Ada Tarzan di Surabaya

Kamis, 10 September kemarin, saya melakukan penjangkauan kasus yang sudah cukup lama saya  dapat dari teman Satgas Dinsos. Hanya karena belum juga ada waktu yang pas, baru kamis kemarin saya dengan teman satgas, Mas Made dan Mbak Nina dari Yayasan Hotline Surabaya berangkat bersama menuju tekape.

Tekape ini tidak jauh sebenarnya, hanya kondisi klien yang kami temui ini seolah-olah mereka berada di belantara dan tak kenal peradaban manusia.
Ketika kami datang dan mengucap salam, dari dalam rumah terlihat seorang anak perempuan yang hanya mengintip kami beberapa kali. Tanpa menjawab atau mempersilakan kami segera masuk. Baru beberapa menit, muncul ibu yang menyalami kami dan mempersilakan masuk. Lalu kami bertiga, berempat dengan empunya rumah, duduk bersama setengah melingkar. Baca lebih lanjut

Iklan

Nostalgia Pahit Itu Lebih Manis

Seumur-umur pendampingan kasus, baru ketika mendampingi bu mimiklah saya sangat emosionil bercucur airmata membuka pengalaman hidup saya, meski belum sepenuhnya.

Bu Mimik, single parent dengan tiga anak, menempati rumah kontrakan seadanya, banjir tiap kali hujan, mengeluhkan pengajuan rusun dari bertaun lalu yang tidak juga membuahkan hasil. Juga mengeluhkan anak pertamanya, Derry yang menganggur, kesulitan mencari kerja berbekal ijasah SD. Bukan hanya itu, masih ada anak keduanya, Dewi yang mengidap lumpuh, tak pernah bisa dia tinggal karena kebergantungannya pada bantuan tangan ibu atau saudaranya. Setengah menangis, Bu Mimik menceritakan perjalanan anak trakhirnya, Dio yang harus menempuh perjalanan jauh setiap hari menuju sekolah dengan bekal seadanya. Bu Mimik sendiri menganggur karena terakhir bekerja jadi pembantu paruh waktu stelah majikannya mendapat pembantu baru. Baca lebih lanjut