Jadilah Miskin yg Bermartabat

Jauh dari hiruk pikuk pemberitaan media mengenai kejahatan seksual yang merajalela, termasuk di surabaya, saya berkutat dengan tugas dari Dinas Sosial untuk melakukan pendekatan persuasif ke warga Setren Kali Jagir yg sebentar lagi akan direlokasi ke rumah susun di Romokalisari. Dalam menjalankan misi tersebutlah saya bertemu dengan beberapa orang yang sangat meracuni saya untuk mengabadikan pertemuan itu lewat tulisan.

Saya bertemu dengan Bu Sarinten, ibu berusia kurang lebih 50 th ini perempuan hebat yg menghidupi anak-anaknya dengan berjualan keliling kue-kue yg dia bikin sendiri di rumah sangat sederhana. Bukan hanya itu kehebatannya, Bu Sarinten mampu melawan stroke yang sempat melumpuhkannya. Semangat bekerja untuk menghidupi anak-anak membuat Bu Sarinten mampu bangkit. Sebagian tubuhnya yang mati rasa dan kaku, perlahan mampu dia gerakkan kembali dan total dia bisa beraktifitas seperti semula.

Meski beberapa kali masih sakit, Bu Sarinten bilang selalu berusaha membahagiakan diri, berusaha tertawa ceria agar sakitnya menjauh pergi. Luar biasa. Di tengah kondisi yg begitu bikin nyeri, rumah sangat seadanya di bantaran kali, tanpa suami, anak-anak yg tumbuh dengan biaya hidup cukup tinggi, semuanya makan, bersekolah dengan biaya tak seberapa hasil jualan kue keliling yang dilakoni Bu Sarinten. Hidup itu harus dibikin bahagia, banyak senyum, menyenangkan orang lain, menghibur diri sendiri. Kalo nggak dibikin seneng begitu ya saya ndak sembuh sembuh Mbak. Begitu kata Bu Sarinten yg mengiang di kepala saya.

Selain Bu Sarinten, bertemu juga saya dengan sosok lain yang sangat mengagumkan. Beliau adalah Pak Ji, nama panjangnya saya lupa. Tinggal berdekatan dengan Bu Sarinten, kondisi tempat tinggal Pak Ji tidak jauh berbeda dengan Bu Sarinten, hanya pembedanya anak-anak Pak Ji semua berkuliah di kampus negeri Surabaya yang tidak diragukan lagi kualitasnya.

Anak pertama Pak Ji saat ini bekerja di PPATK, lulusan S1 Unair, S2 UGM. Anak kedua saat ini bekerja di BTPN, bahasa inggrisnya casciscus, anak ketiga di Jakarta -saya lupa dia sudah kerja dimana- dan anak terakhir masih kuliah di kampus yg sama dengan kakak kakaknya.

Dengan penuh bangga Pak Ji  menceritakan semua anaknya yang hebat-hebat, semuanya pintar dan mengerti kondisi orangtuanya. Hingga tak ada yg neko-neko, semuanya sekolah, kuliah, bekerja penuh dedikasi. Semua anaknya paham bagaimana perjuangan orangtuanya yang bekerja keras, semua pekerjaan dijalani, mulai berjualan, jadi pesuruh di pabrik, jadi kuli bangunan, apa saja yang halal dan menghasilkan duit, Pak Ji tidak pernah berhenti.

Untuk membuktikan cerita, Pak Ji menunjukkan jari tangannya yang cacat, ini kena mesin pabrik Mbak. Katanya sambil terkekeh.

Banyak lagi pembicaraan dengan Pak Ji, suaranya lantang, kesannya agak sombong membanggakan keberhasilannya mengantar anak-anaknya menggapai kehidupan yg lebih baik darinya.

Memang harus bangga sih ya kalo hidup ini gak cuman mengeluh menyalahkan nasib. Memang harus sombong juga kalo miskin dan mampu mengubah nasib. Tidak terus-terus mengkambinghitamkan kemiskinan sebagai faktor semua kebiadaban. Saya miskin, masih belum banyak mengubah nasib juga sih. Hehe
Saya sedih gitu kalo kemiskinan selalu dijadikan faktor banyak masalah yang terjadi. Ayo yang merasa miskin juga, Jadi Miskin yang Bermartabat dong ding dong.

image

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s