Tak Apa Terlambat…

Meski terlambat, selamat tahun baru untuk semuanya. Selamat menyempurnakan resolusi, mewujudkan rencana yang dicitakan. Semoga semuanya tercapai sesuai harapan. Amiin..

Seperti pula tahun sebelumnya, saya kembali menutup dan membuka tahun tanpa resolusi berarti. Hanya doa khusus untuk tahun ini, semoga segera datang pangeran berkuda yang akan bersedia mengantarkan saya travelling dengan kudanya *ngarep.com

Saat ini saya sedang terkatung-katung menunggu perpanjangan kontrak kerja dengan Depsos. Wih, akhirnya saya menuliskan ini juga, bahwa saya bekerja sebagai Pekerja Sosial Pendamping Program Kesejahteraan Sosial Anak oleh Departemen Sosial RI. Sudah lebih dari enam bulan ini saya terikat sebagai pegawai non tetap Kementerian Sosial. Jadi tenaga outsourch gitu deh. Haha. Tak apa jadi pegawai non tetap, saya sendiri toh sudah mulai sangat menikmati profesi ini, dengan alasan sangat klise, karena di sinilah ternyata rezeki saya 😀

Baca lebih lanjut

Iklan

Semesum, Bukan Semusim

Dasar bocah semprul, kedua lelaki dewasa itu benar-benar tak kumengerti. Meski benar-benar bermaksud ngebanyol, tapi tatapan mereka masih melambai-lambai dalam benakku yang terdalam.

Memang ini lagi ngomongin apa se? Ya, ini cerita konyol perjalananku ke Probolinggo kemarin, selain masih ada bahan tulisan lain yang lebih menggelitikku, tiada salahnya kekonyolan ini aku muntahkan lebih dulu.

Sore setelah acara pelatihan itu, aku dan beberapa kawan masih dipaksa melayani peserta yang masih belum puas dengan materi yang disampaikan  oleh sesepuh suku kami, maka dengan muka sebal semanis mungkin, duduklah kami sembari berpura-pura dengan antusias menyimak bahan obrolan. terutama aku, yang menjadi satu-satunya bidadari paling celaka di antara para lelaki dewasa itu, senyum-senyum simpul dan mengerjap penuh harap agar mereka segera mengakhiri perbincangan dan kami bisa melanjut perjalanan kembali ke Malang, bukan saking tidak betahnya di Probolinggo, yang seumur-umur memberiku suguhan menarik karena nyamuk hotelnya, tetapi ini karena esok subuh kami mesti melanjut perjalanan ke Ponorogo. So, tubuh nan tipis ini akan makin mengekeret jika berlama-lama menduduki kijang tua sebagai kendaraan kebesaran aku dan beberapa kawan selama ini.

mula-mula mereka ngomong tentang pendidikan, mulai dari pergeseran paradigmanya hingga pada politisasi pendidikan yang masih sering digunakan senjata paling ampuh oleh mereka yang menginginkan kekuasaan, setengah hati aku menyimak, agak bosan soalnya, hingga tibalah pada detik yang membelalakkan mata sipitku dengan paksa, mereka ngomongin tentang zina..

Dodol sumeradol, bertepatan dengan meluncurnya kalimat ini:

Memang bener-bener, praktek zina itu sudah sedemikian melebar, menimbulkan dampak psikis-sosial, entah dengan cara apa membuat para pelakunya sadar..,”

Bertepatan dengan meluncurnya kata-kata si Bapak,   salah satu kawan langsung menatap ke arahku dengan spontan, sialnya langsung diikuti tatapan yang lain, sekitar 6 laki-laki dewasa itu menatapku bersamaan, dengan tatapan aneh, loh, maksudnya apa sih?

Aku makin salting, ini orang kok bisa berlaku seperti ini? kusambar HP dengan asal, kubenamkan mukaku penuh  khidmat, sibuk pencet sembarang. Setelah itu kutatap lagi mereka, perbincangan mulai ganti topik, aku tatap temanku setengah mendelik -karena mataku tak bisa dipake mendelik dengan benar- maksud tatapanku sederhana, meminta kejelasan makna tatapan mereka.

