Anak-anak eks Gafatar, Cerdas dan Pintar

Baru tiga hari saya bergumul dengan pengungsi eks gafatar di transito. Selama tiga hari itu pula saya saksikan banyak di antara mereka yg baru datang, juga mereka yg langsung dijemput pulang ke kediaman asal.

Nyaris tak ada yang aneh sih dengan orang-orang ini, secara penampilan mereka ternyata biasa saja. Karena dalam bayangan saya barangkali pengikut gafatar juga punya tampilan yang berbeda dari yang lain. Termasuk juga anak-anaknya.
Justru yang berbeda itu dari keberanian anak-anak ini unjuk gigi. Ketika kakak-kakak pendamping meminta mereka memimpin teman-temannya untuk merapikan barisan misalnya, hampir semua mengacungkan jari bersedia jadi pemimpin di depan. Pemandangan yang cukup membuat heran sih menurut saya yang kadang kesulitan menunjuk anak untuk mau maju ke depan. Itu gambaran untuk anak-anak kecil seusia SD.

Untuk yang kisaran SMP SMA saya dan teman-teman agak kesulitan menkordinir mereka karena belum belum mereka sudah memberondong kami dengan banyak pertanyaan. Memang kami mau diapakan? Memang mau dikasih apa? Ngapain sih dikumpulin diajak nyanyi-nyanyi kayak anak kecil? Itu reaksi penolakan mereka. Padahal kalo mereka tau ya, kalo sangat berguna loh kita kembali ke masa-masa kecil yang sudah terlewat, dan sebenarnya cara itulah yang lebih bisa kami gunakan untuk membangun kdekatan dengan mereka sebelum kami masuk ke ‘intervensi’.

Betewe, akhirnya hanya beberapa remaja saja yang bersedia mengajari kami bberapa permainan kelompok ala mereka. Dan berlangsung cukup seru ternyata, hanya karena panas terik mentari, akhirnya kami membubarkan diri.
Dari sekian remaja, saya mengingat satu wajah paling ‘ngeyel’ dari mereka, yang kemudian saya dekati ke barak dia tinggal. Saya temukan dia dan kami lalu ngobrol. Kebetulan juga lengkap dengan ayah ibu dan saudaranya.

Ira, sebut saja demikian, menceritakan jika dia baru dua minggu tinggal di kubu raya, kalbar. Dalam masa sebentar itu, dia sudah belajar banyak hal. Dia belajar fotografi, belajar bercocok tanam, budidaya lele dan belajar bersaudara dengan banyak keluarga yang sama-sama bermukim di sana. Enak di sana itu mbak, apa-apa ditanggung bersama. Kita itu sudah jadi keluarga besar. Kalo ada yang satu yang sakit, semua membantu. Ada satu yang gak punya duit, semua teratasi. Jadi kita hidup normal tanpa beban. Cerita Ira. Cara bertutur Ira menarik hati saya, dia ekspresif, sepertinya dia juga enerjik.
Ketika saya bertanya dimana dia bersekolah, saya juga terkaget-kaget. Aku sekolah berbasis rumah, home schooling. Bundaku yang ngajar. Bukan dari luar. Enak sekolah kayak gitu. Kalo sekolah formal itu justru jadi beban. Kita dikasih PR susah susah, belum tentu kita praktekkan di kehidupan. Aku sekolahnya langsung praktek, gimana cara menanam tomat yang bagus, gimana mengolah hasil panen. Aku lebih suka begitu. Jadi kita belajarnya nyata.
Dalam ukuran saya sih, ini anak pinter banget. Saya mengangguk terkagum-kagum. Jadi enak banget dong ya di sana, tanya saya penuh kebodohan.

Enak banget mbak, harusnya mbak ke sana, lihat langsung, apa anehnya kami ini. Kalo kami menyimpang harusnya dicaritau dulu menyimpangnya bagaimana. Kami sudah enak-enak di sana kok akirnya dibakar. Sekarang malah jadi pengungsi kayak gini, kayak orang apa aja kami ini. Kan jadi kayak gelandangan. Padahal kami punya mobil di sana. Memalukan. Pemerintah kok maunya cari masalah sih mbak, kayak gini kan jadi makin susah, kami mau dipulangkan kemana, iya kalo diterima, kalo enggak? Padahal kami sudah hidup layak di sana, tinggal bentar lagi panen hasil tanaman. Seharusnya pemerintah melindungi kami kan ya?

Itu obrolan saya dengan Ira, remaja 17 tahun, yang mengaku baru 2 minggu di kubu raya. Meskipun kubu raya aman, tidak terjadi pembakaran, tetapi keluarga Ira terdaftar sebagai eks gafatar yang harus segera pergi dari kalbar. Jika memaksa tetap tinggal, maka mereka akan hidup dengan ancaman yang lebih membahayakan.
Bisakah anda menjawab semua pertanyaan Ira?

image

ini hasil potret temen pas saya ngobrol sm Ira. Entahlah itu gaya apa.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s