Tak Ada Ibu yang Tak Hebat, Begitu Juga Mak’e :D

Tulisan ini saya dedikasikan untuk perempuan yang kini mulai merenta, yang akhir-akhir ini seringkali saya rindu, telah membesarkan dan menghidupi saya bersama tujuh saudara saya yang lain. Saya tidak tahu apakah ukuran bakti seorang anak terhadap ibunya? Semua anak toh nantinya jadi orangtua anak-anaknya, tapi saya hanya takut tidak bisa menjadi orangtua sehebat emak saya. Inilah yang bisa saya tuliskan untuk perempuan sakti perkasa yang dengan seluruh nafasnya mendoakan saya, mengajarkan kami berbagai keajaiban dengan cara sangat sederhana.

Ya, Mak’ e, perempuan sederhana, perempuan kampung, sekolah hanya sampai Madrasah, dan sudah menikah sedari usia belasan. Menjadi saudara tertua dari tiga saudaranya yang lain membuat Mak’ e biasa mengalah, berbagi sebisanya dengan adik-adiknya karena himpitan ekonomi orangtua. Baca lebih lanjut

Iklan

Kedamaian Kamar Sebelah

Terimakasih kawan, perbincangan sekitar satu jam denganmu tadi pagi sungguh amat mencerahkan. Inilah makna perkawanan yang lebih indah dari sekadar ngakak bareng, inilah sesungguhnya makna berbagi yang sering kita agungkan, bahwa aku dan kamu, saling mengisi dan menemukan jawaban tanya dari jiwa kita masing-masing.

Dian, -bahkan aku belum tahu nama lengkapmu- adalah salah satu teman di kosan baru yang sudah dari September lalu aku tempati, tapi kedekatan dengan para penghuni kos ini baru berlangsung kira-kira sebulan ini. Jika selama ini kami hanya saling sapa dan berbincang seadanya, maka dalam sebulan ini hubungan sesama kami mulai lebih dari itu, bahkan dalam beberapa malam seminggu lebih, aku dan kawan-kawan baruku ini punya ritual baru, menonton film rame-rame di kamarku.

Dan pagi tadi, aku merasa benar-benar punya teman ketika tanpa sengaja ngobrol dengan Dian, meski mulanya dia hanya iseng menggoda agar aku tidak molor bangun, tapi akhirnya obrolan kami mulai serius, mengarah pada hal yang bagi sebagian besar orang –mungkin- sangat sensitip, yakni masalah keyakinan. Dian yang kebetulan minggu kemarin baru merayakan Paskah ini membuatku tersadarkan, bahwa keimananku perlu diupgrade kembali. Baca lebih lanjut

Mujahid di Mata Emakku

Ini oleh-oleh mudikku kemarin, aku kaget bukan main ketika salah satu Kakak perempuanku dengan amat sangat antusias memperlihatkan cd tayangan proses penguburan Amrozi bersaudara. Bukan apa-apa, aku memang sengaja menghindari berita seputar ketiga orang itu. Malas aku mengikuti perkembangan beritanya sejak menjelang eksekusinya. Gak tau kenapa.

Maka demi menghormati semangat Kakakku, aku pun bersedia menonton tayangan dengan durasi hampir satu jam itu. Tidak hanya proses penguburan, tayangan video itu juga berisi rekaman Mukhlas ketika menyampaikan wasiatnya, juga ada Imam Samudera ketika diwawancarai beberapa jurnalis, termasuk Jurnalis asing yang banyak mengorek informasi darinya.

Dalam proses penguburannya di Tenggulun sana, tampak dari tayangan video itu banyak sekali orang yang mengelukan Amrozi bersaudara, banyak dari mereka mengepalkan tangan, berteriak “Allahu akbar” aku makin negri, aku memang sering ngeri jika mendengar kalimah itu diucapkan dengan serentak mengepalkan tangan penuh semangat, mereka seolah siap melumatkan semuanya dengan kepalan itu. Benarkah mereka akan menghancurkan semuanya?

