Mereka, Konon Kunci Surgamu

Ada yang udah baca Mbak Vanka? Kalo belum, bolehlah dibaca dulu J

Well, di antara banyak laki-laki yang kehilangan kepergian Mbak Vanka, saya hanya pernah bertemu dengan lima orang saja dari mereka. Inilah mereka: Baca lebih lanjut

Iklan

Sejauh Apa Mengenali Diri Sendiri?

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti Capacity Building untuk Pendamping Korban Kekerasan yang diadakan oleh Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jatim, sudah ada yang tau apa itu PPT? Sila cek ke Pak De gugel. Hehe

 Ada satu sessie dimana saya akhirnya maju menjadi kelinci percobaan dalam acara tersebut, narasumber yang merupakan Doktor Psikologi Klinis, Bu Elly mempraktekkan salah satu metode scanning untuk melihat daya tahan Klien ketika menghadapi masalahnya. Metodenya terlihat sangat mudah, karena saya hanya berbaring di lantai dengan posisi telentang, sementara seorang teman memegang kedua kaki saya, dan bu Elly hanya menggoyang-goyangkan badan saya. Lalu beliau bilang: dia psikosomatis! Bagian tubuh yang paling sering sakit adalah perut, bener kan? Kata beliau. Saya nyengir.

Model seperti ini, ketahanannya terhadap masalah adalah pengalihan, lanjut beliau. Saat dia bermasalah, dia akan menyelesaikannya dengan mengalihkan ke kegiatan lain, bisa bepergian, bisa apapun, yang jelas mengumpulkan lagi energi dan amunisi untuk menghadapi masalahnya. Baca lebih lanjut

Hadiah yang (tidak) Diinginkan

Ada yang mencekat. Air mata terendap. Dalam perjalanan seminggu ini. 

Berawal dari sebuah ketidaksengajaan yang mempertemukanku dengan Adelia, gadis 11 tahun yang mengidap hydrosephalus. Sebuah penyakit dengan batok kepala membesar karena kelebihan cairan di kepala, membuat gadis ini botak lebar. Dari raut muka, tampak sedikit bopeng, mata tertarik ke atas, air liur sesekali menetes, disertai ingus dan kotoran mata berwarna kekuningan yang memperlengkap rasa jijik setiap mata.

Gadis ini menabrakku, tanpa merasa bersalah karena dia hanya tertawa-tawa ketika aku setengah kaget memarahinya, hingga marahku pun berganti rasa. Tetap dengan tawanya, Lia justru mengarahkan telunjuknya pada balon-balon yang menggelantung di sebuah warung makan cepat saji.

“Mbak, iku jenenge balon..,” sambil terkekeh dan terus mengulang kalimat yang sama.

Berniat membelikan Lia balon, aku dan Desy, temanku pun masuk ke warung itu. Hingga beberapa menit, pramusaji tidak juga melayani, tampak jelas jika mereka risih dengan keberadaan Lia di antara kami.

Baca lebih lanjut

Sebelum Mbak Vanka VCT

Masih dari bumi Surabaya, saya ingin mengabadikan persahabatan saya dengan seorang Purel cantik nan baik hati dan tidak pernah segan membagi kisah hidupnya. Suatu sore ketika kami berdua di kamar –saat kami masih satu kosan- saya menanyainya santai. Mbak, boleh nggak kalo aku tulis tentang kamu di blog? Aku hobi nulis dan beberapa kali bikin cerpen, aku tertarik nulis tentang kamu. Kata saya. Dia menjawab tak kalah santai, tulis aja Mbak. Kisahku lo tidak pernah berakhir dikisahkan, terlalu menarik. Jawabnya diakhiri tawa alay ala anak kosan. Loh? Hehe Baca lebih lanjut