Dan jawaban itu baru aku peroleh hampir satu jam kemudian, dalam perjalanan kami pulang, kurang lebih inilah jawabannya:

Karena selama ini kamu tuh paling vulgar ngomongin all about sex, jadi tatapan tadi juga refleks aja, nggak tau ternyata yang lain tergoda juga untuk menuduhmu sebagai pelaku perzinahan itu, meski hanya dari tatapan mereka, aku bisa simpulkan, sepertinya mereka menuduhmu, haha..”

Aku terbahak, itukah maksudnya? Prestasi bagiku dong kalo mereka benar beranggapan demikian sambil terus berpikir mencari kebenaran. Well, mungkin inilah sedikit kebenaran itu.

Kita masih sering terjebak pada paradigma pintas, tanpa lebih dulu menelaah tampilan maupun perilaku seseorang, ada yang blak-blakan ngomongin seks, orang sudah beranggapan dia pemain tangguh, ada yang bertindik tatoan, sudah dianggap preman, berpendapat dengan vulgar juga sering dianggap pembangkang, amoral, dan sebutan lain yang kadang menyudutkan. Aku kurang sepakat dengan cara berpikir seperti itu.

Bukan apa-apa, pengalaman yang mengajariku banyak hal, teman-temanku yang setauku pecandu, MBA, aborsi bahkan ngeseks dengan gontati pasangan rata-rata justru mereka yang lama hidup di Pesantren, cenderung alim dan tak berkata kasar, tampilan mereka pun amat sangat sopan, berdosa rasanya jika berpikiran buruk tentang mereka, padahal…

Dalam keterpingkalanku aku terus berpikir, kalo benar tatapan para lekong itu bermakna demikian, harusnya aku bangga karena dua hal, satu: dengan anggapan seperti itu, maka pendapatku tentang tiadanya laki-laki yang bernapsu atasku sedikit terpatahkan 😛

semesum itukah mukaku? 😀

kedua, apa ya? aku lupa. haha…

Tips Menggagahi Pulau Sempu

Semangat banget menuliskan sisa perjalanan tahun kemarin, yang full petualangan fisik dan batin. Well, ini tentang perjalanan ke Pulau Sempu, Sendang Biru. Tentunya Malang punya dunk..

Jangan tanyakan lagi eksotisme yang ditawarkan kawasan ini. Pasir putih, laut lepas, debur ombak kehijauan nan mendayu, seringai karang, semuanya menyatu padu dalam balut Segara Anakan.

Sensasinya dwar dwar deh pokoknya, bahkan tulisan Desy yang menceritakan tentang Sempu, bagiku sudah cukup sempurna mengulas pesona pantai ini.

So, aku tidak akan mengulasnya lagi Des! Satu kata yang cukup mewakili syukurku bisa menggagahi Sempu adalah Damn! Ai Luph U Pull Sempu..

Ini tentang sesuatu yang sangat menggangguku ketika dalam perjalanan meninggalkan Sempu. Ya, setelah menghabiskan satu malam, membawa tenda imut cantik yang ternyata hanya jadi pemanis, karena aku dan kawand-kawand lebih memilih berguling di pasir, menatap langit malam yang tertutup mendung –sayang banget- kami memutuskan mengakhiri perjalanan dan segera balik ke tengah kota minggu siang –bukan minggu sore seperti yang sudah direncanakan- karena satu-satunya bekal paling penting untuk mengantarkan kami ke tiga pantai lain yang ada di sekitar Sempu (Pantai Panjang, 2 pantai yang lain apa ya, aku lupa), air mineral, sudah habis lebih dulu.

