Tak Ada Ibu yang Tak Hebat, Begitu Juga Mak’e :D

Tulisan ini saya dedikasikan untuk perempuan yang kini mulai merenta, yang akhir-akhir ini seringkali saya rindu, telah membesarkan dan menghidupi saya bersama tujuh saudara saya yang lain. Saya tidak tahu apakah ukuran bakti seorang anak terhadap ibunya? Semua anak toh nantinya jadi orangtua anak-anaknya, tapi saya hanya takut tidak bisa menjadi orangtua sehebat emak saya. Inilah yang bisa saya tuliskan untuk perempuan sakti perkasa yang dengan seluruh nafasnya mendoakan saya, mengajarkan kami berbagai keajaiban dengan cara sangat sederhana.

Ya, Mak’ e, perempuan sederhana, perempuan kampung, sekolah hanya sampai Madrasah, dan sudah menikah sedari usia belasan. Menjadi saudara tertua dari tiga saudaranya yang lain membuat Mak’ e biasa mengalah, berbagi sebisanya dengan adik-adiknya karena himpitan ekonomi orangtua. Baca lebih lanjut

Iklan

Menikah Itu Bukan Ending…

Sama halnya dengan kematian, yang masih menghubungkan kita dengan dunia lain, menikah juga bukanlah sebuah akhir, justru menikah adalah pembuka kehidupan selanjutnya.

Apapun itu, saya bersyukur akhirnya bisa menikah dengan satu-satunya laki-laki yang memacari saya sejak kurang lebih dua tahun lalu, pacaran putus nyambung entah berapa kali, dengan cara balikan yang amat sangat norak, dramatis yang bikin mual, pernah saling menyakiti, namun tidak juga bisa saling meninggalkan, hingga kami tidak lagi punya pilihan selain menikah, dan tenggat waktu yang saya tentukan adalah 4 Januari 2014, hanya ingin memudahkan ingatan saja empat satu satu empat. Baca lebih lanjut

Siapa Berebut Shiny?

 

Mbak, apa ada semacam dana BOS gitu untuk anak berkebutuhan khusus seperti anak saya? Anak saya Delay Motorik, kemarin saya sekolahkan di yayasan yang cukup mahal, tapi sekarang saya tidak ada biaya sebanyak itu untuk tetap menyekolahkan dia di sana.

Begitulah awal perbincangan yang kemudian menjadi cerita panjang antara saya dengan bu Rianny, anggap saja namanya begitu. Perempuan berusia 37 tahun ini single parent, bercerai sudah sekitar tujuh tahun lalu dari suaminya. Alasan perceraian karena suami tidak pernah menafkahinya, sementara yang dia tahu suaminya berasal dari keluarga yang cukup berada.

Usut punya usut ternyata suami justru menafkahi ibunya, alias mertua bu Rianny. Gaji yang diperoleh suami bu Rianny, semua diserahkan pada ibunya, sementara bu Rianny diam patuh dengan tetap tinggal di rumah mertuanya, dia bertahan, menunggu mertua dan suaminya sadar jika perlakuan yang diterimanya jelas tidak benar.

Suami tak kunjung berubah, mertua tidak juga mengalah, dengan proses yang berdarah-darah, hehe.. resmilah bu Rianny berpisah. Baca lebih lanjut

Hidup Itu Sesederhana Melempar Bantal

Saya masih belum beranjak dari Surabaya 😀 kali ini cerita yang sudah lama saya simpan, dan baru sempat saya tuangkan. Tsaelah :p

Siang itu saya dikejutkan sms yang meminta saya untuk mendampingi siswi yang mengalami KTD alias Kehamilan yang Tidak Diinginkan. Terus terang ini pengalaman pertama saya untuk mendampingi siswi hamil. Saya dag dig dug memikirkan apa yang bisa saya lakukan setelah saya mengiyakan sms yang meminta saya datang di sebuah perumahan yang menjadi rumah sementara untuk mereka, anak-anak yang sedang bermasalah.

Berangkatlah saya menuju perumahan elit yang menjadi shelter remaja tersebut, sebut saja Unge –haha, opo-opoan se iki- sesampai di sana saya belum mendapati siapapun selain penunggu rumah yang menyambut saya dengan senyuman nan mempesona 😀

Saya dan Mbak Ketty, penunggu rumah yang menyambut saya berbincang hangat tentang apa yang akan kami lakukan saat Unge datang nanti, karena menurut kabar Unge akan diantar malam-malam agar tidak terlihat tetangga oh tetangga kiri kanan, maka kami pun mempersiapkan diri menyambut Unge dan keluarga.

