Mari, Dampingi Anak-Anak Korban Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD)

Menjadi pendamping Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) Kementerian Sosial yang ditempatkan di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim membuat saya hampir setiap hari berjibaku dengan kompleksitas masalah seputar anak, baik anak-anak yang menjadi korban perebutan hak asuh orangtua yang bercerai, anak-anak korban perlakuan salah: mengalami kekerasan, penelantaran hingga mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) yang berakhir dramatis karena nihilisme tanggungjawab dari pihak laki-laki yang menghamilinya.

Menarik sekaligus memilukan jika saya berhadapan dengan kasus demikian, sebab dalam usia mereka yang masih anak-anak, mereka sudah harus melahirkan, menjadi ibu tanpa suami yang seharusnya bertanggungjawab membesarkan hasil ‘percintaan’ mereka berdua. Sudah bikinnya enak, giliran mengandung dan melahirkan, pasti pihak perempuan yang lebih kalang kabut, lebih rumit lagi jika pelaku dan korban sama-sama berusia anak. Akan dipolisikan juga menimbulkan dilema hukum tersendiri karena usia anak-anak tidak boleh dipenjarakan. Pihak paling dirugikan tentu saja perempuan karena dampaknya lebih nyata secara fisik, dimana laki-laki yang menghamili masih bisa melenggang ke sekolah, bermain dengan teman-teman, sedangkan perempuan harus menyembunyikan kehamilan karena malu, juga labelisasi masyarakat setempat terhadap dirinya.
Baca lebih lanjut

Iklan

Siapa Berebut Shiny?

 

Mbak, apa ada semacam dana BOS gitu untuk anak berkebutuhan khusus seperti anak saya? Anak saya Delay Motorik, kemarin saya sekolahkan di yayasan yang cukup mahal, tapi sekarang saya tidak ada biaya sebanyak itu untuk tetap menyekolahkan dia di sana.

Begitulah awal perbincangan yang kemudian menjadi cerita panjang antara saya dengan bu Rianny, anggap saja namanya begitu. Perempuan berusia 37 tahun ini single parent, bercerai sudah sekitar tujuh tahun lalu dari suaminya. Alasan perceraian karena suami tidak pernah menafkahinya, sementara yang dia tahu suaminya berasal dari keluarga yang cukup berada.

Usut punya usut ternyata suami justru menafkahi ibunya, alias mertua bu Rianny. Gaji yang diperoleh suami bu Rianny, semua diserahkan pada ibunya, sementara bu Rianny diam patuh dengan tetap tinggal di rumah mertuanya, dia bertahan, menunggu mertua dan suaminya sadar jika perlakuan yang diterimanya jelas tidak benar.

Suami tak kunjung berubah, mertua tidak juga mengalah, dengan proses yang berdarah-darah, hehe.. resmilah bu Rianny berpisah. Baca lebih lanjut

Tak Apa Terlambat…

Meski terlambat, selamat tahun baru untuk semuanya. Selamat menyempurnakan resolusi, mewujudkan rencana yang dicitakan. Semoga semuanya tercapai sesuai harapan. Amiin..

Seperti pula tahun sebelumnya, saya kembali menutup dan membuka tahun tanpa resolusi berarti. Hanya doa khusus untuk tahun ini, semoga segera datang pangeran berkuda yang akan bersedia mengantarkan saya travelling dengan kudanya *ngarep.com

Saat ini saya sedang terkatung-katung menunggu perpanjangan kontrak kerja dengan Depsos. Wih, akhirnya saya menuliskan ini juga, bahwa saya bekerja sebagai Pekerja Sosial Pendamping Program Kesejahteraan Sosial Anak oleh Departemen Sosial RI. Sudah lebih dari enam bulan ini saya terikat sebagai pegawai non tetap Kementerian Sosial. Jadi tenaga outsourch gitu deh. Haha. Tak apa jadi pegawai non tetap, saya sendiri toh sudah mulai sangat menikmati profesi ini, dengan alasan sangat klise, karena di sinilah ternyata rezeki saya 😀