Demi kemanusiaan kami pada diri sendiri, urunglah aku dan kawand-kawand melanjut perjalanan. Kami pulang, kembali menyusur hutan, menuju Sendang Biru, menunggu jemputan perahu yang kemarin mengantarkan kami.

Dua jam melintasi hutan menurutku tidak cukup melelahkan, karena selain banyak berhenti, foto-foto sekadar unjuk gigi, ketawa-ketiwi yang kian mengeluarkan keringat tubuh, semuanya menjadikan perjalanan ini sangat berkesan.

Satu gangguan tersisa untukku sampai kini adalah pemandangan ketika kami pulang, mengantri satu-satu untuk menaiki perahu yang akan kembali membawa kami ke daratan.

Sembari mengantri naik perahu, aku cukup melongo menyaksikan satu demi satu pengunjung Sempu yang baru datang, mereka satu rombongan, terdiri sekitar 10 lebih orang. Bukan karena mereka memang jauh lebih menarik dibanding kawand-kawandku, tapi yang lebih mengganggu adalah kostum yang mereka pakai.

Mulai dari kaos, tengtop, hotpen, topi, hingga alas kaki yang mereka kenakan asli branded banget, tapi plis deh Mbak Mas, kita mau ke Pantai lepas, menyusur hutan agak licin, sesekali naik turun, menyerahkan diri pada seringai karang dan bercebur di pantai, masa pake haig hil gitu? Aduh-aduh, kok mataku jadi terganggu..

Bukan apa-apa, suka-suka deh pengunjung mau pake apa saja, tapi demi keselamatan diri sendiri, plis bayangkan bagaimana lelahnya menanjak hutan dengan sandal dan sepatu yang lebih match dipake kalo ke mall itu.

Sempu itu hutan Mbak, dengan 30 menit menyeberang laut Sendang Biru, menyusuri dua jam hutannya, baru sampai pada Segara Anakan nan eksotis itu. Sempu berbeda dengan Balai Kambang, Ngliyep ataupun kawasan pantai Malang yang lain, yang masih memungkinkan dijangkau dengan tampilan seperti itu –yang menurutku juga tetap saltumlah-

Meski sama-sama pantai, laut lepas dan karang menjulang, Sempu juga jauh berbeda dengan Kuta –emang di Kuta ada karang? haha- Tanah Lot,  Nusa Dua, apalagi Nyanyur –Sanur maksudku- atau Uluwatu sekalipun.

Sempu so different, sensasinya lebih dari semua pantai itu –haha, bombai mode on- kalo nggak percaya pergi dan buktikanlah! Serasa main film tanpa skenario kita di sana. Panorama indahnya itu lo serasa khayal banget, but its real..

So, menurutku Sempu akan bisa kita nikmati sempurna dengan membawa bekal ini: air mineral secukup-cukupnya, karena aku doyan minum, akan bagus kalau setiap satu orang membawa tiga liter aqua, obat merah, obat sesak napas, permen karet buat dikunyah sepanjang jalan, pakai pakaian yang bisa serap keringat berlebih, siapkan lotion anti nyamuk, sandal dan sepatu yang tidak membuat kita cepat lelah, bukan haig hil, plis deh!

Pake hotpen juga bagus aja se, tapi apa gak cukup mengganggu peredaran darah tubuh ya dengan ukuran seketat itu, pake tengtop juga gapapa asal betah disapa satu dua nyamuk hutan yang tergoda ingin berkenalan dengan kita.

Bagi yang berniat kemping –lebih bagus menginap memang, dijamin puas- bekal yang harus dibawa ya standard perlengkapan kemping gitulah, jauh lebih penting lagi selain baju ganti -karena pantainya benar-benar menggoda untuk terus digagahi, bahasa lebih menarik dari sekadar berendam u know- adalah kamera.

