Semesum, Bukan Semusim

Dasar bocah semprul, kedua lelaki dewasa itu benar-benar tak kumengerti. Meski benar-benar bermaksud ngebanyol, tapi tatapan mereka masih melambai-lambai dalam benakku yang terdalam.

Memang ini lagi ngomongin apa se? Ya, ini cerita konyol perjalananku ke Probolinggo kemarin, selain masih ada bahan tulisan lain yang lebih menggelitikku, tiada salahnya kekonyolan ini aku muntahkan lebih dulu.

Sore setelah acara pelatihan itu, aku dan beberapa kawan masih dipaksa melayani peserta yang masih belum puas dengan materi yang disampaikan  oleh sesepuh suku kami, maka dengan muka sebal semanis mungkin, duduklah kami sembari berpura-pura dengan antusias menyimak bahan obrolan. terutama aku, yang menjadi satu-satunya bidadari paling celaka di antara para lelaki dewasa itu, senyum-senyum simpul dan mengerjap penuh harap agar mereka segera mengakhiri perbincangan dan kami bisa melanjut perjalanan kembali ke Malang, bukan saking tidak betahnya di Probolinggo, yang seumur-umur memberiku suguhan menarik karena nyamuk hotelnya, tetapi ini karena esok subuh kami mesti melanjut perjalanan ke Ponorogo. So, tubuh nan tipis ini akan makin mengekeret jika berlama-lama menduduki kijang tua sebagai kendaraan kebesaran aku dan beberapa kawan selama ini.

mula-mula mereka ngomong tentang pendidikan, mulai dari pergeseran paradigmanya hingga pada politisasi pendidikan yang masih sering digunakan senjata paling ampuh oleh mereka yang menginginkan kekuasaan, setengah hati aku menyimak, agak bosan soalnya, hingga tibalah pada detik yang membelalakkan mata sipitku dengan paksa, mereka ngomongin tentang zina..

Dodol sumeradol, bertepatan dengan meluncurnya kalimat ini:

Memang bener-bener, praktek zina itu sudah sedemikian melebar, menimbulkan dampak psikis-sosial, entah dengan cara apa membuat para pelakunya sadar..,”

Bertepatan dengan meluncurnya kata-kata si Bapak,   salah satu kawan langsung menatap ke arahku dengan spontan, sialnya langsung diikuti tatapan yang lain, sekitar 6 laki-laki dewasa itu menatapku bersamaan, dengan tatapan aneh, loh, maksudnya apa sih?

Aku makin salting, ini orang kok bisa berlaku seperti ini? kusambar HP dengan asal, kubenamkan mukaku penuh  khidmat, sibuk pencet sembarang. Setelah itu kutatap lagi mereka, perbincangan mulai ganti topik, aku tatap temanku setengah mendelik -karena mataku tak bisa dipake mendelik dengan benar- maksud tatapanku sederhana, meminta kejelasan makna tatapan mereka.

Dan jawaban itu baru aku peroleh hampir satu jam kemudian, dalam perjalanan kami pulang, kurang lebih inilah jawabannya:

Karena selama ini kamu tuh paling vulgar ngomongin all about sex, jadi tatapan tadi juga refleks aja, nggak tau ternyata yang lain tergoda juga untuk menuduhmu sebagai pelaku perzinahan itu, meski hanya dari tatapan mereka, aku bisa simpulkan, sepertinya mereka menuduhmu, haha..”

Aku terbahak, itukah maksudnya? Prestasi bagiku dong kalo mereka benar beranggapan demikian sambil terus berpikir mencari kebenaran. Well, mungkin inilah sedikit kebenaran itu.

Kita masih sering terjebak pada paradigma pintas, tanpa lebih dulu menelaah tampilan maupun perilaku seseorang, ada yang blak-blakan ngomongin seks, orang sudah beranggapan dia pemain tangguh, ada yang bertindik tatoan, sudah dianggap preman, berpendapat dengan vulgar juga sering dianggap pembangkang, amoral, dan sebutan lain yang kadang menyudutkan. Aku kurang sepakat dengan cara berpikir seperti itu.

Bukan apa-apa, pengalaman yang mengajariku banyak hal, teman-temanku yang setauku pecandu, MBA, aborsi bahkan ngeseks dengan gontati pasangan rata-rata justru mereka yang lama hidup di Pesantren, cenderung alim dan tak berkata kasar, tampilan mereka pun amat sangat sopan, berdosa rasanya jika berpikiran buruk tentang mereka, padahal…

Dalam keterpingkalanku aku terus berpikir, kalo benar tatapan para lekong itu bermakna demikian, harusnya aku bangga karena dua hal, satu: dengan anggapan seperti itu, maka pendapatku tentang tiadanya laki-laki yang bernapsu atasku sedikit terpatahkan 😛

semesum itukah mukaku? 😀

kedua, apa ya? aku lupa. haha…

Iklan