Siapa Berebut Shiny?

 

Mbak, apa ada semacam dana BOS gitu untuk anak berkebutuhan khusus seperti anak saya? Anak saya Delay Motorik, kemarin saya sekolahkan di yayasan yang cukup mahal, tapi sekarang saya tidak ada biaya sebanyak itu untuk tetap menyekolahkan dia di sana.

Begitulah awal perbincangan yang kemudian menjadi cerita panjang antara saya dengan bu Rianny, anggap saja namanya begitu. Perempuan berusia 37 tahun ini single parent, bercerai sudah sekitar tujuh tahun lalu dari suaminya. Alasan perceraian karena suami tidak pernah menafkahinya, sementara yang dia tahu suaminya berasal dari keluarga yang cukup berada.

Usut punya usut ternyata suami justru menafkahi ibunya, alias mertua bu Rianny. Gaji yang diperoleh suami bu Rianny, semua diserahkan pada ibunya, sementara bu Rianny diam patuh dengan tetap tinggal di rumah mertuanya, dia bertahan, menunggu mertua dan suaminya sadar jika perlakuan yang diterimanya jelas tidak benar.

Suami tak kunjung berubah, mertua tidak juga mengalah, dengan proses yang berdarah-darah, hehe.. resmilah bu Rianny berpisah. Baca lebih lanjut

Iklan

Siapakah Dia Social Worker?

Bu, sms-in gw dunk teori yang menyebutkan jurnalis sebagai bagian dari social worker…

Jeblar, bagai ditampar Sundel Bolong pas aku baca penggalan sms di atas. Sms dari seorang teman yang ngotot banget pengen jadi Social Worker sedari belum lair. Hehe..

Well, tulisan ini mungkin tidak menarik, tapi ini benar-benar penting bagiku, sebab postingan ini sekaligus juga sebagai pemenuhan janjiku pada satu teman yang lain yang ada di USU sana, Erviana Filiang, thanks Sist, kupenuhi janjiku padamu.

Siapakah sebenarnya social worker? Aku sudah sering mendiskusikan ini, dengan setengah ngotot pada beberapa dosenku dulu, menurut pemahamanku, semua orang toh pada dasarnya bisa dibilang social worker, karena aku yakin semua pekerja tentu tidak hanya bekerja hanya untuk pribadi dia, tapi saling berkesinambungan menyelamatkan hidup orang lain, meski tidak secara langsung, dan atas dasar asumsi inilah aku mengkategorikan bahwa Social Worker tentu saja kemampuan yang tidak membutuhkan spesifikasi ilmu tertentu, sebab semua manusia toh makhluk sosial yang tidak mungkin asosial. Maka pekerjaan dia yang berdampak pada kehidupan sosial sebagian manusia yang lain tentu saja bisa dibilang sebagai pekerjaan sosial. Baca lebih lanjut

Sedikit tentang Jurusanku

Beneran gile nih, keasyikan Facebooking jadi males bener mau posting. Tapi gapapalah, demi sebuah janji pada sesorang yang mau aja aku komporin. 🙂 Hallo Ika, walau belum bersua, semoga kamu ga kecewa ya pas baca ini?

Oke, dengan segala ketulusan, aku emang pengen bener menuliskan semua hal tentang kuliahku, lebih khusus lagi tentang jurusanku, Ilmu Kesejahteraan Sosial. Sebenarnya dari dulu, ketika Mbak Iparku, Lode, ngasih saran yang lumayan penting buatku untuk posting all about jurusanku sebagai media promosi yang paling yahud, juga untuk mengikis ketidak percayaan diriku atas jurusan yang aku pilih ini, aku sudah pengen banget posting tentang semuanya. Kata-kata Lode yang paling aku inget waktu itu “Posting aja tentang jurusanmu Tum, biar orang tuh kalo mau nyari tentang Ilmu Kesejahteraan Sosial udah langsung akses ke blogmu,” thats good idea, meski baru terlaksanan jauh-jauh hari setelah dia usulkan.

Tengkiu juga buat Ika, yang secara langsung telah menjadi pengingatku untuk posting tentang ini. Well, Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS), yang menjadi salah satu pilihan program dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM merupakan jurusan paling tua di UMM, jurusan ini pada mulanya adalah salah satu Fakultas di UMM, meskipun pada perkembangannya kemudian menjadi salah satu program jurusan.

Baca lebih lanjut

Taruhlah 5 Cm Tepat Depan Jidatmu!!

