Professor, Anda Benar-Benar Norak..

Sudah bukan lagi hal asing ketika aku selalu kebagian tugas notulensi dalam setiap acara kantor, baik ketika acara dilangsungkan di kantor maupun di luar kantor, baik ketika MCW yang menyelenggarakan acara itu sendiri, maupun ketika MCW hanya menjadi peserta undangan dalam acara yang diadakan pihak lain.

Kemarin, MCW diminta untuk membantu notulensi acara besar di salah satu kampus di sini, lagi-lagi aku yang dieksploitasi untuk menotulensi. Seminar Nasional yang idealnya dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Jatim ini berlangsung hanya dihadiri oleh Soekarwo dan Dirjen Pembinaan Keuangan Daerah, minus Pak Mendagri.

Sedari awal acara, aku sudah tak begitu nyaman, pasalnya Panitia berlaku sangat ketat dan sok, mungkin karena event nasional, mendaulat Gubernur jadi narsumb, mereka jadi parno akan terjadi sesuatu yang membahayakan dan mengancam jalannya acara.

Seperti pada setiap notulensi, aku pilih duduk di belakang, menampik dengan halus untuk menduduki kursi di depan peserta, berdekatan dengan narsumb. Yaya, tidak PD akutku membuatku lebih nyaman di belakang, toh depan belakang juga sebenarnya nggak ngaruh, yang penting aku mudeng, dan bisa mengartikulasikannya dalam kata-kataku.

Baca lebih lanjut

Iklan

Begadang Lagi

Untuk kali keberapa ini ya, aku kembali nyoba begadang di warnet. Pengennya seh segera kelarin tugas UAS yang masih tersisa. Setalah itu, aku bisa bernafas agak lega untuk fokus mikir skripsi, yang mau tidak mau harus aku tuntaskan dalam sisa waktu batas akhir beasiswaku. Mikir skripsi, aku pengen ngerjain dengan serius dan total tal! kali ini yang sudah agak mantep di kepala sih, analisis ketidak adilan gender terhadap pekerja perempuan kepala keluarga di dusunku.

Meski kemarin ada dosen yang bilang, ga papa aku kerjain yang gampang, semisal tentang penanggulangan korupsi dari perspektif Relawan Anti Korupsi di MCW, biar sambil menyelam minum susu gitulah pertimbangannya. tertarik juga seh, tapi lebih tertarik lagi buat meneliti all about gender, selain ada misi tersendiri untuk mengenalkan kampung terpencilku pada khalayak ramai.

Gak terasa kuliah kok tinggal selangkah lagi, perasaan baru kemarin mikir bisa sampe lulus ga ya kuliahku. Ternyata tinggal selangkah lagi sekarang. Well, sebelum benar-benar dihadapkan pada dosen pembimbing, saat ini aku juga sudah mulai mikir langkah hidup selanjutnya setelah kuliah ini. Aku selalu berdo’a dengan segenap jiwa, semoga keputusan untuk bergabung di MCW adalah salah satu penentu langkah hidupku jauh ke depan. Tidak hanya untuk saat ini saja.

Baca lebih lanjut

Bagaimanapun, Korupsi Bermula Dari Pikiran

Ini seputar kegiatan dua hari di Surabaya seminggu lalu, tepatnya 24-25 November, kegiatan yang diprakarsai Malang Corruption Watch (MCW), Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) dan Jaringan Anti Korupsi Jawa Timur yang didonaturi oleh Partnership ini mengusung tema “Konsultasi Publik, Sosialisasi RUU Pengadilan Tipikor”. Seminar regional ini mengundang Budayawan Jatim yang lahir dan tinggal di Madura, Zawawi Imron dan Mantan Ketua PWM. Muhammadiyah, Syafiq Mughni, yang berkesempatan menuangkan pemikiran mereka untuk memerangi korupsi dari perspektif masyarakat sipil.

Ternyata perlawanan terhadap korupsi tidak cukup dengan penegakan hukum ataupun melalui pengesahan pengadilan Tindak Pidana Korupsi semata. Hal lain yang dianggap sepele namun sebenarnya sangat krusial adalah pemahaman arti korupsi itu sendiri, demikian papar Syafiq Mughni mengawali perbincangan siang itu. Menurut pria kelahiran Paciran Lamongan itu, paradigma korupsi sebagai tindakan yang merugikan publik dalam wujud materi adalah sebuah kesalahan besar. Korupsi lebih dari sekadar ukuran materi, sebab korupsi adalah saat orang tidak ambil peduli ketika mengetahui ia memakan hak orang lain.

Baca lebih lanjut

Bersama, Binasakan Para Kleptokrat

Sebenernya agak sedih ketika melihat tulisan ini dimuat dengan nama lain. Asli tulisanku, aku cuman pinjam nama anak itu. Biasalah, orang kalo kepepet pasti berpikir singkat. Tapi biarlah, ini memang murni karyaku. Maka menjadi hakku sepenuhnya untuk memerdekakan tulisan ini melalui blogku.

Korupsi adalah jajanan basi yang terus beredar di negeri ini. Tidak hanya satu dua pejabat yang menyuguhi jajanan menggiurkan tersebut. Namun hampir semua pemangku kebijakan negeri ini tersandung masalah yang sama. Korupsi, korupsi dan korupsi. Begitu akrabnya istilah ini sehingga masyarakat luas sudah nyaris muntah kekenyangan jika ada kabar baru yang memberitakan tindak korupsi.

Korupsi yang mengadopsi bahasa latin, corruptio ini memang mempunyai arti busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik dan menyogok. Sedangkan menurut Transparency International, korupsi merupakan perilaku pejabat publik, baik politikus, politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri mereka atau orang-orang terdekat mereka dengan menyalahgunakan kekuasaan yang dia miliki.

Baca lebih lanjut

Hallo Apa Kabar?

Hallo apa kabar? Lumayan lama aku gak posting. Tadinya mau posting catatan selama KKN kemarin, tetapi ternyata belum aku masukin Flash. Jadilah posting ini sekadarnya ajah.

Well, gak terasa sudah seminggu lebih romadhon berjalan. Selain karena aku belum puasa sama sekali karena kebocoran ini, juga karena suasana romadhon di Malang memang jauh berbeda dengan di rumah. Jadi romadhon kali ketiga aku di Malang ini juga terasa biasa aja. Gak da hal menarik yang beneran menarik hasrat. Meski begitu, sempat baca opini Haidar Nashir di Kompas awal puasa lalu juga patut direnungkan sampai sekarang.

Yah, romadhon memang momen yang baik bagi manusia untuk bertransformasi sesuai apa yang dipengenin. Paling gak, aku berharap dalam romadhon ini Tuhan bermurah hati mengizinkan ini adalah romadhon terakhir aku di Malang. Semoga romadhon tahun depan aku sudah berada di lain tempat lengkap dengan kerjaan mapan. Amiin..

Baca lebih lanjut