Mereka, Konon Kunci Surgamu

Ada yang udah baca Mbak Vanka? Kalo belum, bolehlah dibaca dulu J

Well, di antara banyak laki-laki yang kehilangan kepergian Mbak Vanka, saya hanya pernah bertemu dengan lima orang saja dari mereka. Inilah mereka: Baca lebih lanjut

Iklan

Sejauh Apa Mengenali Diri Sendiri?

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti Capacity Building untuk Pendamping Korban Kekerasan yang diadakan oleh Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Jatim, sudah ada yang tau apa itu PPT? Sila cek ke Pak De gugel. Hehe

 Ada satu sessie dimana saya akhirnya maju menjadi kelinci percobaan dalam acara tersebut, narasumber yang merupakan Doktor Psikologi Klinis, Bu Elly mempraktekkan salah satu metode scanning untuk melihat daya tahan Klien ketika menghadapi masalahnya. Metodenya terlihat sangat mudah, karena saya hanya berbaring di lantai dengan posisi telentang, sementara seorang teman memegang kedua kaki saya, dan bu Elly hanya menggoyang-goyangkan badan saya. Lalu beliau bilang: dia psikosomatis! Bagian tubuh yang paling sering sakit adalah perut, bener kan? Kata beliau. Saya nyengir.

Model seperti ini, ketahanannya terhadap masalah adalah pengalihan, lanjut beliau. Saat dia bermasalah, dia akan menyelesaikannya dengan mengalihkan ke kegiatan lain, bisa bepergian, bisa apapun, yang jelas mengumpulkan lagi energi dan amunisi untuk menghadapi masalahnya. Baca lebih lanjut

Kartini di Tengah Genggaman BlackBerry

Raden Ajeng Kartini menjadi tonggak sejarah penting kebangkitan perempuan –Jawa khususnya- untuk melawan budaya yang menjadi penghambat pergerakan perempuan. Egoisme budaya patriarkhi lah yang melahirkan stereotyping berkepanjangan terhadap para perempuan, tak ayal jika terdapat perempuan yang memilih berbeda dengan perempuan kebanyakan, dia kerap dianggap melawan kodrat.

Meski begitu, seiring perkembangan jaman, pergerakan perempuan toh mengalami progresitas yang cukup berarti, hal itu terjadi entah karena para perempuan ini memang terus berjuang tanpa henti atau karena tumbuh kembangnya kesadaran masyarakat akan kesetaraan, sehingga mereka memberi ruang yang cukup bagi perempuan agar tidak semata berkutat dalam ranah domestik.

So, tidak mengherankan jika banyak perempuan yang saat ini bekerja sebagaimana kerjaan yang selalu diidentikkan dengan para lekong. Sopir, Kondektur, Pilot dan Tukang Ojek adalah salah satu contoh kecil dari pekerjaan macho itu.

Dalam tataran yang lebih tinggi, yang menuntut intelektualitas dan kapabilitas sebagai sesama warga Negara, perempuan pada akhirnya dapat menikmati jabatan yang sebelumnya juga seolah-olah hanya menjadi ranah laki-laki, Bupati dan Presiden misalnya, meski baru satu kali Indonesia dipimpin Presiden Perempuan, tapi itu menjadi tonggak keberhasilan perjuangan perempuan  yang tidak bisa dihapus dari sejarah.

Dalam kancah politik pragmatis, sudah bukan hal asing perempuan dicalonkan dari Parpol yang menaunginya, proses inilah yang mengantarkan perempuan untuk bisa menjadi wakil rakyat atau anggota dewan. Meski kuota untuk mereka baru 30 persen, tapi hal ini cukup meyakinkan perempuan untuk terus melangkah dan bersaing dengan para kompetitornya yang sebagian besar adalah para kaum adam.

Baca lebih lanjut