Merdekakan Perasaanmu!

Pernah tidak ada yang merasa terganggu, dalam artian stress, bingung tidak tahu harus menjelaskan seperti apa ketika ada orang yang mmberi penilaian buruk terhadap sikap atau perlakuan kita padahal kita tidak bermaksud seperti yang dia nilai itu? Jika tidak ada, maka sayalah satu-satunya orang yang sedang stress memikirkan itu.

Saya agak sedih mndapat penilaian dari orang yang bahkan mengenal saya saja tidak, tapi sudah ‘ngompori’ orang lain untuk jauh-jauh dan berhati-hati dengan saya, tentu saja dengan pertimbangan yang tidak semuanya salah. Saya egois, saya arogan, saya dominan, pengadu domba, pemisah pihak-pihak. Banyak sekali, dan tidak mengenakkan.
Semua penilaian itu mungkin benar, karena saya tidak bisa membatasi pikiran orang lain terhadap apa yang saya lakukan. Hanya yang saya sesalkan, saya bukan anti kritik. Jika tidak suka dengan saya, saya akan lebih menghormati kalo penilaian hal buruk dari saya itu disampaikan secara terbuka. Didiskusikan bagaimana baiknya. Karena percayalah, kalaupun seluruh penilaian buruk tentang saya itu benar, yang lebih sakit dari siapapun jelas itu saya. Karena betapa menderitanya dengan kompleksitas seburuk itu, maka manusia seperti apakah saya? 

Saya selalu ingin memperbaiki diri, terutama penguasaan emosi saya. Saya belajar untuk tidak selalu memandang semuanya dari perspektif saya sendiri, saya selalu butuh teman untuk brdiskusi, hal sekecil apapun. Saya sering terbiasa menganggap semua orang sama dengan saya, terbuka terhadap kritik, terbiasa apa adanya ketika bicara, lupa memikirkan perasaan orang lain. Sebab saya sudah sangat terbiasa pula mendapat perlakuan seperti itu, dikritik terbuka, kadang setengah dipermalukan, tapi bagaimanapun, mental saya terasah dengan cara seperti itu. Tapi, lagi-lagi, belum tentu orang lain merasa begitu.

Jadilah saya banyak trmenung, bertanya-tanya sendiri kenapa ya ada orang yang segitu tidak sukanya sama saya? Padahal bergesekan langsung dengan saya saja dia tidak pernah. Kok bisa? Lalu bagaimana kalau dia meracuni yang lain, dan yang lain menelan mentah-mentah informasi itu, lalu semua menyingkir dari saya satu persatu? Kenapa juga ada yg berprasangka sedemikian rupa dengan kata-kata saya, seolah-olah saya ini begitu kejam?

Apakah saya perlu menjelaskan pada orang-orang itu kalau saya ini tidak pernah bermaksud menyakiti orang lain? Saya ceplas ceplos karena saya tidak bisa basa-basi? Apa perlu juga saya jelaskan siapa diri saya, dan apa yang melatarbelakangi karakter saya terbentuk seperti sekarang? Saya tidak bisa lembut, sekalipun dengan suami saya. Dan itu menyiksa saya. Saya juga ingin mengubah diri, dan saya akan sangat berterimakasih jika anda tergerak menolong saya. Tidak dengan membicarakan di belakang, lalu menyebar, meracuni orang-orang agar tidak pernah berurusan dengan saya.

Tapi ternyata semua itu memang tidak perlu, karena sebanyak apapun yang bisa saya jelaskan, itu tidak akan berguna untuk orang yang sudah tidak menyukai saya. Begitupun, saya tidak perlu membuat orang-orang agar menyukai saya dengan cara yang saya buat-buat. Saya cukup jadi diri sendiri, mengedapankan tanggungjawab dan sudahlah, mana ada sih orang yang semuanya akan menyukaimu? Saya memang harus mengubah tabiat buruk, tapi tidak dengan merasa terpuruk dan hanya fokus pada mereka yang tidak menyukai saya. Merdekaaa

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s