Mujahid di Mata Emakku

Ini oleh-oleh mudikku kemarin, aku kaget bukan main ketika salah satu Kakak perempuanku dengan amat sangat antusias memperlihatkan cd tayangan proses penguburan Amrozi bersaudara. Bukan apa-apa, aku memang sengaja menghindari berita seputar ketiga orang itu. Malas aku mengikuti perkembangan beritanya sejak menjelang eksekusinya. Gak tau kenapa.

Maka demi menghormati semangat Kakakku, aku pun bersedia menonton tayangan dengan durasi hampir satu jam itu. Tidak hanya proses penguburan, tayangan video itu juga berisi rekaman Mukhlas ketika menyampaikan wasiatnya, juga ada Imam Samudera ketika diwawancarai beberapa jurnalis, termasuk Jurnalis asing yang banyak mengorek informasi darinya.

Dalam proses penguburannya di Tenggulun sana, tampak dari tayangan video itu banyak sekali orang yang mengelukan Amrozi bersaudara, banyak dari mereka mengepalkan tangan, berteriak “Allahu akbar” aku makin negri, aku memang sering ngeri jika mendengar kalimah itu diucapkan dengan serentak mengepalkan tangan penuh semangat, mereka seolah siap melumatkan semuanya dengan kepalan itu. Benarkah mereka akan menghancurkan semuanya?

Baca lebih lanjut

Iklan

Salah Dua Celah Itu..

Lokasi KKNku memang sedikit unik. Sebab kawasan Kare merupakan kecamatan terluas di Kabupaten Madiun. Bentuknya memanjang seluas 17.776,615 Ha. terbagi 8 desa terdiri dari 33 dusun 227 RT. Desa Mbodag, mBolo, Kepel, Kuiran, Kare, Randualas, Cermo, Morang memanjang di perbukitan kaki gunung Wilis 27 km timur Madiun. Masyarakatnya sebagian besar bekerja sebagai petani dan buruh tani ini cenderung modern menurutku.

Dan memang benar, menurut aparat desa setempat, Kare sudah tidak membutuhkan penanganan lain. So, kami sempat kelabakan mau berbuat apa di situ. Selain terhambat kemajuan desa, lokasi KKN juga terbentur pada perbedaan organisasi keagamaan setempat. Informasi yang lebih dulu kami terima adalah Muhammadiyah -yang notabene naungan kampus kami- termasuk minoritas di Wilayah Kare ini. Hal ini menyebabkan apatisme masyarakat Kare terhadap segala hal yang berbau Muhammadiyah juga patut diwaspadai. Tidak tanggung-tanggung, yang menjelaskan hal tersebut panjang lebar adalah Pengurus Cabang Muhammadiyah Kare, yang otomatis merupakan Bapak Kos kami, para cewek.

Banyak hal yang beliau paparkan tentang perbedaan itu. Begitu ekstrim dan sangat asing di telinga. Satu-satu di antara kami bahkan ditanyai dari organisasi islam mana kami dibesarkan? Oh God! Meski mengenyam pendidikan di Muhammadiyah sedari lahir, aku tidak pernah diinvestigasi seperti ini. Dan walau kami berasal dari Universitas Muhammadiyah Malang, kami tidak pernah ditanya langsung oleh Rektor atau pejabat kampus yang lain seputar hal tersebut. Justru Kampus kami sangat terbuka menerima mahasiswa dari berbagai belah dunia, agama, suku ras dan segala macamnya. Meski kampus Islam, berbasis Muhammadiyah, toh kampus tidak pernah mewajibkan mahasiswanya berjilbab pada jam kuliah, semuanya bebas. Asal beradab..

Baca lebih lanjut