Mari, Dampingi Anak-Anak Korban Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD)

Menjadi pendamping Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) Kementerian Sosial yang ditempatkan di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim membuat saya hampir setiap hari berjibaku dengan kompleksitas masalah seputar anak, baik anak-anak yang menjadi korban perebutan hak asuh orangtua yang bercerai, anak-anak korban perlakuan salah: mengalami kekerasan, penelantaran hingga mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang berakhir dramatis karena nihilisme tanggungjawab dari pihak laki-laki yang menghamilinya.

Menarik sekaligus memilukan jika saya berhadapan dengan kasus demikian, sebab dalam usia mereka yang masih anak-anak, mereka sudah harus melahirkan, menjadi ibu tanpa suami yang seharusnya bertanggungjawab membesarkan hasil ‘percintaan’ mereka berdua. Sudah bikinnya enak, giliran mengandung dan melahirkan, pasti pihak perempuan yang lebih kalang kabut, lebih rumit lagi jika pelaku dan korban sama-sama berusia anak. Akan dipolisikan juga menimbulkan dilema hukum tersendiri karena usia anak-anak tidak boleh dipenjarakan. Pihak paling dirugikan tentu saja perempuan karena dampaknya lebih nyata secara fisik, dimana laki-laki yang menghamili masih bisa melenggang ke sekolah, bermain dengan teman-teman, sedangkan perempuan harus menyembunyikan kehamilan karena malu, juga labelisasi masyarakat setempat terhadap dirinya.
Baca lebih lanjut

Iklan

Tak Ada Ibu yang Tak Hebat, Begitu Juga Mak’e :D

Tulisan ini saya dedikasikan untuk perempuan yang kini mulai merenta, yang akhir-akhir ini seringkali saya rindu, telah membesarkan dan menghidupi saya bersama tujuh saudara saya yang lain. Saya tidak tahu apakah ukuran bakti seorang anak terhadap ibunya? Semua anak toh nantinya jadi orangtua anak-anaknya, tapi saya hanya takut tidak bisa menjadi orangtua sehebat emak saya. Inilah yang bisa saya tuliskan untuk perempuan sakti perkasa yang dengan seluruh nafasnya mendoakan saya, mengajarkan kami berbagai keajaiban dengan cara sangat sederhana.

Ya, Mak’ e, perempuan sederhana, perempuan kampung, sekolah hanya sampai Madrasah, dan sudah menikah sedari usia belasan. Menjadi saudara tertua dari tiga saudaranya yang lain membuat Mak’ e biasa mengalah, berbagi sebisanya dengan adik-adiknya karena himpitan ekonomi orangtua. Baca lebih lanjut

Menikah Itu Bukan Ending…

Sama halnya dengan kematian, yang masih menghubungkan kita dengan dunia lain, menikah juga bukanlah sebuah akhir, justru menikah adalah pembuka kehidupan selanjutnya.

Apapun itu, saya bersyukur akhirnya bisa menikah dengan satu-satunya laki-laki yang memacari saya sejak kurang lebih dua tahun lalu, pacaran putus nyambung entah berapa kali, dengan cara balikan yang amat sangat norak, dramatis yang bikin mual, pernah saling menyakiti, namun tidak juga bisa saling meninggalkan, hingga kami tidak lagi punya pilihan selain menikah, dan tenggat waktu yang saya tentukan adalah 4 Januari 2014, hanya ingin memudahkan ingatan saja empat satu satu empat. Baca lebih lanjut

Siapa Berebut Shiny?

 

Mbak, apa ada semacam dana BOS gitu untuk anak berkebutuhan khusus seperti anak saya? Anak saya Delay Motorik, kemarin saya sekolahkan di yayasan yang cukup mahal, tapi sekarang saya tidak ada biaya sebanyak itu untuk tetap menyekolahkan dia di sana.

Begitulah awal perbincangan yang kemudian menjadi cerita panjang antara saya dengan bu Rianny, anggap saja namanya begitu. Perempuan berusia 37 tahun ini single parent, bercerai sudah sekitar tujuh tahun lalu dari suaminya. Alasan perceraian karena suami tidak pernah menafkahinya, sementara yang dia tahu suaminya berasal dari keluarga yang cukup berada.