Thats all, kita juga bisa bakaran ikan sepuasnya jika membelinya di kampung nelayan yang lebih dulu kita lintasi, bukan mengejar udang dan ikan semaleman seperti yang kawand-kawandku lakukan 😛

Sempu keren banget dah!!! Masih berharap bisa ke sana lagi, kalo ada yang berminat, bisa kontak-kontak ya.. hehe

Yeyeye, Kawah Idjen Pancen Oye…

Berbicara tentang Indonesia memang sama membanggakannya dengan ngobrolin all about pasangan kita. Sering bikin sebal, tapi kita sayang, sering bikin marah, tapi rindu kita tetap utuh, pengen pisah ranjang, tapi kedinginan, sampe pengen cerai, eh nggak ada biaya ke pengadilan 😀

Indonesia memang unik, kekayaan alamnya yang bisa menenggelamkan penduduk dalam kubangan milyar dollar ini ternyata hanya membanjir di kantong pengusaha, penjabat, penjilat dan pemerintah yang sakit jiwa, mengkhianati amanah rakyat sesuka-suka mereka.

Tapi ya sudahlah, apapun yang sedang mereka perbuat, kita harus tetap bangga dengan Indonesia yang kaya raya ini, meski kekayaannya justru banyak diurus tangan-tangan nista. Loh, kok ke sana lagi sih? 😛 Baca lebih lanjut

Berbagi Press Release..

Ini sekadar sisa press release yang aku kirim ke media lokal Madiun. Tengkiuh, ada yang dimuat nyaris tanpa edit. Seneng aja jadinya..

Menggalang Social Heart Demi Pemberdayaan Pendidikan

Madiun, Kare
Harus diakui, kondisi pendidikan di Indonesia masih cukup terseok-seok. Kurangnya Sumber Daya Manusia menjadi hal klasik yang belum menemukan solusi sampai saat ini. Tenaga pengajar masih sangat terbatas baik kualitas dan kuantitasnya. Apalagi tenaga pengajar untuk beberapa daerah di wilayah Indonesia. Selain jumlah yang tidak banyak, tenaga pengajar yang ada tersebut memiliki skill yang sangat minim dan kurang beragam.

Hal ini diperkuat dengan kondisi ekonomi negara yang kurang stabil dan semakin memperpuruk kondisi pendidikan yang ada. Lembaga-lembaga pendidikan yang ada pun kurang mampu menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang proses belajar-mengajar sehingga, pendidikan Indonesia justru semakin terbelakang dari negara-negara lainnya.

Baca lebih lanjut

Akhirnya Aku Kembali…

Lega rasanya telah berhasil menempuh salah satu tugas kuliah yang diyakini banyak mahasiswa merupakan beban kedua selain skripsi. Yupz, kuliah Kerja Nyata atau yang lebih akrab diplesetin Kanan Kiri Nonggo, Kluyar Kluyur Nyaman dan kepanjangan lain yang tidak kalah mekso. Seminggu sudah aku kembali mendekap guling dan menikmati kamar kosku yang tidak nyaman-nyaman amat. Ada bebrapa catatan yang mengendap, sesekali berontak untuk dituangkan sekembalinya aku dari KKN.

Well, dimulai dari pemberangkatan KKN pada 25 Juli lalu. Aku tergabung dalam Kelompok 03 yang dipusatkan di pedalaman kota Madiun, tepatnya di Desa Kare Kecamatan Kare, Madiun. Sepanjang perjalanan ke tempat itu, aku ilFil banget ngeliat temen-temen kelompokku. Gaya mereka sok borju. Yah, cukup terbukti dengan iuran KKN kami yang jumlahnya relatif lebih dibanding kelompok lain. Bahkan untuk yang di dalam kota, iuran mereka bisa separo dari iuran kelompokku.

Jadilah selama dalam perjalanan aku hanya diam, tanpa menoleh ke teman yang lain. Aku hanya ngerumpi seadanya sama teman sebelahku. Itupun tidak lama karena belum setengah jalan, aku sudah KO duluan. Mabuk udara Bo’! keren gak seh? Sudah ilFil diperlengkap muntah. Lengkaplah muntah ilFil..

Baca lebih lanjut