Tak Ada Ibu yang Tak Hebat, Begitu Juga Mak’e :D

Tulisan ini saya dedikasikan untuk perempuan yang kini mulai merenta, yang akhir-akhir ini seringkali saya rindu, telah membesarkan dan menghidupi saya bersama tujuh saudara saya yang lain. Saya tidak tahu apakah ukuran bakti seorang anak terhadap ibunya? Semua anak toh nantinya jadi orangtua anak-anaknya, tapi saya hanya takut tidak bisa menjadi orangtua sehebat emak saya. Inilah yang bisa saya tuliskan untuk perempuan sakti perkasa yang dengan seluruh nafasnya mendoakan saya, mengajarkan kami berbagai keajaiban dengan cara sangat sederhana.

Ya, Mak’ e, perempuan sederhana, perempuan kampung, sekolah hanya sampai Madrasah, dan sudah menikah sedari usia belasan. Menjadi saudara tertua dari tiga saudaranya yang lain membuat Mak’ e biasa mengalah, berbagi sebisanya dengan adik-adiknya karena himpitan ekonomi orangtua. Baca lebih lanjut

Iklan

Ini Bukan Sebuah Akhir

Hidup ini terlalu ngasih banyak surprise kadang, yang tidak semuanya menyenangkan. tepat pada 23 Juli, 2009 aku ujian skripsi, kabar yang cukup mengejutkan aku terima siang, setelah ujian masih belum kurampungkan. Mbak Yuku, Husnul Khotimah pingsan dalam proses kelahiran bayi ketiganya. Aku ga konsen sudah. Rasanya, feelingku benar-benar bermain, akan terjadi sesuatu dalam keluarga kami.

Malem itu juga, mesKipun masih sempet ngopi bareng temen, tapi pikiran ini sudah mengawang kemana-mana. Tidak mungkin tidak akan terjadi sesuatu. Tuhan sungguh melancarkan benar perjalanan hidup keluarga kami. Da benarlah..

Sabtu sore, tepat setengah empat ketika aku nyampe rumah sakit sialan itu, kusaksikan mbakyuku, sudah dalam kondisi yang kian menguatkan kekhawatiranku. God, bener-bener menyedihkan. Tubuh kakakku bengkak, dia menyalamiku, aku langsung menangis. Bayangan terburuk sudah melayang dalam pikirku. Inilah jawaban semuanya. Semua yang aku takutkan, meski belum pernah aku bayangkan.

Baca lebih lanjut

Lagi- Komputerku -Lagi

Leganya bisa pake komputerku lagi. Sebagai hadiah dari brother ketika itu, sampai saat ini komputerku sudah cukup menguras kantong tipisku. Mulai dari ganti power supply, beli memory, nambah hardisk, ganti casing, sampai hari ini ganti keyboard. Gila bo’! selalu ada saja. Mungkin bener kata temen-temen kos, komputer ini akan selalu error kalo aku gak juga nraktir mereka sebagai bentuk syukurku karena dapat hadiah komputer ini dari brother sekitar berapa tahun lalu ya? Lupa aku..

Tapi kalo menurut analisaku seh, komputer ini emang sengaja marah ma aku, pasalnya aku hanya janji melulu tanpa bukti yang memuaskan komputer ini sebagai partner hidupku. Ya, berulang kali aku berjanji padanya bahwa aku akan bisa terus menulis, entah untuk media massa maupun karya ilmiah gitu. Tapi sampe saat ini, glodagk! Gak da satupun karya yang memuaskan komputer ini, terutama juga aku.

Sebenarnya gimana ya, aku sudah berusaha juga seh semampuku, mulai nulis artikel yang aku kerjain asal, sampe yang bener-bener gak bisa tidur siang malam. Nyatanya sampe sekarang cuman satu tulisan aja yang bisa aku nikmati di media massa, itupun di citizen journalismenya Surya. Yah, semua tulisan bisa dimuat kali di sana.

Baca lebih lanjut

Hallo Apa Kabar?

Hallo apa kabar? Lumayan lama aku gak posting. Tadinya mau posting catatan selama KKN kemarin, tetapi ternyata belum aku masukin Flash. Jadilah posting ini sekadarnya ajah.

Well, gak terasa sudah seminggu lebih romadhon berjalan. Selain karena aku belum puasa sama sekali karena kebocoran ini, juga karena suasana romadhon di Malang memang jauh berbeda dengan di rumah. Jadi romadhon kali ketiga aku di Malang ini juga terasa biasa aja. Gak da hal menarik yang beneran menarik hasrat. Meski begitu, sempat baca opini Haidar Nashir di Kompas awal puasa lalu juga patut direnungkan sampai sekarang.