Usut punya usut ternyata suami justru menafkahi ibunya, alias mertua bu Rianny. Gaji yang diperoleh suami bu Rianny, semua diserahkan pada ibunya, sementara bu Rianny diam patuh dengan tetap tinggal di rumah mertuanya, dia bertahan, menunggu mertua dan suaminya sadar jika perlakuan yang diterimanya jelas tidak benar.

Suami tak kunjung berubah, mertua tidak juga mengalah, dengan proses yang berdarah-darah, hehe.. resmilah bu Rianny berpisah. Baca lebih lanjut

Hidup Itu Sesederhana Melempar Bantal

Saya masih belum beranjak dari Surabaya 😀 kali ini cerita yang sudah lama saya simpan, dan baru sempat saya tuangkan. Tsaelah :p

Siang itu saya dikejutkan sms yang meminta saya untuk mendampingi siswi yang mengalami KTD alias Kehamilan yang Tidak Diinginkan. Terus terang ini pengalaman pertama saya untuk mendampingi siswi hamil. Saya dag dig dug memikirkan apa yang bisa saya lakukan setelah saya mengiyakan sms yang meminta saya datang di sebuah perumahan yang menjadi rumah sementara untuk mereka, anak-anak yang sedang bermasalah.

Berangkatlah saya menuju perumahan elit yang menjadi shelter remaja tersebut, sebut saja Unge –haha, opo-opoan se iki- sesampai di sana saya belum mendapati siapapun selain penunggu rumah yang menyambut saya dengan senyuman nan mempesona 😀

Saya dan Mbak Ketty, penunggu rumah yang menyambut saya berbincang hangat tentang apa yang akan kami lakukan saat Unge datang nanti, karena menurut kabar Unge akan diantar malam-malam agar tidak terlihat tetangga oh tetangga kiri kanan, maka kami pun mempersiapkan diri menyambut Unge dan keluarga.

Malam hadir, Unge pun ngacir. Loh?

Unge datang, hanya berdua dengan mamanya yang cantik. Saya dan Mbak Ketty saling bertukar pandang penuh tanya ini mana yang hamil? Kira-kira begitulah arti kontak mata kami, sebab dua perempuan cantik yang mendatangi rumah ini terlihat cukup langsing, ukuran tubuh mereka jauh dari kesan hamil. Baca lebih lanjut

Jual Aku Kau Kutraktir

Beberapa waktu lalu saya mendapati berita di media yang mengabarkan akan ditutupnya kawasan dolly, kompleks pelacuran terbesar yang berlokasi di sini, surabaya 😀

Selama di sini, saya baru dua kali main ke kawasan itu. Saking penasaran karena sejak kecil sudah begitu familiar dengan namanya. Ternyata dolly hanya sebuah gang, dengan rumah bordir bertumpukan. Di situlah transaksi seksual banyak dilakukan. Baca lebih lanjut

Tak Apa Terlambat…

Meski terlambat, selamat tahun baru untuk semuanya. Selamat menyempurnakan resolusi, mewujudkan rencana yang dicitakan. Semoga semuanya tercapai sesuai harapan. Amiin..

Seperti pula tahun sebelumnya, saya kembali menutup dan membuka tahun tanpa resolusi berarti. Hanya doa khusus untuk tahun ini, semoga segera datang pangeran berkuda yang akan bersedia mengantarkan saya travelling dengan kudanya *ngarep.com

Saat ini saya sedang terkatung-katung menunggu perpanjangan kontrak kerja dengan Depsos. Wih, akhirnya saya menuliskan ini juga, bahwa saya bekerja sebagai Pekerja Sosial Pendamping Program Kesejahteraan Sosial Anak oleh Departemen Sosial RI. Sudah lebih dari enam bulan ini saya terikat sebagai pegawai non tetap Kementerian Sosial. Jadi tenaga outsourch gitu deh. Haha. Tak apa jadi pegawai non tetap, saya sendiri toh sudah mulai sangat menikmati profesi ini, dengan alasan sangat klise, karena di sinilah ternyata rezeki saya 😀

Baca lebih lanjut