Malam hadir, Unge pun ngacir. Loh?

Unge datang, hanya berdua dengan mamanya yang cantik. Saya dan Mbak Ketty saling bertukar pandang penuh tanya ini mana yang hamil? Kira-kira begitulah arti kontak mata kami, sebab dua perempuan cantik yang mendatangi rumah ini terlihat cukup langsing, ukuran tubuh mereka jauh dari kesan hamil. Baca lebih lanjut

Melarung Hati

Kita pernah begitu dekat, tanpa sekat. Di bawah gemintang dan purnama, kita bicara dengan lagu. Irama gitar dan lantunan suaramu, memperindah malam itu. Aku bersandar pada salah satu bahumu, menghirup dan melepas dengan pelan, larut dalam damaimu.

Angin berhembus, api unggun pun membekas abu. Kita berbaring, menatap bintang dalam diam. Suara jangkrik menggantikan lagumu. Kita bersitatap, mulut tetap menutup rapat. Dingin menjalar bersama malam yang kian merayap.

Kau mulai membuka mulut, bercerita banyak hal, yang masih menyisakan tawa hingga kini. Kita pun berbincang, tak peduli suara dengkur teman-teman yang bersahutan. Malam itu, tak kita lewatkan dengan memejamkan mata semenitpun.. Baca lebih lanjut

Sembarang Aja Deh…

Asli kangen banget ngeblog. Gile..
Adaptasi di tempat baru dengan pekerjaan baru yang whuss, ampun. Cukup bikin stress Mak..
Banyak moment yang luput aku posting. Mulai dari akhirnya dengan berat hati aku mundur dari MCW. Sungguh keputusan yang berat karena tempat inilah yang memberi keleluasaan untuk segala kekurangajaran, MCW pula yang menjadi saksi seluruh kemaksiatan yang aku perbuat. Haha..
Ya sudah, episode MCW memang harus berakhir. Meski tanpa airmata berderai, meski dengan langkah yang samasekali tak gontai. Hati ini menumpuk sejuta pilu untuk semua yang kini menjelma putih, biru, merah dan abu-abu bernama kenangan. Miss u all my enemy.. Baca lebih lanjut

Kartini di Tengah Genggaman BlackBerry

Raden Ajeng Kartini menjadi tonggak sejarah penting kebangkitan perempuan –Jawa khususnya- untuk melawan budaya yang menjadi penghambat pergerakan perempuan. Egoisme budaya patriarkhi lah yang melahirkan stereotyping berkepanjangan terhadap para perempuan, tak ayal jika terdapat perempuan yang memilih berbeda dengan perempuan kebanyakan, dia kerap dianggap melawan kodrat.

Meski begitu, seiring perkembangan jaman, pergerakan perempuan toh mengalami progresitas yang cukup berarti, hal itu terjadi entah karena para perempuan ini memang terus berjuang tanpa henti atau karena tumbuh kembangnya kesadaran masyarakat akan kesetaraan, sehingga mereka memberi ruang yang cukup bagi perempuan agar tidak semata berkutat dalam ranah domestik.

So, tidak mengherankan jika banyak perempuan yang saat ini bekerja sebagaimana kerjaan yang selalu diidentikkan dengan para lekong. Sopir, Kondektur, Pilot dan Tukang Ojek adalah salah satu contoh kecil dari pekerjaan macho itu.

Dalam tataran yang lebih tinggi, yang menuntut intelektualitas dan kapabilitas sebagai sesama warga Negara, perempuan pada akhirnya dapat menikmati jabatan yang sebelumnya juga seolah-olah hanya menjadi ranah laki-laki, Bupati dan Presiden misalnya, meski baru satu kali Indonesia dipimpin Presiden Perempuan, tapi itu menjadi tonggak keberhasilan perjuangan perempuan  yang tidak bisa dihapus dari sejarah.

Dalam kancah politik pragmatis, sudah bukan hal asing perempuan dicalonkan dari Parpol yang menaunginya, proses inilah yang mengantarkan perempuan untuk bisa menjadi wakil rakyat atau anggota dewan. Meski kuota untuk mereka baru 30 persen, tapi hal ini cukup meyakinkan perempuan untuk terus melangkah dan bersaing dengan para kompetitornya yang sebagian besar adalah para kaum adam.

Baca lebih lanjut