Baca lebih lanjut

Salah Dua Celah Itu..

Lokasi KKNku memang sedikit unik. Sebab kawasan Kare merupakan kecamatan terluas di Kabupaten Madiun. Bentuknya memanjang seluas 17.776,615 Ha. terbagi 8 desa terdiri dari 33 dusun 227 RT. Desa Mbodag, mBolo, Kepel, Kuiran, Kare, Randualas, Cermo, Morang memanjang di perbukitan kaki gunung Wilis 27 km timur Madiun. Masyarakatnya sebagian besar bekerja sebagai petani dan buruh tani ini cenderung modern menurutku.

Dan memang benar, menurut aparat desa setempat, Kare sudah tidak membutuhkan penanganan lain. So, kami sempat kelabakan mau berbuat apa di situ. Selain terhambat kemajuan desa, lokasi KKN juga terbentur pada perbedaan organisasi keagamaan setempat. Informasi yang lebih dulu kami terima adalah Muhammadiyah -yang notabene naungan kampus kami- termasuk minoritas di Wilayah Kare ini. Hal ini menyebabkan apatisme masyarakat Kare terhadap segala hal yang berbau Muhammadiyah juga patut diwaspadai. Tidak tanggung-tanggung, yang menjelaskan hal tersebut panjang lebar adalah Pengurus Cabang Muhammadiyah Kare, yang otomatis merupakan Bapak Kos kami, para cewek.

Banyak hal yang beliau paparkan tentang perbedaan itu. Begitu ekstrim dan sangat asing di telinga. Satu-satu di antara kami bahkan ditanyai dari organisasi islam mana kami dibesarkan? Oh God! Meski mengenyam pendidikan di Muhammadiyah sedari lahir, aku tidak pernah diinvestigasi seperti ini. Dan walau kami berasal dari Universitas Muhammadiyah Malang, kami tidak pernah ditanya langsung oleh Rektor atau pejabat kampus yang lain seputar hal tersebut. Justru Kampus kami sangat terbuka menerima mahasiswa dari berbagai belah dunia, agama, suku ras dan segala macamnya. Meski kampus Islam, berbasis Muhammadiyah, toh kampus tidak pernah mewajibkan mahasiswanya berjilbab pada jam kuliah, semuanya bebas. Asal beradab..

Baca lebih lanjut

Lagi, Luka Selaput Dara

Ini adalah catatan tentang praktikum di Panti Sosial kemarin. Hampir sebulan di Panti itu, hanya satu kasus yang pengen aku bagi di sini. Semua bermula dari sore itu, ketika pandanganku tertuju pada sosok gadis dekil, dengan banyak lalat yang menghinggapi jilbab yang ia kenakan. Darah kering di hidungnya. Aih.. Jijik betul rasanya.

Tapi itulah dia, perempuan berusia di bawah tujuh belas, yang menjadi penghuni paling merepotkan di panti itu. Dia sering meludah sembarangan, berteriak-teriak kencang! Marah-marah tidak keruan. Hingga menjerit bak kesurupan. Untunglah, hampir sebulan dia menghuni, dia tidak lagi separah dulu, awal menginjakkan kaki di Panti. Panggil saja dia Aya.

Karena sangat tertarik pada sosoknya yang menjijikkan, pandanganku nyaris tidak terlepas dari Aya, pun pada waktu belajar bersama. Aku melihatnya dengan seksama ketika ia menggambar naga merah besar yang menghembuskan api menyala. Lumayan menyeramkan. Ketika aku mendekatinya, ternyata dia sangat gusar. Dilemparnya tanganku yang mencoba menggapai bukunya. Dia meneriakiku dengan kasar. Aku makin tertarik jadinya. Apa yang menyebabkan Aya seperti ini?

Baca lebih lanjut