dicalonkan dari Parpol yang menaunginya, proses inilah yang mengantarkan perempuan untuk bisa menjadi wakil rakyat atau anggota dewan. Meski kuota untuk mereka baru 30 persen, tapi hal ini cukup meyakinkan perempuan untuk terus melangkah dan bersaing dengan para kompetitornya yang sebagian besar adalah para kaum adam.

Baca lebih lanjut

Sahabat dalam Keranjang Sampah

Saya bahagia punya banyak teman, apalagi sahabat, yang idealnya selalu memberi semangat, support dan membantu kita tertawa jika airmata ini telah mencapai tetes akhirnya. Tetapi dalam beberapa waktu terakhir ini, saya mulai kehilangan beberapa sahabat yang sudah mengisi lembar-lembar penuh tawa yang dulu sempat dilalui bersama. Mereka pergi, satu-satu, tidak hanya secara fisik, kami terpisah jarak dan waktu,  di tengah geliat perkembangan teknologi seperti saat ini, jarak dan waktu memang tidak lagi menjadi masalah, tapi entahlah, saya merasa semakin jauh dan kian asing dengan beberapa sahabat saya yang sempat saya miliki.

Saya memang sedang bermasalah dengan salah satu orang yang saya anggap sahabat –karena saya tidak tahu apakah dia juga menganggap saya sahabatnya- dan saat ini, saya kembali bermasalah dengan sahabat saya yang lain. Saya jadi berpikir, apakah saya memang gudang masalah yang kerap menimbulkan orang lain tidak nyaman? Hingga timbul masalah?

Jawaban itu sedikit terbantah ketika saya ingat beberapa teman yang sering tiba-tiba menelpon, sms, bahkan langsung nyamperin saya ketika mereka ingin bercerita –apapun masalahnya- tanpa beban, bahkan tepat dua hari lalu, ketika saya hanya sedang berdua dengan teman yang baru saya kenal menonton infotaikment yang memberitakan kasus Krisdayanti, tiba-tiba teman saya langsung bercerita kalau kisah cintanya mirip sekali dengan KD, bahkan lebih memalukan karena dia benar-benar dilabrak isteri si lelaki yang sudah mengajaknya kencan, di depan banyak orang, isteri lelaki itu menjambak rambut teman saya dengan kasar –kalau dengan halus namanya membelai ya-, padahal teman saya ini tidak tahu kalau laki yang mengajaknya kencan selama hampir enam bulan, ternyata masih dalam proses cerai, bukan lagi lajang seperti yang dibilang lakinya ke dia. Baca lebih lanjut

Siapakah Dia Social Worker?

Bu, sms-in gw dunk teori yang menyebutkan jurnalis sebagai bagian dari social worker…

Jeblar, bagai ditampar Sundel Bolong pas aku baca penggalan sms di atas. Sms dari seorang teman yang ngotot banget pengen jadi Social Worker sedari belum lair. Hehe..

Well, tulisan ini mungkin tidak menarik, tapi ini benar-benar penting bagiku, sebab postingan ini sekaligus juga sebagai pemenuhan janjiku pada satu teman yang lain yang ada di USU sana, Erviana Filiang, thanks Sist, kupenuhi janjiku padamu.

Siapakah sebenarnya social worker? Aku sudah sering mendiskusikan ini, dengan setengah ngotot pada beberapa dosenku dulu, menurut pemahamanku, semua orang toh pada dasarnya bisa dibilang social worker, karena aku yakin semua pekerja tentu tidak hanya bekerja hanya untuk pribadi dia, tapi saling berkesinambungan menyelamatkan hidup orang lain, meski tidak secara langsung, dan atas dasar asumsi inilah aku mengkategorikan bahwa Social Worker tentu saja kemampuan yang tidak membutuhkan spesifikasi ilmu tertentu, sebab semua manusia toh makhluk sosial yang tidak mungkin asosial. Maka pekerjaan dia yang berdampak pada kehidupan sosial sebagian manusia yang lain tentu saja bisa dibilang sebagai pekerjaan sosial. Baca lebih lanjut

Really miSS u Mrs. Toxic..

Lagi-lagi aku harus ngobrolin tentang ML.

Huh, ML lagi ML lagi, ya sudahlah, kenyataannya eMeL bagi sebagian besar manusia adalah kebutuhan biologis yang memberi kenikmatan tiada tara, apalagi bagi mahasiswa, eMeL serupa ritual yang justru berdosa besar jika tak dilakukan. Whew, jangan ngeres dulu! ML di sini adalah akronim dari Makan Lalapan yang bagi sebagian besar warga kampus merupakan surga penyelamat mereka dari kanker ganas yang dapat melayangkan nyawa.

Hampir sepanjang jalan raya di Malang pun tak ubahnya kawasan Dago Bandung yang bertebaran warung-warung tenda, warung lalapan berjejer rapi, dengan gerobak penuh senyum harap-harap cemas, di antara sekian banyak warung lalapan itu, ada satu warung yang membuatku penasaran tak berkesudahan. Bermula dari cerita salah satu kawan, Henny yang selalu menceritakan penuh semangat 45 tentang warung lalapan langganannya, dia bilang jangan dulu mengaku penikmat sejati lalapan jika belum mampir ke Bu Racun, sambalnya ampun-ampun.

Baca lebih lanjut

Kedamaian Kamar Sebelah

Terimakasih kawan, perbincangan sekitar satu jam denganmu tadi pagi sungguh amat mencerahkan. Inilah makna perkawanan yang lebih indah dari sekadar ngakak bareng, inilah sesungguhnya makna berbagi yang sering kita agungkan, bahwa aku dan kamu, saling mengisi dan menemukan jawaban tanya dari jiwa kita masing-masing.

Dian, -bahkan aku belum tahu nama lengkapmu- adalah salah satu teman di kosan baru yang sudah dari September lalu aku tempati, tapi kedekatan dengan para penghuni kos ini baru berlangsung kira-kira sebulan ini. Jika selama ini kami hanya saling sapa dan berbincang seadanya, maka dalam sebulan ini hubungan sesama kami mulai lebih dari itu, bahkan dalam beberapa malam seminggu lebih, aku dan kawan-kawan baruku ini punya ritual baru, menonton film rame-rame di kamarku.

Dan pagi tadi, aku merasa benar-benar punya teman ketika tanpa sengaja ngobrol dengan Dian, meski mulanya dia hanya iseng menggoda agar aku tidak molor bangun, tapi akhirnya obrolan kami mulai serius, mengarah pada hal yang bagi sebagian besar orang –mungkin- sangat sensitip, yakni masalah keyakinan. Dian yang kebetulan minggu kemarin baru merayakan Paskah ini membuatku tersadarkan, bahwa keimananku perlu diupgrade kembali. Baca lebih lanjut