Mantapz! Gak da kata lain selain itu untuk buku yang sedari 2005 lalu pengen aku beli. Aku sudah tertarik banget waktu liat sampul itemnya, dengan judul yang cukup absurd, penuh godaan. Singkat, padat dan kenyal. Mak Crot! Hanya saja, waktu ke Gramedia ketika itu, waktu aku sudah mupeng banget dengan memegang bukunya, Mbak Kosku yang mirip Geisha bilang: “Aduh Dek, buku apa ini? kok kamu gak jeli seh kalo milih buku, cermati dulu pengarangya, liat juga penerbitnya,” aku langsung ho’oh aja mengembalikan buku item itu di raknya semula. Jadilah aku beli Kembar Keempatnya Sekar Ayu Asmara sebagai penggantinya, meski cukup bagus, tapi lebih hebat buku item itu. Susah ngejelasinnya..

Semua berawal dari persahabatan Arial, Ian, Riani, Zafran dan Genta. Serasa menceritakan persahabatan dan segenap mimpi gilaku dan para Gankgong, Aku Nisa (situakerdilmentalpembantu), Sang Populis Suwarni Puji Lestari (SPL), Aulia RahmamatiJ, Pinandu (sitebarpesonatakunjunglaku) dan Desy Ayu Pirmasari (singarepemelmabule) Haha..

Masing-masing kami punya mimpi yang dengan cara kami pula, tak berhenti mewujudkannya. SPL misalnya, dia punya mimpi tinggi untuk menjadi Mendiknas RI, sering pula dia pengen gantiin SBY cepet-cepet. Usahanya tidak tanggung-tanggung, sedari awal kuliah dia tanamkan benar keinginan itu, sehingga dia pun melibatkan diri dalam organisasi kampus yang kemudian mengantarkannya menjadi Ketua Senat Mahasiswa Universitas beberapa waktu lalu, karena jabatannya itu, dia nyaris keliling Indonesia gratis. Kemana-mana bo’! difasilitasi kampus lagi. Weleh-weleh, jadi pejabat emang sedap..

Baca lebih lanjut

Menyelami Masa Depan Kaum Nelayan Indonesia

Lama ga posting. Aku jadi malu sendiri, niat hati mau rajin beribadah dengan blog, ternyata glodagk! Tapi usaha tetep jalan kok. Ini salah satu bentuk usaha itu, aku membongkar tulisan yang ditolak media. Ternyata lumayan banyak, meski lebih banyak yang aku hapus 😦 Ya, memang bisa aja seh dikirim ke media lain. Tapi takut ditolak lagi. Yawislah biar lebih merdeka diposting aja. HaHa..

Indonesia merupakan salah satu Negara maritim yang memiliki pantai terpanjang di dunia, dengan garis pantai lebih 81.000 km. dari 67.439  desa di Indonesia, kurang lebih 9.261 desa dikategorikan sebagai desa pesisir. Karena berada di pesisir, dapat dipastikan mata pencaharian terbesar penduduk pun melaut, menangkap ikan di laut atau lebih populer dengan sebutan nelayan.

Nelayan di Indonesia merupakan kelompok sosial paling miskin setelah petani. Nelayan lebih memiriskan lagi, dalam penjabaran buku Kusnadi (Yogyakarta: LKiS, 2002), dua faktor mendasar yang menyelimuti nelayan adalah  faktor alamiah dan dan non alamiah. Dimana, faktor alamiah berkaitan dengan fluktuasi musim-musim penangkapan dan struktur alamiah sumber daya ekonomi desa. Sedangkan faktor non alamiah berhubungan dengan keterbatasan daya jangkau teknologi penangkapan, ketimpangan dalam sistem bagi hasil dan tidak adanya jaminan sosial tenaga kerja yang pasti.

Baca lebih lanjut

Lagi, Luka Selaput Dara

Ini adalah catatan tentang praktikum di Panti Sosial kemarin. Hampir sebulan di Panti itu, hanya satu kasus yang pengen aku bagi di sini. Semua bermula dari sore itu, ketika pandanganku tertuju pada sosok gadis dekil, dengan banyak lalat yang menghinggapi jilbab yang ia kenakan. Darah kering di hidungnya. Aih.. Jijik betul rasanya.

Tapi itulah dia, perempuan berusia di bawah tujuh belas, yang menjadi penghuni paling merepotkan di panti itu. Dia sering meludah sembarangan, berteriak-teriak kencang! Marah-marah tidak keruan. Hingga menjerit bak kesurupan. Untunglah, hampir sebulan dia menghuni, dia tidak lagi separah dulu, awal menginjakkan kaki di Panti. Panggil saja dia Aya.

Karena sangat tertarik pada sosoknya yang menjijikkan, pandanganku nyaris tidak terlepas dari Aya, pun pada waktu belajar bersama. Aku melihatnya dengan seksama ketika ia menggambar naga merah besar yang menghembuskan api menyala. Lumayan menyeramkan. Ketika aku mendekatinya, ternyata dia sangat gusar. Dilemparnya tanganku yang mencoba menggapai bukunya. Dia meneriakiku dengan kasar. Aku makin tertarik jadinya. Apa yang menyebabkan Aya seperti ini?

Baca lebih lanjut