Yah, romadhon memang momen yang baik bagi manusia untuk bertransformasi sesuai apa yang dipengenin. Paling gak, aku berharap dalam romadhon ini Tuhan bermurah hati mengizinkan ini adalah romadhon terakhir aku di Malang. Semoga romadhon tahun depan aku sudah berada di lain tempat lengkap dengan kerjaan mapan. Amiin..

Baca lebih lanjut

Tempora Mutantur, et Nos Mutamur in Illis

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa diceritakan dalam hidup ini. Tentang diri kita, teman, tetangga atau juga orang yang baru kita kenal. Tidak harus ngeblog, kita bisa juga pura-pura posting pake Komputer sendiri. Semua tergantung kita mau apa tidak. Dan aku, sudah agak lelah dengan ketidak mauanku. Aku ingin meluapkan kemauan ini. Sudah lama rasanya aku ingin menulis, menulis dan terus menulis. Sehingga, percakapan dengan orang lain pun terbatas. Tidak bicara kecuali ada kepentingan, menggosip pun harusnya hanya lewat tulisan. Tapi, gak kebayang juga gimana bau mulut orang-orang seandainya semua benar terjadi seperti itu. 🙂

Well, ini tentang tulisan yang aku baca di Kompas edisi 14 July kemarin. Walau sudah lumayan kering, tetapi aku tetap tidak bisa melupakan tulisan dengan judul Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan Ngelmu itu. Banyak petuah hidup yang aku dapat dalam tulisan itu, bahwa The Survival of The Fastes atau dalam bahasa yang lebih aku pahami yang bertahan yang paling cepat, daripada The Survival of The Fittest yang bertahan yang lebih kuat.

Baca lebih lanjut

Tertohok Itu Indah…

Jika Arai, tokoh fenomenal tetralogi Laskar Pelangi bisa membuktikan kebenaran prinsipnya: Bermimpilah, karena Tuhan akan Memeluk Mimpimu. Maka aku hanya bisa memegang kebenaran: Tertohoklah, karena tertohok itu Indah 🙂

Bermula dari keluh kesah pada sepupu kemarin, ketika aku mengeluhkan kegiatanku sekarang. Nganggur dan tidak jelas, meski masih terus nyoba nulis, tetapi hasilnya masih belum jelas juga. So, aku mengeluh jika hidup seperti ini sangatlah tidak enak. Tidak kuliah, gak laku-laku. Kegiatanku hanya berkutat pada kamar kos yang debunya sedengkul ini. Resiko jadi pengangguran, makan minum pun tak pernah tenang. Otomatis, teringat lagi aku pada Koran Kampusku. Seandainya masih di sana, aku mungkin bisa ngenet gratis, bisa becanda tawa sama teman di sana, atau sekadar cuci mata ngeliat Cleaning Service kampus.

Jadilah aku berkesah pada sepupuku ini, bahwa ternyata kita tidak sekadar butuh materi ketika mempertahankan sesuatu yang selama ini kita anggap bagian hidup kita. Ada hal-hal yang tidak bisa dirasionalkan. Dan itu bukan sekadar kalkulasi materi. Maka, tertohoklah aku dengan jawaban mantap sepupuku. “Nah, akhirnya ngerasain juga? Tidak semua kebahagiaan hidup hanya pada kalkulasi angka, terlalu banyak bahagia yang justru tidak logis, tanpa kalkulasi,” Sungguh, dia masih inget percakapanku bebrapa waktu lalu.

Baca lebih lanjut

Aku Masih Tidak Cukup Tegar..

Aku paling benci orang munafik. Dan karena aku tidak ingin menjadi bagian kemunafikan itu, aku harus jujur pada diriku. Kejujuran itu bisa aku tuangkan di sini, rumah ceritaku. Aku terus terang masih sedih menerima kenyataan skorsingku. Bukan apa-apa, aku hanya merasa semua yang sudah aku pertaruhkan untuk Koran Kampusku akhirnya sad ending seperti ini. Meski bukan akhir dari segalanya, tetapi diskorsing dari media kecil yang selama ini cukup menjadi kebanggaan bagiku adalah pukulan yang masih menyebabkan aku sedikit sakit. Dan jawaban imel seperti inilah yang ingin aku perlihatkan untuk kedua temenku yang bernasib sama. Bilapun nanti kita bener-bener tidak kembali ke sana, maka itu adalah really keinginan kita. Bukan tekanan siapa-siapa…

Tum, orang usah nangis bercucuran air mata. Menurutku kamu justru layak membusungkan dada. Keluar dari sistem yang tidak jelas itu karena sebuah prinsip. It’s cool..

Pada waktunya, kepompong toh harus meninggalkan sarangnya. Dia jadi kupu-kupu. Dari yang semula menjijikkan bagi banyak orang, kepompong itu berubah jadi kupu-kupu yang tak seorang pun membantah kecantikannya.

Baca lebih lanjut