Baca lebih lanjut

Sembarang Aja Deh…

Asli kangen banget ngeblog. Gile..
Adaptasi di tempat baru dengan pekerjaan baru yang whuss, ampun. Cukup bikin stress Mak..
Banyak moment yang luput aku posting. Mulai dari akhirnya dengan berat hati aku mundur dari MCW. Sungguh keputusan yang berat karena tempat inilah yang memberi keleluasaan untuk segala kekurangajaran, MCW pula yang menjadi saksi seluruh kemaksiatan yang aku perbuat. Haha..
Ya sudah, episode MCW memang harus berakhir. Meski tanpa airmata berderai, meski dengan langkah yang samasekali tak gontai. Hati ini menumpuk sejuta pilu untuk semua yang kini menjelma putih, biru, merah dan abu-abu bernama kenangan. Miss u all my enemy.. Baca lebih lanjut

Siapakah Dia Social Worker?

Bu, sms-in gw dunk teori yang menyebutkan jurnalis sebagai bagian dari social worker…

Jeblar, bagai ditampar Sundel Bolong pas aku baca penggalan sms di atas. Sms dari seorang teman yang ngotot banget pengen jadi Social Worker sedari belum lair. Hehe..

Well, tulisan ini mungkin tidak menarik, tapi ini benar-benar penting bagiku, sebab postingan ini sekaligus juga sebagai pemenuhan janjiku pada satu teman yang lain yang ada di USU sana, Erviana Filiang, thanks Sist, kupenuhi janjiku padamu.

Siapakah sebenarnya social worker? Aku sudah sering mendiskusikan ini, dengan setengah ngotot pada beberapa dosenku dulu, menurut pemahamanku, semua orang toh pada dasarnya bisa dibilang social worker, karena aku yakin semua pekerja tentu tidak hanya bekerja hanya untuk pribadi dia, tapi saling berkesinambungan menyelamatkan hidup orang lain, meski tidak secara langsung, dan atas dasar asumsi inilah aku mengkategorikan bahwa Social Worker tentu saja kemampuan yang tidak membutuhkan spesifikasi ilmu tertentu, sebab semua manusia toh makhluk sosial yang tidak mungkin asosial. Maka pekerjaan dia yang berdampak pada kehidupan sosial sebagian manusia yang lain tentu saja bisa dibilang sebagai pekerjaan sosial. Baca lebih lanjut

Professor, Anda Benar-Benar Norak..

Sudah bukan lagi hal asing ketika aku selalu kebagian tugas notulensi dalam setiap acara kantor, baik ketika acara dilangsungkan di kantor maupun di luar kantor, baik ketika MCW yang menyelenggarakan acara itu sendiri, maupun ketika MCW hanya menjadi peserta undangan dalam acara yang diadakan pihak lain.

Kemarin, MCW diminta untuk membantu notulensi acara besar di salah satu kampus di sini, lagi-lagi aku yang dieksploitasi untuk menotulensi. Seminar Nasional yang idealnya dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Jatim ini berlangsung hanya dihadiri oleh Soekarwo dan Dirjen Pembinaan Keuangan Daerah, minus Pak Mendagri.

Sedari awal acara, aku sudah tak begitu nyaman, pasalnya Panitia berlaku sangat ketat dan sok, mungkin karena event nasional, mendaulat Gubernur jadi narsumb, mereka jadi parno akan terjadi sesuatu yang membahayakan dan mengancam jalannya acara.

Seperti pada setiap notulensi, aku pilih duduk di belakang, menampik dengan halus untuk menduduki kursi di depan peserta, berdekatan dengan narsumb. Yaya, tidak PD akutku membuatku lebih nyaman di belakang, toh depan belakang juga sebenarnya nggak ngaruh, yang penting aku mudeng, dan bisa mengartikulasikannya dalam kata-kataku.

Baca lebih lanjut

Semesum, Bukan Semusim

Dasar bocah semprul, kedua lelaki dewasa itu benar-benar tak kumengerti. Meski benar-benar bermaksud ngebanyol, tapi tatapan mereka masih melambai-lambai dalam benakku yang terdalam.

Memang ini lagi ngomongin apa se? Ya, ini cerita konyol perjalananku ke Probolinggo kemarin, selain masih ada bahan tulisan lain yang lebih menggelitikku, tiada salahnya kekonyolan ini aku muntahkan lebih dulu.

