Beritakan Penjarahan, Bukan Aliran Sesatnya.

Sebenarnya sebelum menulis tentang Ira, remaja eks gafatar, saya lebih dulu ngobrol dengan bapak ibu eks gafatar yang juga sangat menarik. Dari mereka saya tau bahwa tujuan mereka berangkat ke kalimantan adalah dengan misi swasembada pangan. Mereka mengatakan sudah tidak mungkin bercocok tanam di tanah jawa karena semakin tidak punya lahan. Tanah jawa juga sudah penuh sesak. Oleh karenanya dengan senang hati mereka berangkat transmigrasi, karena ada jaminan kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada yang menculik kami, karena korban penculikan itu kesannya menyakitkan. Padahal kami berangkat dengan sadar, menjual rumah kami di jawa untuk berangkat ke sana, dan menetap di sana karena kehidupan yang lebih baik. Sebelum akhirnya jadi porak poranda karena media massa yang memberitakan kami ini aliran menyesatkan. Tutur bu Imah, sebut saja demikian. Perempuan yang tengah mengandung anak ke tujuh, eks gafatar yang berasal dari surabaya.

Kami mengolah lahan sekitar lima hektar bersama-sama, itu tanah gambut yang susah menghasilkan tanaman, tapi kami mampu mengolah tanah gambut itu jadi lahan subur, bahkan kami akan panen. Untuk hasil panennya saja, saya perkirakan kerugian kami milyaran, apalagi aset kami yang lain? Ada rumah, mobil, hewan ternak, dan banyak lagi milik kami yang tertinggal dan hancur. Itu apa bukan penjarahan? Makanya saya minta tolong media agar lebih menyorot hasil pertanian kami dan semua aset yang terpaksa kami tinggalkan. Bagaimana kondisinya sekarang? Kami yang menanam, mengolah dari awal, tapi siapa yang memanen hasilnya? Apa salah kalo saya bilang ini sebenarnya kasus penjarahan? Kami didengang dengungkan sebagai aliran sesat, padahal di sana kehidupan kami normal. Saling membantu dan toleransi tetap dikedepankan. Kami juga merayakan natal dengan penduduk sekitar, kami menghormati agama dan keyakinan masing-masing. Sekarang saya tidak tau harus pulang kemana karena keluarga saya juga ketakutan menerima kami. Saya juga tidak tau akan kerja apa di sini. Lanjut bu Imah.

Saya menyimak juga ketika salah satu bapak-bapak lantang bertanya pada saya, Mbak! Apa profesi paling kejam di dunia ini? Saya spontan. Wartawan? Nah, itu Mbaknya tau. Jawab bapak itu. Kehidupan kami sangat normal Mbak, kami diterima masyarakat sana dari awal kami datang. Kalo kami sesat kan dari awal pasti sudah ada penolakan. Gara-gara berita penculikan, orang hilang kena aliran sesat itu sekarang jadi seperti ini. Urai bapak itu. Saya salah tingkah mengingat kalo saudara saya juga wartawan, sebagian besar teman juga adalah kuli tinta, bahkan pernah stengah gila naksir salah satu dari mereka. Mereka manis-manis, ga ada jahat-jahatnya, kok bisa bapak itu beranggapan demikian? Saya tersenyum kecut, yang saya sendiri susah menafsirkan.

Saya pernah belajar teori konflik, dan secara teori, konflik seputar keyakinan atau hal-hal mendasar memang konflik laten dan selalu reaktif. Orang cepat sekali melakukan spontanitas, yang ujung ujungnya merugikan minoritas. Pembakaran, pengusiran, penolakan dan labeling ke mereka menyisakan konflik yang lebih panjang. 

Dalam gambaran otak bodoh saya, beterbangan segala macam hak asasi warga yang seharusnya melekat dan dilindungi oleh negara. Saya membayangkan, apakah tidak bisa minoritas dijamin keamanannya oleh aparat? Jikapun mereka dianggap sesat, maka tidak bisakah diupayakan penyadaran dengan cara-cara humanis. Bukan dengan membakar, menjarah, atau dengan segala bentuk ancaman?

Banyak hal yang bisa dipelajari dari eks gafatar, seperti pendapat teman yang berkomentar di fesbuk saya. Eks gafatar punya sistem pendidikan, sistem sosial ekonomi yang layak dikembangkan. Bukan melulu sesatnya yang digembar gemborkan.

Sore ini Transito makin sepi, karena mereka sudah banyak dipulangkan. Saya dengar salah satu tivi mewawancarai eks gafatar yang menceritakan hal sama yang saya tuliskan. Bahwa mereka bercocok tanam untuk swasembada pangan. Bahwa gafatar sudah bubar, dan mereka hidup normal berkecukupan tinggal menunggu hasil panen, sebelum akhirnya dibakar dan jadi bercecaran.

Konflik seperti ini entah akan sampai kapan.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s