Tak Ada Ibu yang Tak Hebat, Begitu Juga Mak’e :D

Tulisan ini saya dedikasikan untuk perempuan yang kini mulai merenta, yang akhir-akhir ini seringkali saya rindu, telah membesarkan dan menghidupi saya bersama tujuh saudara saya yang lain. Saya tidak tahu apakah ukuran bakti seorang anak terhadap ibunya? Semua anak toh nantinya jadi orangtua anak-anaknya, tapi saya hanya takut tidak bisa menjadi orangtua sehebat emak saya. Inilah yang bisa saya tuliskan untuk perempuan sakti perkasa yang dengan seluruh nafasnya mendoakan saya, mengajarkan kami berbagai keajaiban dengan cara sangat sederhana.

Ya, Mak’ e, perempuan sederhana, perempuan kampung, sekolah hanya sampai Madrasah, dan sudah menikah sedari usia belasan. Menjadi saudara tertua dari tiga saudaranya yang lain membuat Mak’ e biasa mengalah, berbagi sebisanya dengan adik-adiknya karena himpitan ekonomi orangtua. Baca lebih lanjut

Iklan

Siapa Berebut Shiny?

 

Mbak, apa ada semacam dana BOS gitu untuk anak berkebutuhan khusus seperti anak saya? Anak saya Delay Motorik, kemarin saya sekolahkan di yayasan yang cukup mahal, tapi sekarang saya tidak ada biaya sebanyak itu untuk tetap menyekolahkan dia di sana.

Begitulah awal perbincangan yang kemudian menjadi cerita panjang antara saya dengan bu Rianny, anggap saja namanya begitu. Perempuan berusia 37 tahun ini single parent, bercerai sudah sekitar tujuh tahun lalu dari suaminya. Alasan perceraian karena suami tidak pernah menafkahinya, sementara yang dia tahu suaminya berasal dari keluarga yang cukup berada.

Usut punya usut ternyata suami justru menafkahi ibunya, alias mertua bu Rianny. Gaji yang diperoleh suami bu Rianny, semua diserahkan pada ibunya, sementara bu Rianny diam patuh dengan tetap tinggal di rumah mertuanya, dia bertahan, menunggu mertua dan suaminya sadar jika perlakuan yang diterimanya jelas tidak benar.

Suami tak kunjung berubah, mertua tidak juga mengalah, dengan proses yang berdarah-darah, hehe.. resmilah bu Rianny berpisah. Baca lebih lanjut

Hidup Itu Sesederhana Melempar Bantal

Saya masih belum beranjak dari Surabaya 😀 kali ini cerita yang sudah lama saya simpan, dan baru sempat saya tuangkan. Tsaelah :p

Siang itu saya dikejutkan sms yang meminta saya untuk mendampingi siswi yang mengalami KTD alias Kehamilan yang Tidak Diinginkan. Terus terang ini pengalaman pertama saya untuk mendampingi siswi hamil. Saya dag dig dug memikirkan apa yang bisa saya lakukan setelah saya mengiyakan sms yang meminta saya datang di sebuah perumahan yang menjadi rumah sementara untuk mereka, anak-anak yang sedang bermasalah.

Berangkatlah saya menuju perumahan elit yang menjadi shelter remaja tersebut, sebut saja Unge –haha, opo-opoan se iki- sesampai di sana saya belum mendapati siapapun selain penunggu rumah yang menyambut saya dengan senyuman nan mempesona 😀

Saya dan Mbak Ketty, penunggu rumah yang menyambut saya berbincang hangat tentang apa yang akan kami lakukan saat Unge datang nanti, karena menurut kabar Unge akan diantar malam-malam agar tidak terlihat tetangga oh tetangga kiri kanan, maka kami pun mempersiapkan diri menyambut Unge dan keluarga.

Malam hadir, Unge pun ngacir. Loh?

Unge datang, hanya berdua dengan mamanya yang cantik. Saya dan Mbak Ketty saling bertukar pandang penuh tanya ini mana yang hamil? Kira-kira begitulah arti kontak mata kami, sebab dua perempuan cantik yang mendatangi rumah ini terlihat cukup langsing, ukuran tubuh mereka jauh dari kesan hamil. Baca lebih lanjut

Jual Aku Kau Kutraktir

Beberapa waktu lalu saya mendapati berita di media yang mengabarkan akan ditutupnya kawasan dolly, kompleks pelacuran terbesar yang berlokasi di sini, surabaya 😀

Selama di sini, saya baru dua kali main ke kawasan itu. Saking penasaran karena sejak kecil sudah begitu familiar dengan namanya. Ternyata dolly hanya sebuah gang, dengan rumah bordir bertumpukan. Di situlah transaksi seksual banyak dilakukan. Baca lebih lanjut

Mereka Berjamur, Bagai Tumpukan Sendal…

maaph telat posting..

Welcome, inilah surabaya. Kota besar yang saya tinggali sekarang. Kota metropolis yang macetnya juga luar biasa, meski tak seluar binasa Jakarta. Tidak terasa hampir setahun saya berada di kota ini, kota ramai yang tak pernah mati. Selalu ada kehidupan dalam setiap sudutnya.

Saat ini saya berada di sebuah warung kopi lesehan, dengan fasilitas free wifi, sedikit remang dan cukup ramai. Bukan karena keremangannya yang membuat saya enggan pulang, tapi saya sedang terpana menyaksikan tumpukan lesbian yang nyata-nyata bercinta di hadapan saya. Wuih, sangat menggoda :p

Baca lebih lanjut

Melarung Hati

Kita pernah begitu dekat, tanpa sekat. Di bawah gemintang dan purnama, kita bicara dengan lagu. Irama gitar dan lantunan suaramu, memperindah malam itu. Aku bersandar pada salah satu bahumu, menghirup dan melepas dengan pelan, larut dalam damaimu.

Angin berhembus, api unggun pun membekas abu. Kita berbaring, menatap bintang dalam diam. Suara jangkrik menggantikan lagumu. Kita bersitatap, mulut tetap menutup rapat. Dingin menjalar bersama malam yang kian merayap.

Kau mulai membuka mulut, bercerita banyak hal, yang masih menyisakan tawa hingga kini. Kita pun berbincang, tak peduli suara dengkur teman-teman yang bersahutan. Malam itu, tak kita lewatkan dengan memejamkan mata semenitpun.. Baca lebih lanjut