Sore setelah acara pelatihan itu, aku dan beberapa kawan masih dipaksa melayani peserta yang masih belum puas dengan materi yang disampaikan  oleh sesepuh suku kami, maka dengan muka sebal semanis mungkin, duduklah kami sembari berpura-pura dengan antusias menyimak bahan obrolan. terutama aku, yang menjadi satu-satunya bidadari paling celaka di antara para lelaki dewasa itu, senyum-senyum simpul dan mengerjap penuh harap agar mereka segera mengakhiri perbincangan dan kami bisa melanjut perjalanan kembali ke Malang, bukan saking tidak betahnya di Probolinggo, yang seumur-umur memberiku suguhan menarik karena nyamuk hotelnya, tetapi ini karena esok subuh kami mesti melanjut perjalanan ke Ponorogo. So, tubuh nan tipis ini akan makin mengekeret jika berlama-lama menduduki kijang tua sebagai kendaraan kebesaran aku dan beberapa kawan selama ini.

mula-mula mereka ngomong tentang pendidikan, mulai dari pergeseran paradigmanya hingga pada politisasi pendidikan yang masih sering digunakan senjata paling ampuh oleh mereka yang menginginkan kekuasaan, setengah hati aku menyimak, agak bosan soalnya, hingga tibalah pada detik yang membelalakkan mata sipitku dengan paksa, mereka ngomongin tentang zina..

Dodol sumeradol, bertepatan dengan meluncurnya kalimat ini:

Memang bener-bener, praktek zina itu sudah sedemikian melebar, menimbulkan dampak psikis-sosial, entah dengan cara apa membuat para pelakunya sadar..,”

Bertepatan dengan meluncurnya kata-kata si Bapak,   salah satu kawan langsung menatap ke arahku dengan spontan, sialnya langsung diikuti tatapan yang lain, sekitar 6 laki-laki dewasa itu menatapku bersamaan, dengan tatapan aneh, loh, maksudnya apa sih?

Aku makin salting, ini orang kok bisa berlaku seperti ini? kusambar HP dengan asal, kubenamkan mukaku penuh  khidmat, sibuk pencet sembarang. Setelah itu kutatap lagi mereka, perbincangan mulai ganti topik, aku tatap temanku setengah mendelik -karena mataku tak bisa dipake mendelik dengan benar- maksud tatapanku sederhana, meminta kejelasan makna tatapan mereka.

Dan jawaban itu baru aku peroleh hampir satu jam kemudian, dalam perjalanan kami pulang, kurang lebih inilah jawabannya:

Karena selama ini kamu tuh paling vulgar ngomongin all about sex, jadi tatapan tadi juga refleks aja, nggak tau ternyata yang lain tergoda juga untuk menuduhmu sebagai pelaku perzinahan itu, meski hanya dari tatapan mereka, aku bisa simpulkan, sepertinya mereka menuduhmu, haha..”

Aku terbahak, itukah maksudnya? Prestasi bagiku dong kalo mereka benar beranggapan demikian sambil terus berpikir mencari kebenaran. Well, mungkin inilah sedikit kebenaran itu.

Kita masih sering terjebak pada paradigma pintas, tanpa lebih dulu menelaah tampilan maupun perilaku seseorang, ada yang blak-blakan ngomongin seks, orang sudah beranggapan dia pemain tangguh, ada yang bertindik tatoan, sudah dianggap preman, berpendapat dengan vulgar juga sering dianggap pembangkang, amoral, dan sebutan lain yang kadang menyudutkan. Aku kurang sepakat dengan cara berpikir seperti itu.

Bukan apa-apa, pengalaman yang mengajariku banyak hal, teman-temanku yang setauku pecandu, MBA, aborsi bahkan ngeseks dengan gontati pasangan rata-rata justru mereka yang lama hidup di Pesantren, cenderung alim dan tak berkata kasar, tampilan mereka pun amat sangat sopan, berdosa rasanya jika berpikiran buruk tentang mereka, padahal…

Dalam keterpingkalanku aku terus berpikir, kalo benar tatapan para lekong itu bermakna demikian, harusnya aku bangga karena dua hal, satu: dengan anggapan seperti itu, maka pendapatku tentang tiadanya laki-laki yang bernapsu atasku sedikit terpatahkan 😛

semesum itukah mukaku? 😀

kedua, apa ya? aku lupa. haha…