Tempora Mutantur, et Nos Mutamur in Illis

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa diceritakan dalam hidup ini. Tentang diri kita, teman, tetangga atau juga orang yang baru kita kenal. Tidak harus ngeblog, kita bisa juga pura-pura posting pake Komputer sendiri. Semua tergantung kita mau apa tidak. Dan aku, sudah agak lelah dengan ketidak mauanku. Aku ingin meluapkan kemauan ini. Sudah lama rasanya aku ingin menulis, menulis dan terus menulis. Sehingga, percakapan dengan orang lain pun terbatas. Tidak bicara kecuali ada kepentingan, menggosip pun harusnya hanya lewat tulisan. Tapi, gak kebayang juga gimana bau mulut orang-orang seandainya semua benar terjadi seperti itu. πŸ™‚

Well, ini tentang tulisan yang aku baca di Kompas edisi 14 July kemarin. Walau sudah lumayan kering, tetapi aku tetap tidak bisa melupakan tulisan dengan judul Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan Ngelmu itu. Banyak petuah hidup yang aku dapat dalam tulisan itu, bahwa The Survival of The Fastes atau dalam bahasa yang lebih aku pahami yang bertahan yang paling cepat, daripada The Survival of The Fittest yang bertahan yang lebih kuat.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tertohok Itu Indah…

Jika Arai, tokoh fenomenal tetralogi Laskar Pelangi bisa membuktikan kebenaran prinsipnya: Bermimpilah, karena Tuhan akan Memeluk Mimpimu. Maka aku hanya bisa memegang kebenaran: Tertohoklah, karena tertohok itu Indah πŸ™‚

Bermula dari keluh kesah pada sepupu kemarin, ketika aku mengeluhkan kegiatanku sekarang. Nganggur dan tidak jelas, meski masih terus nyoba nulis, tetapi hasilnya masih belum jelas juga. So, aku mengeluh jika hidup seperti ini sangatlah tidak enak. Tidak kuliah, gak laku-laku. Kegiatanku hanya berkutat pada kamar kos yang debunya sedengkul ini. Resiko jadi pengangguran, makan minum pun tak pernah tenang. Otomatis, teringat lagi aku pada Koran Kampusku. Seandainya masih di sana, aku mungkin bisa ngenet gratis, bisa becanda tawa sama teman di sana, atau sekadar cuci mata ngeliat Cleaning Service kampus.

Jadilah aku berkesah pada sepupuku ini, bahwa ternyata kita tidak sekadar butuh materi ketika mempertahankan sesuatu yang selama ini kita anggap bagian hidup kita. Ada hal-hal yang tidak bisa dirasionalkan. Dan itu bukan sekadar kalkulasi materi. Maka, tertohoklah aku dengan jawaban mantap sepupuku. β€œNah, akhirnya ngerasain juga? Tidak semua kebahagiaan hidup hanya pada kalkulasi angka, terlalu banyak bahagia yang justru tidak logis, tanpa kalkulasi,” Sungguh, dia masih inget percakapanku bebrapa waktu lalu.

Baca lebih lanjut

Aku Masih Tidak Cukup Tegar..

Aku paling benci orang munafik. Dan karena aku tidak ingin menjadi bagian kemunafikan itu, aku harus jujur pada diriku. Kejujuran itu bisa aku tuangkan di sini, rumah ceritaku. Aku terus terang masih sedih menerima kenyataan skorsingku. Bukan apa-apa, aku hanya merasa semua yang sudah aku pertaruhkan untuk Koran Kampusku akhirnya sad ending seperti ini. Meski bukan akhir dari segalanya, tetapi diskorsing dari media kecil yang selama ini cukup menjadi kebanggaan bagiku adalah pukulan yang masih menyebabkan aku sedikit sakit. Dan jawaban imel seperti inilah yang ingin aku perlihatkan untuk kedua temenku yang bernasib sama. Bilapun nanti kita bener-bener tidak kembali ke sana, maka itu adalah really keinginan kita. Bukan tekanan siapa-siapa…

Tum, orang usah nangis bercucuran air mata. Menurutku kamu justru layak membusungkan dada. Keluar dari sistem yang tidak jelas itu karena sebuah prinsip. It’s cool..

Pada waktunya, kepompong toh harus meninggalkan sarangnya. Dia jadi kupu-kupu. Dari yang semula menjijikkan bagi banyak orang, kepompong itu berubah jadi kupu-kupu yang tak seorang pun membantah kecantikannya.

Baca lebih lanjut